• Home
  • 13 Agustus 2007
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 Agustus 2007

    Cobra Menyerbu Istana

    LETNAN Satari bergegas pulang ke rumahnya di Petojo Udik 15, Jakarta Pusat. Hari itu, 16 Oktober 1952, hampir tengah malam. Di belakangnya, mengikuti Letnan Satu Laksa-bekas Komandan Komando Militer Kota (KMK) Djatinegara. Keduanya baru mengikuti rapat di KMK Besar Djakarta Raja. Di rumah Satari sudah berkumpul beberapa orang.

    Kepada para tamunya itu, Satari menjelaskan hasil rapat. "Besok kita akan mengepung Istana Negara," katanya. "Parlemen adalah sarang penjahat," Laksa menimpali. "Mereka agen Inggris-Amerika, Rusia dan blok-bloknya. Kita harus kembali pada pokok Proklamasi 17 Agustus 1945 dan menuntut pembubaran parlemen kepada Bung Karno."

    Pembicaraan itu tertuang dalam Atrap Nomor 40 tentang "Sekitar Demonstrasi Parlemen Dibubarkan" dalam arsip Kementerian Pertahanan/Badan Informasi dan Strategi Angkatan Perang-benih Badan Intelijen Negara. Dalam Atrap itu terekam bahwa Jakarta mencekam pada malam menjelang 17 Oktober 1952.

    Truk tentara berseliweran. Para pemuda menempelkan plakat dan selebaran di tembok stasiun Gambir dan sudut Jakarta lain: Bubar Parlemen, Kamu Hanya Pandai Bertengkar, Rakyat Merasa Rugi.

    Demonstrasi itu memanaskan Jakarta. Media massa mencatat tak kurang dari 2.000 demonstran tumplek di Lapangan Banteng-markas parlemen-dan Lapangan Ikada (Monas) di seberang Istana. Satari dan Laksa adalah dua orang yang bertugas menghubungi para jagoan untuk mengumpulkan massa dari Pulogadung, Pasar Minggu, Kebayoran-Ciputat, Ciledug-Tangerang, dan Tanjung Priok.

    Jakarta pun lumpuh. Harian Rakjat edisi 18 Oktober melaporkan bahwa kantor dan pabrik tutup karena buruh berbelok ikut berdemonstrasi. "Ada kelompok tak dikenal yang memprovokasi buruh," kata Djaswadi, Ketua Penerangan Buruh Tanjung Priok, kepada harian yang berafiliasi ke PKI itu.

    Koran lainnya mencatat bahwa demonstran terdiri dari orang udik dan dekil yang cuma bercelana dan telanjang kaki. Juga jagoan terlihat hilir-mudik mengendalikan massa. Mereka mengatur truk-truk militer yang membawa warga. Para preman ini berkumpul di gedung Djawatan Pharmacie Militer di Jalan Boedi Oetomo, tak jauh dari gedung parlemen.

    Pada 1950-an, keberadaan jagoan dalam aksi-aksi demonstrasi yang dimotori tentara menjadi pemandangan yang biasa. Tentara kerap memakai jagoan Betawi untuk memobilisasi warga. Pada tahun itu, jagoan dan kiai adalah kelompok elite di kalangan orang Betawi.

    Jagoan memang punya ikatan yang tak bisa dilepaskan dari tentara. Persaudaraan mereka sudah terbuhul sejak revolusi kemerdekaan. Para jagoan ini kerap membantu tentara mengusir penjajah. Ben Anderson dan George Mc T. Kahin memaparkan dengan baik peran jago-jago di Jawa selama revolusi kemerdekaan. Mereka membentuk laskar seperti Barisan Banteng dan Laskar Rakyat.

    Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, para jagoan ini kembali ke kampung halamannya. Di Jakarta, mereka antara lain bergabung dalam geng besar bernama Cobra, kependekan dari Corps Bambu Runcing. Organisasi ini menyatukan kelompok jagoan di Betawi. Imam Syafii atau Bang Pi'i menjadi ketua organisasi ini. Dia sebenarnya tentara berpangkat kapten dari Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja (kini Kodam Jaya). Tapi namanya lebih dikenal dengan julukan "Robinhood dari Pasar Senen". Pada zaman Soekarno, Bang Pi'i pernah diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam kabinet 100 menteri.

    "Kami harus cari makan sendiri untuk keluarga," kata Irwan Syafie, kini 77 tahun, bekas Ketua Cobra Gambir, ketika ditemui Tempo. Setelah revolusi, anak buah Bang Pi'i ini menjadi jagoan di tempatnya semula, yakni kawasan Pasar Ratna dan Bioskop Gembira, kini di Kelurahan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

    Jagoan, kata M. Fauzi, peneliti di Institut Sejarah Sosial, adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul, pemberani. "Tindakannya, ya, seperti preman zaman sekarang," kata Fauzi, yang meneliti sepak terjang para jagoan pada 1950-an.

    Irwan bercerita, pada saat itu perampokan menjadi peristiwa keseharian di Jakarta. Tak sedikit bekas laskar yang menjadi pelaku kriminal yang ditakuti seperti Kusni Kasdut dan Bir Ali. "Umumnya mereka tidak mempunyai keahlian apa pun dan biasa hidup di kota," ucap Fauzi.

    Menurut Fauzi, kadang-kadang di antara kelompok eks pejuang terlibat konflik. Mereka berebut tanah yang tidak bertuan, kaveling yang ditinggalkan pemiliknya, atau harta benda bekas milik warga Belanda. Pertikaian antarkelompok jagoan ini kerap meresahkan warga dan aparat keamanan. Bir Ali, misalnya, pernah menembak seorang pengusaha kaya Arab di Cikini. Peristiwa ini menjadi buah bibir berhari-hari di Jakarta.

    Menghadapi masalah ini, Angkatan Darat membentuk Persatuan Bekas Pejuang Seluruh Indonesia (Perbepsi) pada 1951. Jumlah anggota organisasi ini diakui mencapai 300 ribu orang pada 1957. Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution dan Gatot Subroto hadir dalam pertemuan organisasi ini pada November 1955 dan menyampaikan pandangannya tentang masalah kelaskaran.

    Menurut Fauzi, bagi para perwira, Perbepsi menjadi penting karena bila terjadi suatu krisis politik, organisasi ini dan para anggotanya dapat menjadi kekuatan yang menentukan. Perbepsi sekaligus menjadi kekuatan pengimbang bagi mereka yang bertikai. Inilah yang menjadi salah satu alasan Angkatan Darat melebur Perbepsi ke dalam Legiun Veteran Republik Indonesia pada Agustus 1959.

    Selain Cobra, ada kelompok lain yang dibentuk eks pejuang, yakni Ular Belang dan Ali Batra, yang menguasai wilayah Kebon Melati. Berikutnya, kelompok Lagoa beroperasi di sekitar pelabuhan Tanjung Priok. Kelompok-kelompok ini mengutip uang keamanan di wilayah kekuasaannya. "Kami menempelkan logo Cobra di pintu toko-toko milik orang Cina atau di pasar," kata Irwan.

    Irwan mengakui anggota Cobra dan organisasi jagoan lainnya diisi oleh beberapa polisi dan tentara. Karena itu tak mengherankan jika para jagoan ini melek politik. Mereka sering ikut rapat dengan tentara jika akan melakukan atau meredam gerakan tertentu. Para jagoan ini menjadi andalan terakhir jika situasi keamanan di Jakarta dan daerah lain tidak menentu.

    Tak hanya pada 1950-an para preman ini mendukung militer. Irwan bahkan mengakui keterlibatannya dalam Badan Pembantu Pemberantasan Pengganyangan G30S/PKI. Dia betugas mengumpulkan 120 pemuda dari Anshor, Pelajar Islam Indonesia, Cobra, dan lainnya. Ia mengakui bertemu Pangdam Jaya Jenderal Amir Machmud untuk dipersenjatai. Anggota badan ini digembleng latihan militer selama dua bulan di Cibubur.

    Ketika Letnan Satari bergegas pulang sehari menjelang demonstrasi yang mencekam itu, Bang Pi'i pun menyiapkan para preman untuk bergerak mendekati Lapangan Banteng dan Monas. Mereka bersanding dengan tentara yang mengarahkan moncong senjata beratnya ke arah Istana.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Sakit

Fuad Hassan, 78 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Habib Rizieq: Ada yang Ingin Adu Domba FPI

Tak Ada Tanda Kekerasan di Tubuh Whitney Houston  

Isolasi ke Perbatasan Timor Leste Kian Terbuka  

Teknologi

Candi Muaro Jambi dalam Sejarah Dinasti Tang

Kencan Terakhir Whitney Houston

Whitney Houston Meninggal di Kamar Hotel  

Aktivis Surabaya Gugat Undang-undang Penyiaran

Doa untuk Whitney, dari Mariah Carey Hingga Rooney  

Olahraga

Barcelona Semakin Sulit Kejar Real Madrid  

Dipicu Dendam Lama, Pemuda di Polman Bentrok  

Sahabat Whitney Houston Berduka  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif