DUA pekan di Roma, Italia, pada pertengahan sampai akhir Juli lalu, hari-hari dramawan-sastrawan Putu Wijaya dipenuhi berbagai agenda teater. Pikirannya pun tak disesaki tetek-bengek persoalan dalam negeri. Eh, begitu pulang ke Tanah Air, gelombang pesan pendek berdatangan ke telepon selulernya. Isinya nyaris sama: menanyakan sikapnya terhadap rencana Freedom Institute yang memberikan Bakrie Award untuk Kesusastraan pada Selasa pekan ini. Sejumlah pihak menyarankan agar Putu menolak hadiah itu seperti dilakukan Romo Magnis-Suseno yang juga menolak penghargaan serupa tahun ini. Alasannya? Lumpur Lapindo. Sampai akhir pekan lalu, Putu masih menimbang-nimbang semua masukan. "Saya sedang berpikir untuk membuat keputusan dan akan menyampaikan pada saat yang tepat," katanya.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

