• Home
  • 14 Juli 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip

Laporan Khusus

  • Sebuah Pemberontakan tanpa Drama


    Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.
  • Lelaki dari Lembah Gumanti


    Masa kecil Mohammad Natsir dihabiskan di berbagai tempat. Mulai dari Alahan Panjang, Maninjau, Solok, hingga Padang. Tempo mengunjungi beberapa tempat di antaranya.
  • Dendam Anak Juru Tulis


    Natsir sempat ditolak masuk sekolah dasar Belanda. Tak bayar iuran, ia pernah belajar kucing-kucingan.
  • Menunggu Beethoven di Homan


    Di Bandung, sekolah Belanda dan dunia pergerakan membentuk jiwa perlawanan Natsir. Kutu buku yang suka menunggu orkes Homan.
  • Setelah Diskusi Sore di Kampung Keling


    Di Bandung, jalan hidup Natsir berbelok. Perjumpaannya dengan A. Hassan dan keaktifannya di organisasi Islam membuat Natsir memutuskan menolak beasiswa ke Belanda. Ia pun mendirikan sekolah Islam modern pertama di Indonesia.
  • Bersikap Melalui Tulisan


    Natsir gencar mengkritik kaum nasionalis yang merendahkan Islam di majalah Pembela Islam. Tapi dia juga membela Soekarno
  • Saat Mesra dengan Bung Karno


    Hubungan Natsir dan Soekarno amat akrab di awal kemerdekaan. Kepentingan negara di atas perbedaan pendapat pribadi.
  • Menteri dengan Jas Bertambal


    Natsir membiasakan keluarganya hidup bersahaja. Dia sendiri memberikan teladan.
  • Arsitek Negara Kesatuan


    Mosi Integral merupakan karya utama Natsir sebagai bapak bangsa. Paduan kejelian membaca situasi dan kepiawaian melakukan lobi.
  • Bung Besar dan Menteri Kesayangan


    Soekarno dan Partai Nasional Indonesia mendongkel kabinet Natsir. Masyumi dan Partai Komunis Indonesia seperti minyak dan air.
  • Kalau Aku Mati, Ikuti Natsir


    Berbagai cara dilakukan Natsir untuk melunakkan hati Kartosoewirjo. Kendati gagal, Kartosoewirjo tetap menghormatinya.
  • PRRI: Membangun Indonesia tanpa Komunis


  • Dalam Masa Pengasingan


    Keterlibatan dengan PRRI membuat Natsir dan keluarga harus meninggalkan Jakarta setelah memanasnya konflik politik dengan pemerintah Bung Karno. Mereka mengarungi belantara Pasaman, Sumatera Barat.
  • Seorang Besar dengan Banyak Teman


    Natsir dipuji sebagai pendengar yang sabar. Hidupnya tak pernah sepi dari kawan dengan berbagai sifat dan aliran politiknya.
  • Mohammad Natsir


  • Adnan Buyung Nasution:
    Dasar Negara Islam tak Bisa Dipaksakan


  • Tangis untuk Mangunsarkoro


    Natsir dikenal sebagai pejuang politik Islam yang gigih. Dan dia penganjur terdepan pergaulan multikultural.
  • Mohammad Natsir, Pemikir-Negarawan


  • Surat untuk Tengku Abdul Rahman


    Dari dalam tahanan, Natsir mendorong pemulihan hubungan Indonesia-Malaysia. Orde Baru tak membalas jasa itu.
  • Baju Pengantin buat Bambang


    Hubungan Natsir dan Soeharto tergolong dingin. Tapi kedua putri tokoh itu sering saling berkirim penganan.
  • Natsir, Politikus Intelektual


  • Berpetisi tanpa Caci Maki


    Suara kritis Natsir tak lekang oleh usia tua. Aktivitasnya di Petisi 50 menunjukkan ia demokrat sejati.
  • Generator Lapangan Dakwah


    Setelah Soekarno melarang Masyumi dan Soeharto menolak memulihkannya, Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Giat bersuara antisekularisasi.
  • Aba, Cahaya Keluarga


    Demokratis dalam mendidik anak-anak, Natsir selalu menyampaikan pesan-pesannya dengan tersirat.
  • Semua Bermula di Jalan Lengkong


    Natsir menggagas lahirnya perguruan tinggi swasta Islam di Indonesia. Memadukan pendidikan Barat dan Timur.
  • Beberapa Kenangan


    Belasan tahun berpulang, Natsir masih dikenang secara khusus dalam ingatan banyak orang. Berikut ini beberapa petikan pengalaman sejumlah tokoh yang mengenal Natsir secara pribadi.
cover

Seni Rupa

Detail Meski tak Masyhur

Album

MENINGGAL
Pungkas Tri Baruno

Catatan Pinggir

La Police

La Police

TEMPO|interaktif

Nasional

Gus Solah Sarankan FPI Lakukan Survei

Olahraga

Lawan Novara, Inter Milan Mainkan Stankovic

Nasional

Jokowi Ternyata Rindu Didemo

Metro

Nyabu, Pegawai Kejaksaan Negeri Cibinong Ditangkap  

Metro

Penyerang Dua Polisi Bogor Tembakkan Pistol FN

Olahraga

Meski MU Menang, Alex Ferguson Tak Puas

Olahraga

Rooney Tertarik Jadi Kapten Inggris

Olahraga

Kalahkan Hong Kong, Indonesia Hadapi Thailand  

Seni & Hiburan

Panitia Grammy Ubah Acara Demi Whitney  

Nasional

Begini Ikrar Sumpah Pemuda Jilid II

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Indonesia Bertemu Lawan Mudah  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif