SAYA datang ke Bandung, masuk Institut Teknologi Bandung, 32 tahun lalu, sebagai seorang lulusan sekolah menengah atas "kuper" dari Solo. Mungkin secara akademis saya tidak terbelakang amat, tapi wawasan saya hampir hanya secupet batas-batas geografis Kota Solo. Meski institut itu memiliki segudang unit aktivitas yang dahsyat, adalah Masjid Salman yang lebih banyak membentuk kepribadian dan menjembarkan wawasan saya sebagai seorang mahasiswa muslim. Di keteduhan masjid tak berkubah inilah saya disadarkan untuk pertama kalinya akan peran mahabesar setiap kita bagi kemanusiaan, tak lain dan tak bukan oleh Imaduddin Abdurrahim, yang akrab disapa Bang Imad.
Tentu ada senior-senior lain dan banyak aktivis Salman yang punya pengalaman berorganisasi dan berpolitik (kemahasiswaan) yang mumpuni. Tapi Bang Imadlah yang menjadi roh semua kegiatan Masjid Salman. Kepribadiannya menjulang di antara yang lain. Pak Ahmad Sadali boleh berwibawa dan santun, demikian juga Pak Ahmad Noe'man. Pak Endang Syaifuddin memang putra almarhum Syaifuddin Anshari yang terkenal, Pak Rusyad Nurdin amat kebapakan, dan Pak Miftah Farid adalah dai muda yang witty. Ada juga Bang Armahedi Mahzar, Bang Aldy Anwar, dan Bang Ammar Haryono (penggagas dan pendiri Penerbit Pustaka Salman), yang memiliki pemikiran-pemikiran filosofis yang tidak biasa. Tapi yang menonjol di antara semua itu adalah kejujuran, ketegasan, keberanian, dan kecerdasan dosen jurusan elektro asal Medan ini.
Namun, tak ada encounter yang lebih mengesankan saya seperti ketika mengikuti Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang dimotorinya. Untuk pertama kalinya, wawasan keislaman kami dibuka dengan rasa keimanannya yang amat kuat-bahkan puritan-tapi, pada saat yang sama, logis dan saintifik. Terasa betul semangatnya untuk memahami Islam dengan cara yang tidak konvensional. Di antara pernyataannya yang terkenal adalah, masjid yang tidak dilengkapi penangkal petir pasti akan lebih rentan tersambar petir ketimbang sebuah kasino yang dilengkapi alat ini.
Maka Islam, khususnya ajaran tauhid yang menjadi inti semua pengajarannya, mendadak tampil amat segar dan penuh relevansi. Belakangan, pemikirannya ini terbit sebagai buku yang amat populer dengan judul Kuliah Tauhid. Ia pun terus mengobarkan semangat jihad seraya bersikap amat kritis terhadap rezim Soeharto-sehingga mengantarnya untuk mencicipi dinginnya lantai hotel prodeo. Meskipun demikian, tak ada agitasi untuk menggunakan kekerasan di dalam semua ceramah dan wacananya, whatsoever!
Saya tak bakal lupa bagaimana pada tengah malam di hari terakhir kami dibangunkan untuk mendengarkan ceramah Bang Imad yang amat menggerakkan dan bacaannya yang penuh semangat akan puisi termasyhur Iqbal: Syikwa wa Jawab-i Syikwa. Inilah puisi keluhan sang penyair anak-benua, yang menghanyutkan tapi sekaligus menggerakkan. Banyak di antara kami yang menangis, dan banyak yang merasakan betapa nyala api jihad-dakwah dikobarkan terang-terang pada dini hari itu.
Meski tak pernah kehilangan berbagai sifat dan sikap awalnya, di Amerika tampaknya terjadi pengayaan dalam pemikiran-pemikiran keislaman Bang Imad. Selain mungkin ada faktor perkenalannya yang lebih intens dengan Cak Nur dan Fazlur Rahman, secara cukup mencengangkan Bang Imad tertarik dengan pemikiran tasawuf. Saya ingat benar betapa dari Amerika dia mengirimkan kopi buku The Concept of Man according to Al-Ghazali karya Ali Issa Otman untuk diterjemahkan dan diterbitkan.
Sejak sukses membidani lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), tak banyak yang kita dengar tentang Bang Imad. Dia mengidap penyakit yang menyerang otak. Dalam sebuah pertemuan, dengan sedih Bang Imad mengisahkan rasa terpukulnya ketika penyakitnya itu sempat menggerus banyak hafalan ayat Quran yang dengan telaten dikuasainya.
Saya teringat ayat Al-Quran yang diajarkannya dan masih saya hafal sampai sekarang, Bang Imad (tentu belajar dari Nabi Muhammad yang amat dicintainya): "...tegas terhadap kaum penyangkal Tuhan tapi saling kasih-mengasihi di antara sesamanya. Kamu lihat mereka membungkuk dan bersujud demi mendapatkan ridha Allah. ... (Orang-orang seperti ini) bagaikan benih, yang menumbuhsuburkan cecabang dan rerantingnya, lalu menjadikannya kukuh, membesar, berdiri tegak atas batangnya, sehingga menggembirakan penanamnya...."
Saya yakin, Bang Imad dengan suka rela kembali kepada Rabb-Nya pada usia 77 tahun, mendapatkan pemenuhan sempurna akan keimanannya kepada Dia, dan kembali ke pangkuan kasih sayang-Nya. Abang, semoga Allah memberikan ganjaran kebaikan yang berlimpah padamu.
Haidar Bagir,
Direktur Utama Penerbit Mizan/aktif di Masjid Salman pada 1976-1981
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
