KENDATI putaran final Piala Dunia baru akan digelar pada Juni tahun depan di Jerman, antusiasme para penggila sepak bola mulai terasa. Mereka telah memborong sekitar 1 juta tiket pertandingan. Padahal harganya tidak bisa dibilang murah, mulai dari Rp 400 ribu sampai Rp 7 juta. "Seingat saya, belum pernah ada Piala Dunia yang menarik minat seperti ini," ujar Urs Linsi, Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).
Salah satu yang menjadi daya tarik hajatan akbar tersebut adalah tampilnya bintang sepak bola dari berbagai negara. Tak hanya bintang lama seperti David Beckham (Inggris) dan Ronaldo (Brasil), tapi juga bintang baru yang bakal muncul. Siapa saja mereka? Dari babak penyisihan mulai mencuat nama yang menonjol. Inilah di antaranya.
Joe Cole
Inggris
Pengakuan untuk Joe Cole, 23 tahun, akhirnya datang juga pada 26 Maret lalu. Sebuah permainan elok di lapangan tengah, dilengkapi sebuah gol yang ikut mengantar Inggris mengalahkan Irlandia Utara 4-0, membuat dia dipuja sebagai bintang baru. Pelatih Inggris Sven-Goran Eriksson pun memujinya. "Bila mampu tampil konsisten, dia akan jadi solusi bagi kelemahan sayap kiri tim Inggris," katanya.
Sejatinya sudah lama Cole diramalkan bakal menjadi bintang. Lahir di London pada 8 November 1981, sejak muda dia memiliki talenta cemerlang. Dengan tinggi hanya 171 sentimeter, Cole memiliki kemampuan mengatur bola dari lini tengah. Dia disebut-sebut sebagai titisan gelandang elegan Inggris Paul Gascoigne, yang menonjol pada tahun 1990-an.
Ketika mulai menangani tim Inggris pada 2001, Eriksson mengaku lebih terkesan oleh potensi Cole daripada Wayne Rooney. Nyatanya, Cole butuh waktu lebih lama untuk matang. Ketika Rooney sudah melejit, ia masih jadi pemain pengganti. Meski sudah 19 kali tampil dan menyumbangkan tiga gol, Cole belum berhasil memamerkan permainan terbaiknya. Eriksson menyebut pemain ini terlalu banyak melakukan trik, sering kehilangan bola, dan kurang mampu membantu pertahanan. Kini Cole telah berhasil mengikis semua kekurangannya. "Untuk perubahan ini, saya harus berterima kasih kepada Jose (Mourinho, pelatih Chelsea)," katanya.
Walau bakatnya sudah terpantau saat bermain di West Ham, Cole memang baru menunjukkan kehebatannya bersama Chelsea, yang diperkuatnya sejak 2003. Ini berkat sentuhan pelatih Jose Mourinho. "Dia membantu menemukan permainan terbaik saya. Dia selalu mengingatkan saya agar bermain lebih disiplin," ujar pemain yang memiliki perusahaan taksi ini.
Eddie Johnson
Amerika Serikat
Lelaki 21 tahun ini sekarang menjadi pujaan baru di tim Amerika Serikat. Ketajamannya merobek gawang lawan mengundang decak kagum. Dalam enam pertandingan bersama tim Amerika, Eddie Johnson telah menceploskan tujuh gol. Artinya, rata-rata satu gol dibuatnya dalam tiap pertandingan.
Berkat gol-golnya, kini Amerika berpeluang lolos ke putaran final di Jerman, karena mereka bertengger di posisi dua klasemen zonanya, di bawah Meksiko. Zona ini akan meloloskan tiga tim terbaik serta satu tim yang berhak melakukan play-off.
Pemuda kelahiran Florida 31 Maret 1984 ini sebelumnya sudah mencorong bersama tim FC Dallas yang berlaga di Major League Soccer (MLS) Amerika. Tahun lalu dia pun menjadi pencetak gol terbanyak dengan 12 gol, dan menjadi pemain termuda yang memiliki rekor sehebat ini. Dia juga pernah memperkuat tim junior Amerika dan berhasil meraih Sepatu Emas dalam kejuaraan dunia.
Kini Eddie Johnson dinilai sebagai striker terhebat yang pernah dimiliki Amerika. Warna kulitnya yang hitam juga membuat sepak bola lebih diminati warga kulit hitam di sana. Pelatih tim Amerika, Bruce Arena, pun memujinya setinggi langit. "Yang membedakannya dengan yang lain, dia berhasil memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya dengan sebuah penampilan bagus," katanya.
Jangan heran jika Eddie diincar oleh klub-klub di Eropa. Pada Januari lalu, dia menolak tawaran US$ 5 juta dari Benfica (Portugal). Kini dua klub besar, Manchester United (Inggris) dan PSV Eindhoven (Belanda), juga tengah mengejarnya. Hanya, dia tak mau terburu-buru memutuskannya. "Saya menikmati bermain di Amerika. Saya masih muda dan masih perlu banyak menimba ilmu di sini," ujarnya.
Robinho
Brasil
Ketika Brasil menjamu Peru pada 26 Maret lalu, penonton disuguhi pertandingan yang monoton. Tak hanya gagal bermain indah, tim tuan rumah juga mandul. Di lini depan Ronaldo berkali-kali gagal memanfaatkan peluang. Penonton lalu meneriakkan tuntutan: "Robinho! Robinho!" Pelatih Brasil Carlos Alberto Parreira tampaknya tak bisa mengelakkan permintaan ini. Robinho diturunkan di babak kedua, menggantikan Juninho.
Dalam pertandingan itu, Robinho gagal mencetak gol. Tapi kehadiran pemain 21 tahun ini dinilai mampu menambah daya serang Brasil. Tim juara bertahan Piala Dunia ini pun akhirnya menang 1-0 berkat gol Kaka di menit ke-73. Sejak itulah nama Robinho mulai diperhitungkan.
Lahir di Sao Vicente pada 25 Januari 1984, pemain yang bernama lengkap Robson de Souza ini dikaruniai bakat yang istimewa. Dia menekuni sepak bola sejak usia 9 tahun dan sempat bermain bersama tim futsal. Lewat permainan sepak bola dalam ruangan inilah dia mengasah kelincahan dan ketangkasannya. Bahkan legenda Brasil, Pele, dengan terus-terang menyebut pemain ini layak jadi penerusnya.
Robinho mulai direkrut klub Santos Brasil pada usia 18 tahun. Dia ikut mengantar tim ini meraih gelar juara liga Brasil pada tahun lalu. Mantan pelatih Santos, Vanderlei Luxemburgo, melukiskan Robinho memiliki kelebihan dalam mengolah bola dan mengecoh lawan.
Kehebatannya membuatnya diburu klub Eropa sejak tahun lalu. Dua klub raksasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona, termasuk yang memburunya. Akhir tahun lalu, dia sebenarnya hampir berlabuh di Real Madrid, tapi kepindahannya terhambat karena ibunya diculik pada 6 November lalu. Sempat disekap selama 40 hari, sang ibu akhirnya dibebaskan setelah ditebus US$ 100 ribu.
Kini Robinho pun kembali memikirkan lagi tawaran dari klub-klub Eropa itu. "Saya ingin menjadi pemain terbaik dunia. Untuk mewujudkan impian tersebut, saya harus bermain di Eropa," katanya.
Ryan Babel
Belanda
Pelatih tim Belanda, Marco van Basten, tak pernah kehabisan stok pemain hebat. Ketika penyerang andalannya, Arjen Robben, cedera, ia segera memasang Ryan Babel, 18 tahun, sebagai penggantinya. Hasilnya? Luar biasa. Dalam penampilannya perdananya melawan tim Rumania akhir Maret lalu, Babel tampil memukau. Dia berhasil melesakkan sebuah gol di menit ke-85. Gol ini melengkapi kemenangan Belanda menjadi 2-0.
Gol Babel adalah sebuah rekor. Dia menjadi pemain termuda kedua yang mencetak gol untuk tim Belanda. Rekor paling muda masih dipegang January van Breda Kolff, yang mencetak gol di usia 17 tahun pada 1911.
Gelandang Giovanni van Bronckhorst menilai kehadiran Babel dan pemain muda lainnya membawa tim Belanda lebih bergairah. "Terjadi keseimbangan antara pemain tua yang berpengalaman dan pemain muda yang berbakat," katanya.
Kehebatan Babel sudah sering dipamerkan saat bermain di Ajax Amsterdam. Di usia muda dia sudah jadi pilihan utama di lini depan. Gol-gol pun terus mengalir dari kaki dan kepalanya. Musim ini sudah enam gol disumbangkannya.
Babel memiliki segala kelebihan sebagai seorang penyerang. Tubuhnya yang besar dan kuat?tinggi 1,85 meter dan berat 78 kilogram?susah dikalahkan di kotak penalti. Dia juga punya dribble ya-hud, tendangan keras, serta operan yang cermat. Gaya dan kemampuannya mengingatkan orang pada Patrick Kluivert pada masa jayanya.
Nurdin Saleh
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

