Si Sayap Terbang. Inilah sebutan pesawat X-48B, temuan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Bentuknya tak lazim. Berlainan dari pesawat biasa yang sayapnya menempel di tengah badan pesawat, pangkal sayap X-48B melekat dari kepala hingga ekor badan pesawat.
NASA merancang dan merakit pesawat ini selama tujuh tahun. Mereka mengudarakan prototipe tersebut di daerah yang dirahasiakan pada awal bulan ini. Beratnya 230 kilogram dengan rentang sayap enam meter. Pesawat yang dioperasikan melalui kendali jarak jauh itu sanggup terbang hingga ketinggian 2.500 meter selama setengah jam.
Sayap yang lebar diyakini akan membuat pesawat bisa menghemat 20 persen bahan bakar dibanding pesawat biasa. Selain itu, letak mesin yang jauh di ekor pesawat membuat kabin tidak berisik. Sayap yang lebar bisa digunakan untuk ruangan penumpang atau barang.
Jika uji coba dinilai sukses, NASA akan membuat pesawat sesungguhnya yang berukuran 13 kali lebih besar dari prototipe. Selain efektivitas bahan bakar dan ruang, pesawat jenis ini lebih mudah mengudara. Belum jelas kapan pesawat yang sebenarnya akan diproduksi.
Struktur Dibuat dengan material yang ringan tapi kuat seperti pesawat terbaru Boeing 787.
Mesin Terletak di belakang, jauh dari kabin untuk mengurangi suara berisik.
Lebih Ringan Bentuknya memang mirip sayap tanpa badan pesawat. Tapi, inilah yang membuat dia lebih ringan di udara sehingga tak perlu banyak tenaga untuk menjaga pesawat tetap mengudara.
Sayap yang Menyatu Melekat ke seluruh badan pesawat.
Hemat Bahan Bakar Dengan rentang sayap yang luas, pesawat ini bisa menghemat 20 persen bahan bakar.
Daya Tempuh 13 ribu kilometer.
Penjelajah di Dasar Kutub
Rusia mengungguli Amerika Serikat dalam penjelajahan Kutub Utara. Dua pekan lalu, dua kapal selam khusus, Mir-1 dan Mir-2, yang diberangkatkan dari Pulau Franz Josef, perairan utara Rusia, berhasil menjelajah perairan kutub dengan kedalaman 1.311 meter dari permukaan laut.
Mir adalah wahana yang dibuat khusus untuk penelitian dan pengambilan sampel bawah laut. Kapal yang terbuat dari titanium ini didesain mampu menahan tekanan pada kedalaman lebih dari 1.000 meter. Pada umumnya, kapal selam hanya mampu mencapai kedalaman 200 meter.
Kantor berita Rusia, Itar-Tass, melaporkan kedua wahana itu menyelam masing-masing selama satu jam. Lokasi penyelaman letaknya 87 kilometer dari Franz Josef. "Ini adalah pertama kali kapal selam berada sedalam itu di kutub," kata pimpinan misi penyelaman, Artur Chelingarov.
Kedua Mir bukanlah wahana baru, melainkan kapal selam yang sudah berumur hampir satu dekade. Kemampuan Mir yang luar biasa berkat sistem penghancur es bertenaga nuklir yang dipasangkan baru-baru ini.
Menurut Artur, kemampuan kapal selam ini akan ditingkatkan lagi hingga mampu mencapai kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut. Peningkatan kemampuan ini untuk mendukung usaha pencarian sumber daya alam di kutub, yang diduga menyimpan kekayaan.
Menurut hukum internasional, hanya lima negara yang memiliki kekuasaan atas kutub utara, yaitu Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, dan Denmark. Dari lima negara itu, Rusia merupakan yang paling aktif melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya alam.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

