• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Menangkal Kasak-kusuk Bencana

    TRAUMA mudah berakibat panik. Fenomena itulah yang terasa?terutama di lokasi bencana?setelah Aceh dan sebagian Sumatera Utara dilanda gempa dan gelombang tsunami, 26 Desember lalu. Apalagi setelah gempa juga menggoyang Nias dan Simeulue, dengan korban yang tak layak disebut kecil. Sedikit "rumor" tentang ancaman gempa baru sudah membuat kalang-kabut banyak orang.

    Di Nias terutama, trauma itu berbuntut eksodus. Ribuan orang seperti berlomba meninggalkan "Banua Niha" itu dalam dua pekan terakhir. Entah di mana ujung-pangkalnya, beredar cerita Nias bakal tenggelam?konon begitu kata "orang pintar". Bahkan ada "rincian"-nya: Nias akan tenggelam sebelum 10 April 2005, didahului gempa dahsyat dan terjangan tsunami.

    Kecemasan terhadap gempa baru itu ternyata juga menyebar ke Padang dan Jakarta. Di Padang, banyak penduduk penghuni pesisir mengungsikan keluarganya karena takut terkena gempa dan disapu tsunami. Ketakutan serupa melanda Jakarta. Pertengahan pekan lalu, misalnya, beredar pesan pendek yang mengabarkan, "Menurut CNN, Jakarta bakal terkena gempa besar." Sampai-sampai Badan Meteorologi dan Geofisika kebanjiran telepon dari pagi hingga petang.

    "Kasak-kusuk" hanya bisa subur ketika sistem informasi yang resmi tersumbat atau lamban. Pada waktu sela itulah "sumber-sumber informasi" yang tidak bertanggung jawab, atau sengaja hendak mengeruhkan keadaan, berpeluang mengambil kesempatan. Jika pemerintah memiliki sistem informasi bencana yang andal dan akurat, kebingungan masyarakat tentu bisa diredam dalam waktu singkat. Sistem itu juga sekaligus memberikan peringatan dini sebelum bencana datang.

    Pada saat ini penjelasan resmi BMG tentang ancaman bencana sulit didapat oleh masyarakat. BMG cuma memasok informasi ke lembaga tertentu, dan tidak proaktif menjelaskan ke khalayak. Tengoklah kejadian di Nias. Di sana pejabat setempat berpidato di radio delapan kali sehari, mengimbau warga agar tak melakukan eksodus. Tapi masyarakat tahu, pejabat itu juga bagian dari korban, dan tidak mewakili lembaga yang berwenang menerangkan hal-ihwal cuaca dan malapetaka alam. Pada saat ini diperkirakan, lebih dari 16 ribu warga Nias sudah hijrah ke Sumatera Utara.

    Indonesia perlu belajar dari Jepang. Negeri yang sering dilanda gempa itu pada 1995 pernah dihantam gempa dahsyat. Getaran gempa saat itu meluluh-lantakkan Kota Kobe dan menewaskan 6.500 orang. Namun, setelah itu, negeri itu membangun sistem informasi bencana yang canggih, yang bisa menyampaikan kabar langsung hingga ke ruang tamu rumah penduduk. Dengan sistem itu, penduduk bisa tahu kapan bencana akan datang, sekaligus mengabaikan rumor tentang bencana.

    Indonesia sebenarnya sudah lama merintis pembangunan sistem informasi bencana dan peringatan dini ini. Hanya, tak digarap serius, sampai tsunami menghantam Aceh. Saat ini, untuk memantau bencana di seluruh Nusantara, BMG cuma punya 31 titik pengamatan. Bayangkan: 31 titik untuk mengawasi wilayah yang terbentang 12 ribu kilometer. Idealnya, menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, setiap radius 60 kilometer harus ada satu titik pengamatan.

    Inilah yang mestinya segera dirampungkan pemerintah. Sudah saatnya negeri ini punya sistem informasi bencana yang andal, akurat, dan mudah diakses masyarakat.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif