Sudah enam bulan ini, rekening telepon rumah Widagdo, 45 tahun, membengkak. Maklum, hampir tiap malam Widagdo dan istrinya, Eny Rochmani, sibuk mengubek-ubek Internet untuk mencari info tentang sekolah rumah atau homeschooling. Semua demi Tiara Kusuma, 13 tahun, putri semata wayang mereka, yang tiba-tiba mogok sekolah.
Sejak masuk sebuah SMP negeri favorit di Jakarta Selatan tahun lalu, Tia mengeluh banyak masalah ketika belajar. Beragam alasan muncul, dari beban yang terlalu berat hingga gaya belajarnya yang tak cocok dengan sekolahnya. Padahal nilai rata-rata rapornya hampir sembilan.
Tak mudah sebenarnya bagi Widagdo untuk mengiyakan keinginan anaknya memilih jalur sekolah di rumah. Meski model pembelajaran ini sedang populer, ada konsekuensi berat yang harus dipikul, yaitu komitmen dan tanggung jawab tinggi si anak dan keluarga.
Widagdo juga masih meragukan soal legalitas model pendidikan ini. Berbeda dengan di negara maju seperti Amerika Serikat, yang melihat kompetensi seseorang dari keahliannya, "Di Indonesia semuanya masih pakai ijazah atau sertifikat," katanya.
Namun, demi anak, Widagdo pun akhirnya mengangguk. "Saya tak kuat melihat wajahnya murung kalau mau berangkat dan pulang sekolah. Padahal dulu dia tidak begitu," ujarnya.
Pencarian Widagdo membuahkan hasil. Sejak Asosiasi Sekolah Rumah didirikan Mei tahun lalu, informasi tentang homeschooling memang mudah dijumpai di dunia maya. Sejumlah tokoh terlibat di dalamnya karena anak-anak mereka juga memilih sekolah di rumah. Ada Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, aktor Nano Riantiarno, dan Ratna Megawangi, istri Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.
Juga blog soal pengalaman melakukan homeschooling bermunculan. Belum lagi situs dan mailing list tempat para orang tua bertukar informasi, seperti sekolahrumah@yahoogroups dan asahpena@yahoogroups.
Tapi Eny dan Widagdo tetap gamang. Eny mengaku masih belum menemukan metode dan kurikulum yang cocok bagi Tia, yang akhirnya mulai menerapkan sekolah di rumah sejak awal Juli ini.
Kegamangan yang dirasakan Eny, menurut praktisi homeschooling Ines Setiawan, lazim muncul di kalangan orang tua, bahkan juga anak-anak, saat mereka memulai sekolah rumah. "Umumnya karena belum tahu gaya belajar yang tepat bagi dirinya," kata Ines, yang sudah enam tahun menerapkan sekolah rumah bagi anaknya, Coi Da Hye, 8 tahun.
Menurut Ines, gaya belajar dan metode sekolah rumah berkaitan. Dan metode itu tak bisa disamakan bagi tiap anak karena kebutuhannya berbeda. "Bahkan antara kakak dan adik bisa berbeda," ujarnya (lihat "Banyak Ragam Metode Homeschooling").
Ines sendiri memilih metode eklektik secara tunggal bagi Da Hye. Metode itu, kata Ines, memungkinkan anaknya memilih dan membuat program belajar yang cocok dengan keperluan dan minatnya. Ines juga memberikan modul khusus dari silabus yang diunduhnya di situs www.cie.org.uk.
Ines pun sempat kesulitan menentukan kurikulum yang cocok bagi anaknya. "Kami akhirnya memilih Cambridge karena bisa diterima di 150 negara," ujarnya. Apalagi ujiannya bisa diambil kapan saja di British Council Jakarta, dalam pengawasan Cambridge University, Inggris.
Bukan Ines saja yang sempat bingung. Helen Ongko, 45 tahun, juga wira-wiri ke Singapura dan Malaysia menjajaki kurikulum yang cocok bagi tiga putranya: Joseph, Joshua, dan John Ongko. Maklum, waktu itu, sekolah rumah belum sepopuler sekarang. Ia lalu memilih akreditasi dari Amerika, yang kurikulum dan materinya dia nilai lebih siap.
Dalam pencarian itu, Helen bertemu dengan banyak orang tua yang juga menerapkan homeschooling dengan kurikulum dan materi dari Amerika. Mereka kerap bertemu untuk bertukar pengalaman dan materi serta teknik pengajaran. Karena peserta pertemuan semakin banyak, sejak 2002 mereka menyewa gedung.
Pertemuan yang akhirnya melibatkan anak-anak mereka itu digelar tiga kali dalam sepekan: Senin-Rabu-Jumat atau Selasa-Kamis-Sabtu. Dan sejak itu, terbentuklah komunitas belajar Morning Star Academy (MSA).
Komunitas ini mengacu pada kurikulum Franklin Classical School dari Amerika Serikat. Selain pelajaran yang merupakan kompetensi dasar, seperti bahasa, matematika, logika, dan sains, diajarkan pula bagaimana mengembangkan minat dan bakat.
Anak-anak itu diuji kompetensinya tiga kali dalam setahun. Hasil tes dikirim langsung ke Amerika. Di akhir grade, anak-anak itu akan ikut ujian Scholastic Assessment Test (SAT), standardisasi kompetensi yang ditetapkan Amerika. "Jadi ini semi-homeschool," kata Helen, yang juga pemimpin komunitas ini.
Selama ini, menurut Helen, banyak lulusan MSA memilih meneruskan kuliah ke luar negeri. Namun, mulai tahun ini, ada beberapa anak yang memilih perguruan tinggi Indonesia. "Dan karena secara legalnya harus dengan kejar paket, mereka akhirnya ikut ujian paket C dan lulus. Sekarang ada yang diterima di Psikologi dan Sastra Cina Universitas Indonesia," ujar Helen.
Cambridge atau SAT kini menjadi salah satu pilihan kurikulum yang bisa dipakai. Menurut Ketua Harian Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Yayah Komariah, kurikulum itu dianggap penting karena menjadi semacam bingkai dan acuan bagi anak dan orang tua.
Situasinya kini memang lebih menguntungkan. Beragam pilihan kurikulum ditawarkan, tergantung kebutuhan dan orientasi akademis si anak.
Yayah sendiri memilih menerapkan kurikulum lokal dalam komunitas belajar Berkemas yang didirikannya pada 2003. Banyak komunitas belajar lain yang melakukan hal serupa. Mereka merancang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak dengan mengacu pada kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional. "Tinggal download www.puskur.net dan menyesuaikannya dengan kebutuhan anak," ujarnya
Hasilnya tak kalah. "Kalau di sekolah, kurikulum satu tingkat diselesaikan dalam waktu satu tahun, tapi di homeschooling bisa selesai 6 bulan," kata Yayah yang juga guru itu. Menurut Yayah, banyak anak sekolah rumah yang menyusun kurikulumnya sendiri tak hanya sukses lolos ujian kesetaraan yang ditetapkan Departemen Pendidikan, tapi juga lolos ujian masuk universitas.
Arsandi Akhmad, 21 tahun, misalnya. Mahasiswa semester keenam Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ini sebelumnya homeschooler, begitu keluar dari kelas I di SMA 47 Jakarta. Dua tahun memilih sekolah di rumah, pada 2003 ia ikut ujian kesetaraan dan lulus. Ia mendaftar ke ITB dan diterima. "Indeks prestasi saya masih 3,6," ujarnya.
Banyaknya ragam metode homeschooling dan apa pun kurikulumnya memang tergantung pilihan. Yang terpenting, kata Yayah, harus dapat mengakomodasi kepentingan anak dan keluarga. Sehingga keinginan anak membentuk kompetensi dirinya tidak terganggu.
Widiarsi Agustina
Banyak Ragam Metode Homeschooling
Sekolah di Rumah (School-at-Home) Metode paling kuno. Peserta membeli satu set kurikulum dengan buku, jadwal belajar, tingkatan kelas, serta cara evaluasinya. Mereka juga berhubungan dengan penyedia kurikulum untuk menyerahkan tugas. Waktu dan jam belajar ditetapkan.
Keuntungan: Peserta tahu apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
Kerugian: Butuh banyak perhatian dari orang tua dan pengajar. Ada kemungkinan pelajaran tak menyenangkan bagi anak.
Unit Pengajaran Anak belajar sesuai dengan minat dan menyatukannya dengan bidang lain Model ini dapat menjadi metode pembelajaran yang santai sambil bereksplorasi berdasarkan minat melalui suatu obyek atau pendekatan alamiah yang terdapat dalam paket unit pengajaran.
Keuntungan: Anak menjadi ahli di bidangnya.
Kerugian: Terlalu bersemangat dan berlebihan membahas satu subyek.
Eklektik Metode yang paling santai dan banyak digunakan. Keluarga bisa mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai dengan memilih atau menggabungkan sistem yang ada.
Keuntungan: Bebas memilih dan membuat program belajar yang cocok dengan keperluan dan minatnya.
Kelemahan: Sedikit menggunakan perlengkapan.
Unschooling Tergantung minat dan keingintahuan anak dari pengalaman sehari-hari. Tanpa jadwal sekolah atau kurikulum formal.
Keuntungan: Anak punya waktu cukup untuk meneliti dan bisa menjadi ahli.
Kerugian:
Sulit mengikuti penyetaraan jika masuk lagi ke sekolah umum.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

