• Home
  • 13 Agustus 2007
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip

Laporan Utama

  • Pergulatan Demokrasi Liberal


    Demokrasi Liberal tahun 1950-an adalah era paling kontroversial dalam perjalanan Republik Indonesia. Ada yang bilang ini sistem impor dari Barat dan bukan keinginan mayoritas rakyat. Banyak pula yang mengenangnya sebagai masa paling demokratis. Mahkamah Agung masih berwibawa. Jaksa dan hakim amat dihormati. Atas dasar apa Soekarno membubarkannya?

    Edisi khusus Tempo menyambut ulang tahun Republik Indonesia yang ke-62 mencoba membaca ulang masa ini. Dilengkapi kolom-kolom khusus, kesaksian para pelaku sejarah, dokumen, memoar, serta catatan dari Indonesianis Ben Anderson dan Boyd R.Compton

  • Ada Revolusi di Bulan Agustus 1945


  • Menimbang Demokrasi Liberal


  • Lahirnya Sebuah Optimisme


  • Pelajaran dari Dunia yang Hiruk-Pikuk


    Banyak faktor yang tak mendukung suksesnya demokrasi parlementer pada 1950-an. Ada sisi positif dan negatif yang bisa disimak dari pengalaman ini.
  • Demokrasi Parlementer, Optimisme yang Terabaikan


  • Nasi Uduk di Lapangan Kremlin


    Inilah suasana kampanye pemilu pertama yang disebut-sebut paling demokratis. Gesekan cuma terjadi di ajang orasi.
  • Panas di Sidang, Akrab di Luar


    Meski dibubarkan Soekarno, Konstituante menghasilkan banyak produk amendemen bermutu.
  • Tersesat di Jalan yang Benar


  • Pemberontakan Separuh Jalan


    Ketimpangan ekonomi memicu pergolakan daerah di paruh kedua 1950-an. Permesta-PRRI diawali keisengan. Menolak disebut pemberontak.
  • Tarikan Konstitusionalisme + Jebakan Tradisionalisme = RI


  • Menguji Kemandirian Mahkamah


  • Tak Pasti Karena Si Bung


    Era demokrasi liberal sempat membangkitkan semangat pemberantasan korupsi. Amblas karena intervensi politik dan militer.
  • Menghalau Korupsi di Awal Republik


    Perang melawan korupsi gencar dilakukan pada masa demokrasi liberal. Salah satu yang diadili adalah Menteri Kehakiman Djodi Gondokusumo.
  • Menjerat dengan Aturan Devisa


    Gagal membuktikan Roeslan terlibat korupsi, Kejaksaan Agung mendakwanya membawa dolar tanpa izin.
  • Misteri Si Jalak Harupat


    Lenyapnya Oto Iskandar adalah kasus orang hilang pertama yang dilaporkan sejak Proklamasi
  • Tak Mempan Katabelece


    Sejumlah tokoh penting memberi jaminan untuk melepaskan tersangka korupsi. Tapi Jaksa Agung menolak jaminan mereka.
  • "The Golden 1950s": Hasil Memori Terbatas


  • Kisah Asa Bafagih


    Gara-gara berita, Asa Bafagih diperiksa. Pertama kalinya di Indonesia setelah kemerdekaan.
  • Demi Martabat Peradilan


    Mahkamah Agung pernah menjadi lembaga yang amat berwibawa pada 1950-1952. Soekarno pun tak berkutik.
  • Demokrasi dan Rule of Law, Pelajaran dari 1950-an


  • Demokrasi di Ujung Senapan


  • Empat Meriam Setelah Rinai Hujan


    Kisruh di parlemen soal serdadu ditanggapi militer dengan aksi massa dan todongan senjata. Tentara pecah, ibu pertiwi hamil tua.
  • Cobra Menyerbu Istana


    Tentara memakai preman dan jagoan dalam demonstrasi pada 1950-an. Buntut revolusi kemerdekaan.
  • Nasionalisasi Berakhir Buntung


    Lebih dari 160 perusahaan Belanda dinasionalisasi pada 1950-an. Hanya tentara yang untung.
  • Berkah Kecil dari Shell


  • Nasution, Jalan Tengah, dan Politik Militer


  • Peraturan yang Menggusur Tionghoa


    Gerakan "pribumisasi" ekonomi menggusur pebisnis Tionghoa pada 1950-an. Awal politik rasialisme?
  • Terusir dari Kampung Sendiri


    Pada 1959, pemerintah melarang usaha perdagangan kecil dan eceran untuk orang asing di luar ibu kota daerah. Akibatnya, banyak warga keturunan Cina terpaksa pulang ke tanah leluhurnya. Berikut ini sebagian kisah mereka.
  • Empat Masa 'Persoalan Cina'


  • Kartun: Roh Demokrasi Liberal


  • Hatta: Serigala, Rasuna Said: Kucing Garong


  • Sebuah Indonesia Idaman Mereka


  • Seandainya


cover

Album

Sakit

Fuad Hassan, 78 tahun

TEMPO|interaktif

Metro

Penyerang Dua Polisi Bogor Tembakkan Pistol FN

Olahraga

Meski MU Menang, Alex Ferguson Tak Puas

Olahraga

Rooney Tertarik Jadi Kapten Inggris

Olahraga

Kalahkan Hong Kong, Indonesia Hadapi Thailand  

Seni & Hiburan

Panitia Grammy Ubah Acara Demi Whitney  

Nasional

Begini Ikrar Sumpah Pemuda Jilid II

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Indonesia Bertemu Lawan Mudah  

Metro

Jakarta Utara Bangun Jalur Sepeda Pesisir 50 Km

Olahraga

Capello Lepas Jabatan, Fabregas Kaget

Clive Davis Gelar Acara Mengenang Whitney

Olahraga

Tim Davis Indonesia Tekuk Hong Kong 3-2  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif