LAPANGAN penjara Cebu, Filipina, setiap pagi bagai berderak. Sekitar seribu orang berkostum oranye menggerakkan tubuhnya, mengikuti lagu Thriller milik Michael Jackson. Hari itu, dipandu seorang instruktur, mereka bergoyang serempak meniru gerakan ala zombie. Pada hari lain, mereka berdisko dengan iringan lagu Hail Holy Queen di film Sister Act.
Ini bukan pembuatan klip baru untuk MTV. Pasukan oranye itu adalah tahanan dan narapidana yang sedang berlatih fisik. Tak seperti penjara pada umumnya yang menerapkan latihan olahraga, Pusat Rehabilitasi dan Penahanan Cebu melaksanakan terapi dansa. Pelatih tarinya dipilih dari kalangan militer supaya para penghuni penjara-termasuk pemerkosa dan pembunuh yang sangar-yang biasanya menjunjung tinggi segala sesuatu yang macho itu tak merasa "keperempuan-perempuanan" ketika disuruh menari.
Terapi yang digagas oleh Byron Garcia, konsultan keamanan bagi pemerintah provinsi Cebu, ini sebenarnya telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Namun ia baru menyambar perhatian dunia tatkala Garcia mengirim tayangan ini ke situs YouTube, April lalu. Hingga pekan kemarin, sedikitnya 1,3 juta pemirsa telah mengunduh klip narapidana menari ini. "Saya ingin menunjukkan kepada komunitas penjara dunia, inilah disiplin dengan cara yang lain," katanya.
Menurut Garcia, latihan menari ini adalah sarana untuk memperbaiki kelakuan tahanan dan narapidana. Maka, setiap pagi, lagu semacam Ice Ice Baby dari Vanilla Ice atau Radio Gaga milik Queen pun berdentum di lapangan penjara. Padahal, selama ini, program "musik masuk penjara" cuma terbatas pada konser dan pembuatan klip video. Salah satu yang terkenal adalah Metallica, yang mengambil latar penjara San Quentin di San Francisco untuk salah satu klip lagu mereka.
Supaya kegiatan ini sukses, narapidana mesti dibikin senang, sehingga mereka betah dan sukarela mengikuti terapi ini. Untunglah, musik dan tari memang bagian dari gaya hidup sehari-hari orang Filipina, bahkan dalam keadaan susah. "Mereka bisa melanjutkan kebiasaan ini di dalam penjara," kata Melita Thomeczeck, Deputi Konsulat Jenderal Filipina di New York. Benar saja, setelah mengikuti latihan ini beberapa bulan, seorang terhukum mengaku "tak lagi berpikir tentang balas dendam ataupun kabur dari penjara".
Urusan tari-menari ini juga mengundang kecemasan. Patrick Rubio, Direktur Operasi Biro Manajemen Penjara dan Penologi Filipina, khawatir terhadap masalah keamanan. Masalahnya sih teknis belaka. Bayangkan, sebegitu banyak pelanggar hukum berada di satu tempat pada saat bersamaan. "Kalau keamanan tak diperkuat, kondisi ini bisa jadi bencana," katanya. Maklumlah, meskipun penjara Cebu selama ini dikenal aman dan tenteram dibanding penjara lain di negeri itu, ancaman ini tetap harus diwaspadai. Meski begitu, Rubio tetap mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari program pemulihan para tahanan sebelum mereka nanti kembali ke masyarakat.
Rehabilitasi model ini juga mengundang kritik. Edward Latessa menyatakan, dalam terapi ini, tahanan hanya bersenang-senang, tapi tidak mendapat efek rehabilitasi apa pun. Menurut dosen hukum kriminal di Universitas Cincinnati, Amerika Serikat ini, masih ada sejumlah program yang lebih efektif untuk memperbaiki kelakuan narapidana. Misalnya, pertemuan dengan keluarga mereka.
Garcia tetap yakin program ciptaannya ini efektif. Bagaimanapun, kata dia, tahanan juga manusia yang butuh kesenangan, bukan tekanan. Jadi, "Biarlah mereka menikmati hari-hari di dalam penjara," katanya.
Andari Karina Anom (ABC News, Reuters, Sun Star Philippine)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

