• Home
  • 28 Januari 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 28 Januari 2008

    Kecerewetan ala Silat Lidah

    Julia Perez mendapat kartu kuning. Beberapa saat kemudian, "hukuman" artis seksi ini bertambah menjadi kartu merah. Tapi anehnya, Jupe-demikian dia biasa dipanggil-tidak menyesal, malah terus nyerocos berbicara. "Wah, padahal gue paling jago bicara ginian," katanya tak mempedulikan peringatan "wasit".

    Lho, kok bicara? Memang, Julia bukan sedang bermain sepak bola. Dia menjadi salah satu pembicara dalam acara bincang-bincang televisi bernama Silat Lidah. Talk show yang ditayangkan di ANTV setiap Kamis pukul 10 malam ini punya aturan main unik. Pembicara yang kelewat vulgar dalam menjawab, bicaranya tidak henti, atau memaki, akan mendapat peringatan kartu kuning atau merah. Bila terkena kartu merah, pembicara tidak diizinkan berkomentar untuk putaran berikutnya.

    Nah, ketika itu Julia mendapat kartu kuning, lalu merah, karena dia melakukan gerakan asosiatif. Topik yang sedang dibicarakan adalah seks oral. Makanya, Julia terus bicara-dia merasa ahli dalam topik ini-meskipun sudah disemprit Irwan Ardian, sang host. Namun tidak hanya Julia yang dihentikan, episode Silat Lidah yang berbicara tentang seks oral itu yang batal ditayangkan. "Kami buang, takut vulgar," kata Produser Eksekutif Silat Lidah ANTV, Kelly da Cunha.

    Silat Lidah bisa dikatakan berbeda dibanding format acara bincang-bincang televisi lainnya. Tak seperti Empat Mata yang menjual kelucuan dan ke-ndeso-an Tukul Arwana, Silat Lidah mengekspos kecerewetan enam panelis yang semuanya perempuan. Empat panelis tetap, yaitu Ratna Sarumpaet, Ria Irawan, Melissa Karim, dan Julia Perez. Dua sisanya adalah bintang tamu yang disesuaikan dengan topik yang dibicarakan.

    Acara berdurasi satu jam itu dipimpin seorang moderator sekaligus tuan rumah acara: Irwan Ardian. Dia tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas pembicaraan-yang kadang chaotic dan luar biasa ribet karena harus "mengendalikan" mulut perempuan-perempuan cerewet-tapi juga bertindak seperti penguasa. "Saya dirancang menggunakan power of man," kata Irwan yang juga penyiar radio Indika itu.

    Selain itu, Irwan juga harus menetralkan acara. Maklum, sering kali komentar dan pendapat panelis terlalu tajam dan ceplas-ceplos. Mereka kadang saling menimpali kata, tanpa menunggu saatnya dipersilakan bicara. Untuk itulah Irwan selalu bilang "jangan pernah sakit hati" pada setiap jeda atau di akhir acara.

    Irwan juga satu-satunya yang memegang skenario. Sehari sebelum rekaman, dia sudah mendapatkan surat-surat atau email berisi topik bahasan. Yang dibahas beragam, mulai dari kehidupan pasangan, politik, gaya hidup, hingga tren. Dia juga sudah diberi tahu siapa panelis tamunya. Sedangkan keempat panelis tetap baru tahu topik yang dibahas sekitar setengah jam sebelum pengambilan gambar.

    Jadi, sangat kelihatan siapa panelis yang komentarnya tajam berbobot atau asal seru saja. Juga tampak siapa yang menguasai persoalan atau sekadar ikut bicara. Tapi Julia, yang sering dianggap sebagai panelis yang paling tak berotak, tidak menghiraukan soal wawasan. "Aku nggak merasa dibego-begoin. Saya jujur, polos, apa adanya, nggak munafik," tangkisnya.

    Mungkin karena terlalu "apa adanya", tayangan yang sudah memasuki bulan kelima ini pernah diperingatkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Komisi itu menilai Silat Lidah terlalu vulgar, karena membicarakan hubungan seksual laki-laki perempuan secara terbuka. Salah satu tayangan yang diperingatkan adalah pengalaman pengirim surat, ketika bercinta dengan istri, anaknya masuk ke kamar tidur mereka. "Padahal sih bukan vulgar, tapi memang membicarakan soal organ tubuh di masyarakat kita yang dianggap masih porno," ujar Kelly.

    Ya, paling tidak, Silat Lidah bisa menjadi pilihan pemirsa ketimbang menonton sinetron yang isinya pasangan selingkuh dan orang marah-marah melulu.

    Ahmad Taufik


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

MENINGGAL
Kastian Indriawati, 45 tahun

Televisi

Kecerewetan ala Silat Lidah

Catatan Pinggir

Sensor

TEMPO|interaktif

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako  

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

Olahraga

Lawan Inter, Indonesia Selection Main Bola Bawah  

Olahraga

Sean Gelael Siap Tampil di Formula Pilota  

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum  

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0  

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

Internasional

Pesawat tanpa Awak AS Serang Afganistan

Bisnis

Bank Sentral Incar Spekulan Rupiah  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif