• Home
  • 11 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip

Laporan Utama

  • DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI


    Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia.

    Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya "seorang yang mahir dalam revolusi". Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

    Ia seorang yang telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.

  • Angka Tan


  • Berakhir di Gunung Wilis


  • Jalan Sunyi Tamu dari Bayah


    Menggagas konsep republik sejak 1925, Tan Malaka justru terlambat mengetahui proklamasi. Semboyannya membakar semangat dan mengilhami rapat akbar di Lapangan Ikada.
  • Kisruh Ahli Waris Obor Revolusi


    Soekarno pernah memberikan testamen politik dan naskah proklamasi kepada Tan Malaka. Testamen itu belakangan dibakarnya.
  • Si Mata Nyalang di Balai Societeit


    Tan Malaka membangun Persatuan Perjuangan di Purwokerto. Upaya menyerang politik diplomasi pemerintah.
  • Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis


  • Gerilya Dua Sekawan


    Tan Malaka dan Jenderal Soedirman sama-sama menentang diplomasi. Renggang setelah peristiwa Wirogunan.
  • Kerani yang Baik Hati


    Tan Malaka membangkitkan gerakan buruh di Bayah. Tempo menapak tilas perjalanannya.
  • Naskah dari Rawajati


  • Bolsyewik yang Terbuang


    Sejarah Republik mencatat, Ibrahim Datuk Tan Malaka seorang Bolsyewik. Dia membaca buku Karl Marx dan berguru kepada para dedengkot komunis Rusia. Dia pernah memimpin Partai Komunis Indonesia. Bersama tetua Sarekat Islam, Tan menggagas sekolah rakyat-tempat belajar murah bagi anak-anak kaum Murba yang ditelantarkan penjajah Belanda. Buku-bukunya yang bergelora, seperti Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie, menjadi bacaan "wajib" Ir Soekarno dan para bapak bangsa lain.
  • Peniup Suling bagi Anak Kuli


    Sekolah rakyat model Tan Malaka bertumbuhan di Jawa. Dia menjadikan Marxisme dan antikolonialisme sebagai dasar kurikulumnya.
  • Bertemu Para Bolsyewik Tua


    Mewakili Partai Komunis Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional di Moskow. Minta sekolah lagi tapi ditolak.
  • Dukungan untuk Pan-Islamisme


  • Tan Vs Pemberontakan 1926-1927


  • Gerilya di Tanah Sun Man


    Meski sibuk menjalin hubungan dengan para revolusioner kiri, dia sempat menulis buku tentang Republik Indonesia.
  • Penggagas Awal Republik Indonesia


  • No Le Toqueis, Jawa!


    Filipina adalah tanah air Tan yang kedua. Pesakitan di negeri sendiri, Tan justru dielu-elukan di Manila.
  • Tumpah Darahku dalam Sebuah Buku


  • Republik dalam Mimpi Tan Malaka


  • Macan dari Lembah Suliki


    Jejak hidup dan pemikirannya terentang dari lembah sepi Suliki di Payakumbuh, Sumatera Barat, hingga Moskow di belahan timur Eropa.
  • Cita-cita Revolusi dari Tanah Haarlem


    Tan Malaka pergi ke Belanda untuk sekolah guru. Ia pulang ke Indonesia dengan satu tekad: revolusi.
  • Sobatmu Selalu, Ibrahim


  • Trio Minang Bersimpang Jalan


    Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir berselisih paham tentang bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sama-sama egois.
  • Pemberontak dari Alam Permai Minangkabau


  • Dalam Penyamaran


  • Madilog: Sebuah Sintesis Perantauan


  • Perempuan di Hati Macan


    Kisah cinta Tan Malaka sama tragis dengan hidupnya yang klandestin. Mengidamkan sosok Kartini, ditolak dua kali oleh perempuan yang sama.
  • Wawancara Setelah Mati


    Tan Malaka bak selebritas. Kisah hidupnya dicuplik untuk kisah roman, sosoknya dipalsu dan diburu.
  • (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi


  • Persinggahan Terakhir Lelaki dan Bukunya


    Tan Malaka mati ditembak anggota TNI di Kediri. Siapa yang memerintahkan eksekusi?
  • Misteri Mayor Psikopat


  • Warisan Tan Malaka


cover

Catatan Pinggir

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu

Seni Rupa

Dongeng Masa Kini Heri Dono

Tentang Sejumlah Kisah Pribadi

Album

SAKIT
Irwandi Yusuf

TEMPO|interaktif

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

Nasional

Wamen Denny Tak Tahu Isi Pembicaraan Nazar-Nasir

Seni & Hiburan

Pesta Pre-Grammy untuk Whitney Bertabur Bintang

Seni & Hiburan

10 Lagu Terbaik Whitney Houston  

Nasional

Gus Solah Sarankan FPI Lakukan Survei

Olahraga

Lawan Novara, Inter Milan Mainkan Stankovic

Nasional

Jokowi Ternyata Rindu Didemo

Metro

Nyabu, Pegawai Kejaksaan Negeri Cibinong Ditangkap  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif