Obesitas Melanda Cina
MAKANAN Cina yang lezat ternyata pemicu kegemukan. Buk-ti-nya dilansir dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal Health Affairs edisi Juli ini.
Laporan itu menyebut---kan-, lebih dari separuh popula-si orang dewasa di Cina menderita kelebihan berat- badan. Warga Cina masa ki-ni menyantap lebih banyak energi dari lemak dan makanan yang berasal- dari hewan, seperti daging dan telur. Diet klasik Cina-yang kaya akan sayur, karbohidrat, dan sesedikit mungkin makanan yang ber-asal dari hewan-kini mulai di-tinggalkan.
Studi ini menunjukkan tak sampai- satu persen warga nega-ra itu yang benar-benar menerapkan pola makan sehat. Perubahan pola makan dan gaya hidup ini berakibat pada meningkatnya penyakit kanker dan serangan jantung.
Demi mencegah kondisi lebih parah, "Kita harus menemukan aturan yang tepat agar orang mau menerapkan gaya hidup sehat," kata Barry Popkin, ahli nutrisi dari Carolina Population Center, University of North Carolina, Amerika. Pasalnya, jika masalah yang berkaitan dengan gizi ini tak ditangani dengan baik, bisa mengancam produktivitas tenaga kerja di negara itu.
Seks Rutin Cegah Disfungsi
GUNAKAN atau kehi-langan. Inilah nasihat bagi para pria tua yang ingin tetap fit secara seksual. Para peneliti University of Tampere, Finlandia, menda-pati semakin sering pria berhubungan intim, semakin rendah risiko disfungsi -ereksi.
Studi tentang hal ini dilakukan terhadap seribu pria berusia 55-75 tahun di Finlandia. Hasil riset dilaporkan dalam American Journal of Medicine pekan lalu. Dokter Juha Koskimaki, ketua tim peneliti, menyatakan ada sejumlah faktor lain yang mempengaruhi kemampuan seksual pria, yaitu usia, diabetes, dan serangan jantung.
Selain itu, menurut pe-neliti, penyebab utama ke-gagalan seksual pria tua adalah jika mereka jarang mempraktekkan hubungan seksual itu. Seperti halnya latihan fisik bisa membuat kondisi badan prima, kegiatan seks yang rutin juga menjaga kemampuan ereksi pria. Disfungsi organ vital ini terjadi karena terhambatnya aliran darah ke penis. Koskimaki menyatakan semakin rajin pria tua berhubungan seks, semakin sehat fungsi pembuluh darahnya.
Sembuh Kanker Karena Sekolah
PENYEMBUHAN penyakit kanker rupanya ber-kaitan dengan tingkat pendidikan si penderita. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the National Cancer Institute, Amerika Serikat, membuktikan bahwa angka kematian akibat kanker di negara itu menurun drastis seiring dengan meningkatnya pendidikan dan pendapatan pasien.
Para peneliti American Cancer Society dan Emory University of Atlanta menghitung angka kematian karena kanker paru, payudara, prostat, dan kolon (usus besar) pada warga berusia 25 hingga 63 tahun selama 1993-2001.
Hasilnya, makin tinggi pendidikan seseorang, makin besar kemungkinannya untuk sembuh dan terhindar dari ancaman kematian karena kanker. Kelompok ini lebih memiliki akses untuk melakukan deteksi dini, pencegahan, dan peng-obatan kanker dibanding kelompok yang berpendi-dik-an rendah.
Kebiasaan merokok yang berisiko menyebabkan kan--ker paru, misalnya, lebih banyak dilakukan oleh orang berpendidikan rendah. Wanita dari kalangan tak berpendidikan juga dilaporkan jarang melakukan tes mamogram untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.
Senyum Bayi Cerdaskan Otak Ibu
ILMU pengetahuan kini mengkonfirmasi apa yang telah lama diketahui para ibu: senyum bayi adalah obat yang jitu. Riset membuktikan, saat bayi tersenyum, area-area tertentu di dalam otak sang ibu menjadi aktif dan merangsang rasa gembira. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Pediatrics edisi Juli ini.
Dr Lane Strathearn dari departemen pediatri di Baylor College of Medicine, Houston, Amerika, menyatakan senyum bayi adalah stimulus yang sangat kuat bagi otak ibu. Sistem dopaminergic di dalam jaringan otak langsung bekerja saat ibu melihat senyum bayi-nya, tapi tidak terhadap bayi orang lain. Bayi yang tidak tersenyum-hanya menampilkan wajah netral atau bahkan sedih-tidak menimbulkan reaksi seperti ini pada otak ibu.
Secara biologis, kata Strathearn, bayi memang sangat bergantung pada ibunya. Sangat masuk akal jika alam menciptakan sistem yang memperkuat jalinan di antara keduanya. Meski demikian, penelitian ini juga membuktikan ada-nya sejumlah ibu yang bermasalah dengan emosinya sehingga tidak bisa menjalin ikatan dengan anaknya dan bahkan menyiksa darah dagingnya sendiri.
Andari Karina Anom (AP, ABC, Reuters)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
