• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005
    Gempa Bumi

    Amblas Setelah Berguncang

    SUDAH dua pekan, Haji Fadlil, 60 tahun, memilih menetap di kapal tongkang itu. Dari buritan kapal, terdengar suara panci aluminium mendesis. Raihana, istri Fadlil, rupanya sedang repot memasak ketupat. Tiga orang bocah bercanda di atas kasur sampai seprainya berpilin-pilin. Suara tawa mereka begitu renyah seperti mantra pengusir kesedihan. Di luar senja mulai turun. Sekawanan camar terbang berkejaran di atas buih ombak Samudra Hindia. Gelombangnya menggoyang lambung tongkang itu, yang kini menjadi rumah bagi Fadlil dan keluarga.

    Ratusan tongkang dan jukung nelayan kini menjadi tempat mengungsi warga Pulau Banyak, Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam. Letak pulau ini di sebelah selatan ujung barat Pulau Sumatera. Dengan gugusan 99 pulau kecil, Pulau Banyak terpacak antara Pulau Nias dan Simeulue. Inilah pulau yang terjepit di tengah bencana gempa 28 Maret lalu, gempa kedua terbesar setelah tsunami 26 Desember. Bukan hanya Pulau Nias yang rontok, tapi juga kehidupan di Pulau Banyak. Berjarak sekitar 40 mil dari daratan Singkil, nasib warga di Pulau Banyak nyaris terlupakan.

    Raihana berkisah, mereka sekeluarga sudah terlelap ketika tiba-tiba bumi berguncang. Setelah membangunkan seisi rumah, warga berlari lintang-pukang ke dataran tinggi. Kepanikan menyebar. Ratusan warga berkumpul sambil mendaras ayat suci Al-Quran. Anak-anak menjerit menangis. Tragedi tiga bulan silam, saat tsunami menggada daratan Aceh, belum sepenuhnya pulih.

    Bumi bergemeretak selama lima menit. Ketika guncangan mereda, Raihana dan warga ramai-ramai kembali ke rumah masing-masing. Memetik pengalaman pahit saat tsunami sebelumnya, mereka mulai mengangkut semua barang yang tersisa ke atas kapal. "Antisipasi jika tsunami datang lagi," kata Raihana.

    Untunglah, hari itu gempa tidak membawa tsunami. Tetapi, satu gelombang yang tenang pelan-pelan merayap ke pulau itu. Dalam sekejap, air setinggi dua meter sudah mengepung pulau. ''Airnya lebih tinggi dari saat gempa sebelumnya," ujar Raihana. Ribuan rumah warga tenggelam. Sejak itu, Fadlil dan keluarga menetap di atas kapal yang berlabuh sepelemparan batu dari rumah mereka. Rumahnya masih terbenam dalam air setinggi paha orang dewasa. "Entah sampai kapan kami harus bertahan di kapal ini," ujarnya lirih.

    Pemerintah setempat mencatat, dari sekitar 6.000 warga yang mendiami tiga pulau di gugusan Pulau Banyak, 3.751 orang?termasuk 760 anak-anak?kini hidup di pengungsian. Rumah mereka rusak berat diterjang gempa dan empasan ombak. Sebagian bernaung di bawah tenda pengungsian. Sisanya berumah di perahu atau kapal motor milik mereka.

    Mereka yang rumahnya hanya terendam masih bisa bersyukur. Nasib Mastina, 35 tahun, lebih tragis. Warga Teluk Nibung, Pulau Ujung Batu, tak jauh dari Pulau Balai itu kehilangan semua hartanya, hanyut diseret air laut. Rumah gubuknya terlarung air laut pasang. Saat gempa terjadi, Mastina dan keluarganya sempat berlari ke perbukitan. Dari atas bukit, ia menjerit-jerit ketika melihat laut menelan rumahnya. "Tampek tingga kami indak ado lai (tempat tinggal kami sudah tak ada lagi)," ujarnya dalam bahasa Aneuk Jamee, bahasa sehari-hari warga Pulau Banyak.

    Meski sudah sepuluh hari dilanda bencana, tak semua warga tersentuh bantuan. Ketika Tempo mengunjungi kawasan itu pada Rabu pekan lalu, Mastina dan suaminya sedang berusaha mendiamkan bayinya yang merengek lapar. Menurut Ahmad Fauzi, suami Mastina, mereka baru mendapat bantuan tiga hari setelah petaka. Sebelumnya, umbi-umbian dan beras basah sumbangan tetangga digasak untuk sekadar mengganjal perut. "Harta yang tersisa hanya baju di badan," kata pria pemanjat kelapa itu. Ia mengatakan, pernah mendapat bantuan Rp 28 ribu. "Tapi, beli periuk satu, sudah habis uangnya," ujar Fauzi.

    Di Pulau Tuangku, pulau terbesar di gugusan Pulau Banyak, kondisinya tak jauh beda. Di Desa Ujung Sialit, misalnya, warga baru menerima bantuan berupa beras, mi instan, dan minyak goreng pada hari keempat. Memang, sehari setelah kejadian, setiap warga mendapat bantuan Rp 112.500 per keluarga. Tapi, ya itu tadi, dalam kondisi seperti itu, uang tak terlalu berguna. "Kami sekarang lebih butuh tenda di sini," kata Sinema Zega, 26 tahun, warga Ujung Sialit.

    Kondisi tenda pengungsian di lokasi itu memang memprihatinkan. Karena tak kunjung mendapat jatah tenda, warga setempat berinisiatif membangun tenda-tenda darurat dari plastik. Untuk alas, mereka memotong daun kelapa. Karena terbatasnya plastik, sebagian warga menumpang di rumah-rumah yang tak terjangkau air.

    Komandan Komando Distrik Militer Singkil, Letnan Kolonel Ilyas Harahap, selaku ketua tim penanganan bencana alam Singkil, mengakui keterbatasan itu. Kata Ilyas, meski sudah berusaha bergerak cepat, pihaknya terganjal banyak hambatan. "Persediaan tenda kami terbatas, sementara korban sangat banyak," ujarnya kepada Tempo. Masalah lain, transportasi terbatas untuk mengangkut bantuan antar-pulau.

    Bantuan yang disalurkan, menurut Ilyas, terpaksa diatur agar hemat. Pihaknya membagikan bantuan melalui camat untuk jangka waktu tertentu. Data dari kecamatan menyebutkan bantuan beras sudah diangkut dari Singkil dengan Kapal Motor Simeulue. Bantuan itu sudah dibagikan ke warga Pulau Balai, Pulau Baguk, Haloban, Teluk Nibung, Asan Tola, dan Ujung Sialit sebanyak empat ons per jiwa per hari. Selain itu, ada bantuan pejabat Gubernur Aceh Azwar Abubakar, berupa uang Rp 25 juta per desa untuk membantu pengungsi. Catatan sementara, kata Ilyas, pengungsi di Aceh Singkil 30.759 jiwa. Sejumlah 4.682 di antaranya anak-anak.

    Jangankan di pulau, krisis bantuan juga terjadi di darat. Pengungsi di daratan Singkil, misalnya, mengeluhkan hal yang sama. Misalnya Asnidar, 27 tahun, pengungsi dari Desa Kilangan, Kecamatan Singkil. Sudah delapan hari di pengungsian, dia hanya mendapat jatah nasi yang sudah dimasak di dapur umum. "Lauknya cari sendiri. Padahal uang sudah tak ada lagi," ujar ibu tiga anak itu. Lokasi pengungsian sebesar lapangan bola itu dihuni 270 kepala keluarga. Mereka tinggal di tenda pengungsian beralas terpal. Asnidar berharap, pemerintah membangun kembali rumahnya yang rusak parah akibat gempa.

    Memang, dari luar, bangunan di Singkil tampak masih berdiri utuh. Namun, ketika memasuki rumah warga dan sejumlah gedung pemerintahan, banyak bangunan rusak berat. Keretakan menjalar hampir ke setiap sudut bangunan. Sejumlah ruas jalan, terutama dekat pantai, masih tergenang air laut. Bupati Singkil Makmur Syahputra mengatakan, kerusakan bangunan di Singkil hampir 90 persen. Makmur mencatat 397 rumah hancur, 1.573 rusak berat, dan 2.310 rusak ringan. Dari jumlah itu, Pemerintah Provinsi menjanjikan membangun 1.600 rumah papan sederhana. "Dananya memang sangat terbatas, tapi diusaha-kan dapat segera dibangun," ujar Makmur, yang tengah tersangkut perkara korupsi dana APBD Singkil.

    Menurut Makmur, rumah warga terus terendam karena air laut sulit surut. Dia mengutip keterangan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan peneliti asing, bahwa sekitar Singkil dan Pulau Banyak, daratan amblas satu meter dari sebelumnya. Itu sebabnya, Makmur berencana memindahkan sebagian besar warga yang berumah di tepi pantai. "Kita harus mencari pulau yang lebih tinggi," ujarnya.

    Nezar Patria, Yuswardi A. Suud (Pulau Banyak)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif