SELAMA bertahun-tahun, dua medali itu begitu menggoda Taylor Phinney. Benda keemasan itu milik Carrie-si mommy. Yang perunggu milik Davis Phinney, si daddy. Keduanya atlet balap sepeda Amerika Serikat, yang sukses bertarung di ajang Olimpiade 1984 di Los Angeles, Amerika Serikat.
Taylor tidak hanya takjub, tapi dia juga ingin memiliki medali persis seperti itu. Beruntung, bakat dari kedua orang tuanya menetes sempurna. Menjelang remaja, otot-otot di kedua kakinya makin kuat dan membuatnya mampu mengayuh kereta angin dengan kecepatan tinggi.
Untuk tingkat junior, di usia 18 tahun, dia terbilang pembalap yang tiada duanya. Beberapa medali sempat terkalung di lehernya. Dengan menunggang si Felt, sepeda yang dibuat khusus untuknya, Taylor berharap bisa membuat sejarah di Olimpiade Beijing.
Mendekati waktu lomba, latihan Taylor bukannya berkurang, malah semakin ketat. Dia juga ikut berbagai kejuaraan, seperti yang diadakan di Afrika Selatan, Juli lalu, dan di Bordeaux, Prancis. "Setelah itu, saya berlatih keras selama tiga minggu menghadapi Olimpiade ini," katanya penuh percaya diri.
Pasti, bukan hanya Taylor yang ingin membuat prestasi bagus di Beijing. Di mana pun Olimpiade digelar, ajang olahraga dunia ini selalu menjadi ukuran puncak pencapaian prestasi olahraga di planet ini. Sesuai dengan semboyan citius, altius, fortius-lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat-para atlet berjuang sekuat tenaga menjadi yang terbaik.
Jelas bukan hal gampang mendapatkan medali emas, apalagi mencetak rekor dunia. Tapi banyak ambisi yang lebih dari itu. Olimpiade kali ini-seperti juga yang lalu-tetap akan menjanjikan sejuta aksi spektakuler. Catat saja. Perenang multigelar kejuaraan dunia asal Amerika Serikat, Michael Phelps, yang berambisi merebut emas melebihi rekor Mark Spitz. Veteran perenang yang juga atlet Amerika Serikat itu pernah memborong tujuh medali emas dalam satu ajang, yaitu di Olimpiade Munich 1972. Atau Asafa Powell, pelari cepat asal Jamaika, yang ingin memecahkan rekor 100 meternya sendiri. Pelari 24 tahun itu telah menjadi orang tercepat di lintasan 100 meter, dari 2005 hingga 2008, dengan waktu 9,77 detik.
Untuk sebagian atlet, bisa mengikuti Olimpiade sudah dianggap sebagai pencapaian. Sebagian lagi memasang target lebih dari itu: medali emas, bahkan memecahkan rekor. Tapi ada juga yang menginginkan prestasi lebih tinggi: menyempurnakan kecemerlangan sebagai atlet. Latar belakang dan motivasinya pun berbeda-beda.
Dalam dunia olahraga, usianya terbilang sudah sangat uzur: 41 tahun. Tapi, coba lihatlah Dara Torres. Mama seorang putri bernama Tessa, 2 tahun, ini sungguh luar biasa. Penampilannya tetap terjaga. Bodinya masih kencang, singset, dan, alamak, dia punya six pack di perutnya.
Tidak hanya bentuk tubuhnya yang bikin iri kaum Hawa, kekuatan siripnya, eh tangannya, juga luar biasa. Dia bisa mengayuh di air dengan kecepatan tinggi. Beberapa waktu lalu, perempuan kelahiran Florida, Amerika Serikat, ini berhasil membukukan catatan gemilang. Untuk nomor 100 meter gaya bebas, Torres adalah pemegang juara dengan 53,78 detik, dua detik lebih cepat ketimbang catatan terbaiknya di Olimpiade 1988 di Seoul, Korea.
Olimpiade kali ini adalah yang kelima bagi Torres. Artinya, perempuan ini sudah 24 tahun menjadi kebanggaan Amerika Serikat. Meski dia tak lagi berlomba untuk 100 meter-rekannya Lacey Nymeyer akan menggantikannya-Torres tetap menjadi ancaman perenang lain untuk estafet 4x100 meter gaya gabungan dan bebas, serta tentu saja di nomor andalannya: 50 meter gaya bebas.
Sebenarnya Torres sudah "ambil handuk" dari dunia renang sejak 2000, tatkala usianya sudah menclok di angka 33. Tapi, setelah lahir Tessa hasil hubungan cintanya dengan David Hoffman pada 2006, tiba-tiba dia ingin nyebur lagi. Hasilnya tak tanggung-tanggung. Di usia 40 tahun, 15 bulan setelah melahirkan, Torres menjuarai gaya bebas 100 meter se-Amerika Serikat. Ini kemenangannya yang ke-14.
Aneh memang, makin tua kok makin hebat. Apa resepnya? Orang banyak curiga, Torres menggunakan obat pemacu. Tapi Torres tanpa ampun menantang mereka yang menaruh syak wasangka buruk itu. "Ayo, tes saya," dia menyergah. Pada musim panas silam, Badan Antidoping Amerika Serikat mengetes para atlet secara acak setiap minggunya. Torres mengajukan diri menjadi salah satu sukarelawan. Eh, memang benar, aman. Pipis Torres bebas dari zat-zat yang digolongkan pemacu.
Torres punya resep ampuh dalam menjaga staminanya. Dia mengkonsumsi suplemen asam amino buatan Jerman, yang didapatkan dari kolega pelatihnya. "Saya sangat beruntung, suplemen itu bisa mempercepat proses kembalinya saya ke kolam renang," katanya.
Ini juga yang penting. Selama menjadi atlet ataupun saat rehat, dia tidak pernah berhenti berlatih kebugaran. Caranya, Torres selalu melakukan aktivitas peregangan dengan mendorong kakinya yang ditahan teman latihannya. "Di dalam air, yang terpenting bukanlah kekuatan tapi gerakan yang efisien," katanya.
Apa yang ingin dicapai di Beijing? Torres ingin memberikan yang terbaik bagi kaum perempuan. "Saya ingin wanita seusia saya bangga pada pencapaian yang saya raih. Saya tidak mau mengecewakan mereka." Ah, tanpa naik ke podium medali pun, dengan penampilan yang kelima kalinya di ajang Olimpiade ini, sesungguhnya Dara Torres sudah membuat sejarah.
BERSAMA bintang basket Yao Ming, pelari gawang Liu Xiang adalah ikon Cina dalam hajatan Olimpiade di Beijing ini. Penampilan pria 25 tahun ala generasi MTV ini-salah satunya dengan mengecat rambut dengan warna pirang-muncul di berbagai poster, billboard, televisi, dan sampul majalah.
Liu boleh dibilang atlet paling populer di negerinya. Tentu bukan karena tampangnya yang oke, tapi prestasinya juga luar biasa. Dia orang pertama di luar atlet berdarah Afrika yang mampu menembus catatan waktu di bawah 13 detik. Dalam kejuaraan dunia atletik di Osaka, Jepang, pada 2007, Liu mencatat 12,95 detik untuk lari gawang 110 meter. Saat itu Liu menyabet gelar juara dunia untuk pertama kali.
Kehebatannya yang lebih sebenarnya telah dibuktikan ketika turun di Olimpiade Athena, empat tahun silam. Catatan waktunya malah 12,91 detik untuk nomor 110 meter gawang putra. Tak lama berselang, dua tahun kemudian, catatan waktu itu makin tipis saja. Di Lausanne, Swiss, dalam kejuaraan Grand Prix IAAF, dia membuat rekor baru menjadi 12,88 detik.
Sesungguhnya, sosok Liu tidak saja menarik perhatian saat berada di lintasan. Dia juga memukau ketika tidak mengenakan seragam atletik negerinya. Dalam kehidupan sehari-hari, dia tak ubahnya selebritas. Apa pun yang dilakukannya selalu menarik diikuti.
Di atas semua itu, yang membuat rakyat Cina jatuh sayang adalah sikapnya yang rendah hati dan penolong. Ketika gempa mengguncang Sinchuan, yang menewaskan sekitar 10 ribu jiwa, Mei lalu, dia menyumbangkan 2,5 juta yuan. Itu sekitar Rp 3,3 miliar. Jelas sudah, rakyat Cina klepek-klepek pada atlet muda yang berpenampilan keren tak kalah dengan bintang serial Meteor Garden itu. Mereka berharap dan mendoakan agar di Olimpiade kali ini Liu bisa mencetak rekor baru.
Pemerintah jelas memiliki harapan serupa. Usahanya pun serius. Untuk menjaga kebugaran Liu, mereka menyewa tiga dokter yang memantau perkembangan kesehatan dan kebugaran sang bintang.
Ternyata perlakuan berlebih itu dikhawatirkan malah akan meninggalkan beban berat pada langkah Liu. "Beberapa pejabat mengatakan, bila Liu tidak bisa mendapatkan emas di Olimpiade kali ini, semua usaha dan pencapaian yang pernah dia dapatkan menjadi sia-sia," demikian menurut Sun Haiping, situs resmi Liu Xiang.
Benarkah fasilitas nomor wahid akan berdampak buruk? Itu masih harus dilihat. Yang jelas, Liu sudah siap dengan segala yang akan terjadi di lintasan. Baginya, berlari sambil melompati gawang menjadi ritual yang menyenangkan. "Mungkin bagi atlet lain, ini hanyalah sebuah pekerjaan. Tapi, buat saya, berlari adalah sesuatu yang sangat saya cintai," katanya.
EMPAT tahun silam, Diana Lopez, 23 tahun, mengirimkan kartu ucapan kepada abangnya, Steven Lopez, 30 tahun. Ketika itu mereka bertarung di Olimpiade Athena, Yunani. Isinya, sebaris kalimat motivasi. "Lakukan untukku, kemenanganmu akan sangat berarti bagiku." Begitu ucap D-Lo, panggilan akrabnya. Ternyata cespleng. Di Athena, Steven beroleh emas untuk cabang taekwondo kelas welter.
Kali ini, di Beijing, motivasi serupa justru akan diembuskan Steven kepada adiknya. Tidak hanya bagi Diana, tapi adiknya yang lain, Mark, 26 tahun. Steven tidak perlu mengirimkan kartu melainkan cukup dengan berteriak di pinggir lapangan. Ya, mereka bertiga, kakak beradik, tampil di Olimpiade membela Amerika Serikat.
Inilah untuk pertama kalinya sejak 1904, sebuah keluarga turut bertarung di pesta olahraga Olimpiade. Tim taekwondo Amerika Serikat, selain Steven, Mark, dan Diana, juga membawa Jean-kakak mereka, yang datang sebagai pelatih.
Keluarga Lopez memang ahli dalam seni bela diri asal Korea ini. Semuanya buah kerja keras Julio, sang ayah, yang melatih mereka di garasi rumahnya di Texas. Julio datang ke Amerika Serikat sebenarnya dalam rangka menjalankan tugas sebagai pegawai Presiden Nikaragua, Anastasio Somoza. Namun Somoza terjungkal lewat Revolusi Sandinista pada 1979. Ketimbang pulang ke negerinya, Julio memilih menetap di Texas, sambil melatih anak-anak mendalami taekwondo.
Ternyata mereka sangat berbakat. Diawali dari Jean. Meski sempat bertarung di berbagai kejuaraan, nasibnya kurang bersinar. Justru, tiga adiknyalah yang dinaungi cahaya terang. Puncaknya, mereka nyelonong hingga ke Olimpiade.
Steven tentu yang terbaik. Dia sudah mengumpulkan emas dalam dua Olimpiade. Nah, kali ini menjadi salah satu obsesinya mencetak hat trick mendapatkan medali emas.
Bagaimana dengan Mark? Dia menjuarai pertandingan sembilan kali berturut-turut di tingkat junior. Pada 2005, setelah beroleh medali emas dalam Kejuaraan Dunia Taekwondo, dia pun dinobatkan sebagai taekwondoin Amerika terbaik bersama abangnya. Sedangkan si bontot tak kurang garang. Diana, yang turun di kelas menengah putri, merebut medali emas di Kejuaraan Dunia 2005.
Atlet seperti Taylor Phinney, Dara Torres, Liu Xiang, dan keluarga Lopez tentu punya cerita berbeda, lebih dari sekadar mewakili negara dan meraih prestasi. Mereka memiliki beban sekaligus dorongan yang unik.
Irfan Budiman
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
