How to Read Lacan Pengarang: Slavoj Zizek Penerbit: W.W. Norton & Company: London dan New York, edisi perdana Amerika 2007 Tebal: 132 hlm + ix
Setelah Black Book of Communism yang memuat daftar dosa komunisme terbit pada 2005, terbit pula The Black Book of Psychoanalysis mendaftar dosa teoretis psikoanalisis. Munculnya buku itu menandai kuatnya kehendak mengubur psikoanalisis sejajar dengan nisan komunisme. Benarkah psikoanalisis sudah mati? Tidak. Dia bahkan makin relevan dan menemukan momentumnya dalam masyarakat liberal-postmodernis sekarang ini. Bagaimana mungkin? Kata Zizek: "Baca Lacan!"
Zizek memulai buku ini dengan mengungkap bahwa kebencian terhadap psikoanalisis adalah skandal. Psikoanalisis telah mempermalukan manusia dengan merontokkan topeng narsistiknya. Freud ketika membongkar kenyataan bahwa ternyata ketaksadaran dalam proses psikologislah yang menentukan modus eksistensi kita. Bukan akal, dan bukan nurani, yang sebelumnya diagungkan.
Dari pembukaan itu, terbaca niat Zizek menonjolkan aspek kritik-emansipatif psikoanalisis secara setara dengan Marxisme. Dan ketaksadaran itu bukan sekadar ruang bawah kesadaran, ia justru wilayah yang mematuhi tata dan logika tersendiri. Ketaksadaran itu bicara dan berpikir, tempat kebenaran traumatis berbicara.
Zizek mengibaratkan kerja ketaksadaran Lacan itu laksana seorang mandor (simbol Big Other/Struktur) yang mengidap kecurigaan ada buruh yang mau mencuri di pabrik (halaman 21). Berdasarkan kecurigaan (paranoia) itu, tiap sore ia memeriksa isi tas si buruh. Namun, karena tak menemukan bukti apa pun, ia malah berpikir jangan-jangan tas itulah barang curiannya sebenarnya.
Ya, mandor memaksakan tas sebagai barang curian, dan ia menjadikan ketaksadarannya bukan lagi ekses dari realitas termanipulasi. Justru ketaksadaran tersebut menyuguhkan dan mengubah koordinat realitas itu sendiri. Ia tidak peduli fakta apakah "si buruh benar mencuri atau tidak". Ia mengkonstruksi dan membentuk realitas pencurian itu lepas dari fakta apa pun sebelumnya. Ini mirip operasi ideologi Orde Baru yang selalu mengatakan "anasir-anasir PKI" masih ada, karena itu ancaman tersebut selalu nyata.
Pada bab lain berjudul "God is Dead, but He Doesn't Know it': Lacan Plays with Book" (hlm. 91), Zizek membawa Lacan ke dalam refleksi politik demokrasi kontemporer. Ketimbang menghasilkan otentisitas kebebasan, kejatuhan rezim otoriter secara paradoksal malah menghasilkan aneka larangan baru. Paradoks ini diumpamakan situasi masa kanak-kanak. Setiap hari libur, saat kita ingin bebas melakukan apa saja, kita malah dibebani tugas yang tak menyenangkan: mengunjungi nenek, mesti ikut kondangan, arisan, atau ibadah.
Pada rezim otoriterisme memang ada paksaan. Namun, paksaan di sini secara negatif membuka peluang resistensi si anak untuk suatu saat melawan perintah si bapak. Pada liberalisme, yang terjadi sama jahatnya. Tapi lebih kompleks: si anak tidak hanya dimanipulasi supaya ke rumah neneknya, juga dimanipulasi untuk sekaligus mencintai neneknya. Kebebasan malah menjadi struktur baru atau the Big Other dari penindasan yang lebih halus.
Lebih lanjut, kerja struktur atau the Big Other juga dijelaskan melalui konsep Lacan mengenai sadomasokisme. Sadomasokisme bukanlah melulu soal seks menyimpang. Inti sadomasokisme adalah subyek yang memasang dirinya sebagai obyek hasrat yang lain. Di titik ini, kata Zizek, sadomasokisme paling brutal ada dalam politik totaliterisme.
Politikus Orde Baru, misalnya, selalu mengatakan mereka mencintai kemanusiaan yang adil dan beradab. Mereka sedih kalau ada oposisi di penjara, atau kalau pada 1965 ada ribuan orang terbantai. Tapi mereka juga mengatakan tragedi itu bukan tanggung jawab dan di luar kehendak mereka. Apa yang mereka lakukan semata-mata demi tugas, pembangunan, dan bangsa. Di sini politikus Orde Baru hampir sama dengan kaum sadomasokis: sama-sama meletakkan dirinya sebagai obyek dari hasrat yang lain.
Buku menarik yang ditulis Zizek ini pada dasarnya adalah buku pengantar memahami Lacan. Namun, berbeda dengan jenis buku pengantar yang konvensional, buku ini mengajak pembaca bersama berkonfrontasi dengan persoalan sosial yang halus, tapi rumit dan menjebak. Zizek tidak hanya berhasil menampilkan segi-segi pemikiran Lacan yang sulit secara segar. Lebih dari itu, ia berhasil menunjukkan relevansi Lacan dalam memahami politik kontemporer kita.
Robertus Robet,Kandidat doktor filsafat di STF Driyarkara
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

