• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Sang Ustad di Sudut Sinetron

    Sang ustad, ubannya mencorong, kumis dan jenggotnya sarat?sesarat pengalaman hidupnya. Pagi itu, di hadapan ratusan jemaah masjid di sebuah perumahan mewah, ia berbagi cerita. Dan itulah perjalanan spiritualnya yang berawal dari suatu pojok pasar, tempat ia "berdinas" sebagai centeng.

    Bang Malik?demikian panggilan centeng itu?berkeyakinan: kekerasan adalah "bahasa" terbaik. Semua seakan berlangsung wajar, sampai akhirnya ia kehilangan orang-orang tercinta: istrinya, kemudian putrinya. Ia meradang keras. Tangannya semakin ringan dan hidupnya semakin limbung, lalu muncullah seorang kiai yang sanggup memperlihatkan hubungan kondisinya saat itu, kematian istri dan anaknya dengan perbuatannya yang serba beringas. Ia bertobat, dan di layar kaca, ratusan jemaah yang menyimak ceramah Ustad Malik menitikkan air mata.

    Kisah centeng menjadi ustad itu merupakan satu episode sinetron Takdir Ilahi berjudul Dikejar Dosa. Ditayangkan TPI saban Kamis pukul 20.30-22.00, sinteron bernuansa religius itu pekan lalu memasuki episode 7.

    Menurut produsernya, Dondy B. Sudjono, Takdir Ilahi berkisah tentang "tercerahkannya" seseorang dari masa lalunya yang kelam. Kisah sinetron itu bersumber pada dua kitab kumpulan hadis Bukhari dan Muslim, yakni Mi'ah Qishshah wa Qishshah fi Anis ash-Shalihin wa Samir al-Muttaqin yang ditulis Muhammad Amin al-Jundi al-Muttaqin dan Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) karangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

    "Dalam setiap episodenya, Takdir Ilahi mengangkat kisah-kisah lepas yang berbeda," kata Dondy dari rumah produksi Kusuma Esa Permata Media.

    Diakui oleh Artine S. Utomo, Wakil Direktur TPI, Takdir Ilahi adalah upaya untuk mengulang sukses Rahasia Ilahi, sinetron serupa yang juga disiarkan televisi itu tiap Senin malam. Hingga awal April, Rahasia Ilahi mencatat rating 14,9 dengan share 40,2 persen. Sedangkan Takdir Ilahi rating-nya 9,8 dengan share 29,8 persen. Artinya, pada jam itu 29,8 persen pemirsa televisi menonton Takdir Ilahi yang ditayangkan sejak 24 Februari lalu.

    Keberhasilan itu rupanya memicu stasiun-stasiun lain menayangkan acara sejenis. SCTV, misalnya, sejak 28 Maret lalu menyiarkan Astaghfirullah setiap Senin pukul 20.30-21.30. Sinetron produksi Sinemart itu diangkat dari kisah nyata yang dimuat di rubrik "Kesaksian" majalah Ghoib. Disutradarai Chaerul Umam, sinetron itu memusatkan perhatian pada kisah seputar proses penyembuhan manusia yang terkena pengaruh negatif makhluk gaib. "Metode penyembuhannya lewat metode ruqyah, penyembuhan lewat doa-doa dan ayat-ayat yang sesuai syariat," kata sutradara yang akrab disapa Mamang itu.

    Selain SCTV, Jumat malam pekan lalu, Stasiun Lativi juga menggelar tayangan perdana sinetron bernuansa agama: Azab Ilahi. Sinetron produksi Makemotion Films itu juga mengangkat kisah nyata tentang seorang manusia yang terkena "azab" Ilahi atas kejahatan yang diperbuatnya. Episode perdana yang bertajuk Istri yang Teraniaya mengisahkan seorang suami yang lumpuh karena menendang istrinya yang hamil.

    Maraknya sinetron religius di luar Ramadan memang cukup menarik. Lihat saja Astaghfirullah. Manajer Humas SCTV, Haryanto, menyatakan, baru memasuki episode 2, sinetron itu telah mencatat rating cukup bagus, 5,4, dengan share 13,8 persen. Menurut Haryanto, hadirnya sinetron itu merupakan bagian dari strategi SCTV supaya tak kehilangan pemirsa. Hal senada diungkapkan Raldy Doy, Manajer Humas Lativi. Menurut dia, tayangan Azab Ilahi bertujuan memberi alternatif tontonan bagi pemirsa setia stasiun itu.

    Yang jelas, semua sinetron religius itu dalam tayangannya selalu menampilkan sosok ustad, entah di awal, dalam keseluruhan cerita, atau di akhir kisah. Dalam Takdir Ilahi, misalnya, setiap akhir cerita ditampilkan Ali Mustafa Yaqub. Lalu Azab Ilahi menampilkan ulama yang populer di kalangan anak muda, Ustad Jefry al-Buchory. Dan Astaghfirullah menghadirkan seorang ustad yang menyodorkan solusi mengusir pengaruh jahat dalam diri si tokoh utama.

    Dondy B. Sudjono menyatakan, kehadiran ustad di setiap akhir cerita Takdir Ilahi dikarenakan tak semua orang paham benar mengenai hadis. Kalau dibiarkan begitu saja, takut orang terjebak pada penilaian berbau klenik. Harus ada penjelasan yang disampaikan orang yang kompeten tentang kejadiannya seperti apa. "Makanya ada Mustafa Ali Yaqub dari MUI sebagai supervisi," ujarnya.

    Sutradara Astaghfirullah, Chaerul Umam, mengatakan, kehadiran ustad dimaksudkan untuk memberikan informasi yang benar, yakni informasi tentang metode penyembuhan yang sesuai syariat lewat ruqyah. Sedangkan Kiki Thaher, sutradara Azab Ilahi, menyatakan bahwa ustad mewakili sesuatu yang bisa menjadi cermin. Sesuatu yang bisa menjadi media introspeksi. "Bisa menjadi tempat introspeksi itu kan ada di mana-mana, lalu dalam bentuk visual diwakili oleh sosok ustad," Kiki menjelaskan.

    Begitulah. Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Quraish Shihab, mengatakan bahwa tayangan sejumlah sinetron itu boleh-boleh saja. Toh, banyak metode orang dalam berdakwah. Yang penting, pemirsa tetap harus rasional. Dalam drama, sinetron, dan film, unsur imajinasi pengarang sangat terlibat.

    Nurdin Kalim, Evieta Fadjar


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif