• Home
  • 11 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Agustus 2008

    Dongeng Masa Kini Heri Dono

    DI Jakarta masih beredar topeng monyet. Ada yang bergerak dalam grup, ada yang perorangan, mengamen bersama seekor monyet atau lebih. Sering kali monyet itu diberi nama Sarimin.

    "Sarimin pergi ke pasar," perintah sang dalang. Maka monyet itu pun diberi tas kecil dan payung kecil sesuai dengan tubuhnya, lalu ketika musik ditabuh si monyet berjalan berkeliling sejauh tali yang mengikatnya. Salah satu lukisan Heri Dono di pamerannya di Galeri Nasional dengan sponsor Edwin Gallery hingga Sabtu pekan ini berjudul The Last Sarimin.

    Tapi jelas itu bukan "Sarimin" topeng monyet. "Sarimin" adalah cerita yang sudah difilmkan: King Kong. Seekor gorila bertengger di puncak pencakar langit, di tangan kanan payung merah, di tangan kiri sebiji pisang. Sejumlah pesawat tampak cuma segede capung mengelilingi sosok "Sarimin" yang ini. Satu konstruksi antena terlihat di kanan, tampak bak mainan. Wajah "Sarimin" berang. Ia memperlihatkan giginya yang tajam-tajam, menjulurkan lidahnya yang merah. Rantai yang mengikat kedua kakinya telah putus (tentu saja, kalau tidak, bagaimana ia bisa sampai di puncak pencakar langit).

    Parodikah ini? Pasemonkah ini? Sulit menemukan parodi atau sindiran atau sejenisnya dari lukisan ini dengan film King Kong. Heri Dono hanyalah memindahkan adegan film ke kanvas menurut gaya melukisnya.

    Tapi judul "Sarimin" itu? Itulah masalahnya. Antara judul dan karya memang mengundang senyum, sejenak. Kembali ke karya, justru judul ini mengganggu karena tak ada jejak topeng monyet.

    Lukisan satu ini mungkin menjadi alasan agar pembukaan pameran Heri Dono yang dilakukan oleh Butet Kartaredjasa klop. Aktor yang dikenal lantaran piawai menirukan gaya dan bicara Presiden Soeharto tatkala masih berkuasa itu memang pernah mementaskan naskah Monolog Sarimin, dan naskah ini memang mengambil ide dari pertunjukan topeng monyet.

    Memang benar, lukisan bertarikh 2008 ini menarik karena bisa menjadi kunci memasuki karya-karya Heri Dono. Pertama, Heri Dono itu bagaikan dalang: melalui lukisan ia berkisah bukan kisah pewayangan, melainkan dongeng-dongeng modern. Misalnya ihwal pendaratan pertama di bulan dan soal kuda Troya-dua hal yang diperdebatkan apakah kisah itu nyata adanya atau rekayasa. Atau tentang Tarzan, tentang Badman (bukan Batman), dan lain-lain. Tentu ia tak mengisahkan kembali cerita-cerita sebagaimana diketahui umum.

    Nah, sebagaimana The Last Sarimin, dialog antara lukisan dan pengunjung mungkin akan berhasil sebagaimana pelukisnya membayangkannya kalau lukisan itu memang menghadirkan kisah secara lain. Secara parodi atau pelesetan dan sejenisnya.

    Lukisan paling jelas yang menghadirkan tak sekadar kisah adalah Tarzan Today. Ini Tarzan, si monyet bule, sedang berhadapan dengan rusaknya lingkungan, hutan gundul, dan bagaimana mungkin Tarzan bisa berayun-ayun dari satu pohon ke pohon yang lain? Tapi bukan soal ini yang dilukiskan oleh Heri. Tarzan berduka, duduk, dan di pangkuannya tergeletak orang tua tirinya, sang gorila, tewas-tentulah karena hutannya hilang. Komposisi duduknya Tarzan dan tergeletaknya gorila degan mudah mengingatkan kita pada patung yang populer, yakni patung Michelangelo, Pieta. Bunda Maria memangku Yesus, yang kedua tangan dan kakinya berdarah bekas paku penyaliban. Inilah kesedihan itu, kesedihan manusia atas penindasan dan kekejaman. Dari sisi kisah, Tarzan Today sukses menyampaikan pesan lewat pelesetan. Tarzan pun tak berdaya ketika hutan menjadi gundul-betapa konkret ancaman itu kini.

    Bagaimana seandainya judul lukisan ini bukan Tarzan, melainkan, misalnya, Lukisan Satu? Gambar sosok pemangku itu dan yang dipangku jelas mengacu pada kisah Tarzan. Komposisi pemangkuan jelas mengingatkan kita pada Pieta. Tanpa judul pun karya ini bicara.

    Karya yang lain ada di antara The Last Sarimin dan Tarzan Today itu. Trojan Horse, misalnya, adalah sebentuk kuda kayu dengan orang-orang di dalamnya. Secara gambar, karya ini enak dilihat, komposisi diagonalnya membuat lukisan ini tak cepat membosankan, dengan warna-warna kecokelatan yang serasi. Dari ini saja, lukisan ini sedap dipandang. Dan ketika menengok judulnya, tetap saja kita bisa menikmatinya, karena judul tak bertentangan dengan lukisan. Hanya, karya ini, selain enak dipandang, mengundang pertanyaan yang menjurus ke praduga: lukisan ini pasti bukan sekadar gambar kuda-kudaan dan sejumlah figur. Begitu kita paham ini kuda Troya, lukisan pun tambah enak dipandang. Dalam hal The Last Sarimin, ada yang mengganjal ketika kita mencoba menghubungkan antara judul dan karya.

    Ada lagi yang seperti Trojan Horse dalam pameran ini: Badman Saves Vincent van Gogh from His Suicide Attempt, lalu Going Away from Television Life, Badman & Superbad.

    Yang kocak, karikatural, adalah Penemu Bulan yang Pertama (Heri Dono kadang memberi judul karya dalam bahasa Indonesia, sering dalam bahasa Inggris). Komposisi, wajah figur yang lebar mulutnya, segera membawa kita ke suasana yang kocak, ke sebuah kejutan bahwa ternyata ada benda seperti ini di alam raya ini. Judulnya berbahasa Indonesia mungkin karena penemu bulan itu orang Indonesia, yaitu Gatotkaca, tokoh wayang yang pandai terbang, anak Bima, orang kedua dalam Pandawa. Bukan bahasa Urdu karena, sebagaimana kita semua, Heri Dono pun maklum kita telah berhasil menjadikan Mahabharata milik kita.

    Ada yang perlu dicatat dari pameran yang dikuratori Agung Hujatnikajennong ini. Terasa bahwa Heri Dono sudah makin yakin akan gayanya dan figur-figur ciptaannya. Setelah sret-sret-sret dengan kuasnya, jadilah lukisan dan pasti bagus. Maka karya-karya akrilik di kanvas terlihat bersih, sekali sapu atau coret, lebih banyak warna asli dari tube, bukan warna hasil campuran. Pun, "keruwetan" hal-hal kecil yang ornamentik berkurang hingga latar belakang terasa sepi. Cukup menonjolkan pokok lukisan dan yang lain-lain bila sempat saja? Mungkin begitu.

    Namun akibatnya, buat saya, kurang asyik memandang karya-karya yang bersih dan spontan ini. Tentu bukan soal bersih dan spontannya. Coba lihat karya 2006, Donosaurus Going to the City. Warna-warna di sini adalah warna-warna kusam Heri Dono. Sekali pandang seolah warna-warna itu memikat mata sehingga kita mau berlama-lama di depan lukisan sekitar dua seperempat meter kali tiga setengah meter ini. Ini bukan hanya cerita tentang donosaurus (pelesetan dari dinosaurus, tentunya, dan kebetulan nama pelukisnya Dono). Ini sebuah lukisan yang masih memiliki karakter "abstrak". Bukan hanya bentuk figur, juga unsur-unsur lukisan itu sendiri (garis, warna, bidang, barik, dan sebagainya) membentuk rasa yang mengundang penjelajahan estetik. Unsur-unsur itu menggetarkan perasaan. Nah, inilah yang hilang dari sebagian besar karya Heri Dono di pameran ini, karena menurut saya ia asyik dengan cerita.

    Bila benar bahwa pelukis satu ini menimba gagasan dan segalanya dari dunia wayang kulit, bukankah pertunjukan wayang tidak hanya terdiri atas kisah si dalang yang kita dengarkan, tapi juga wayangnya? Termasuk bagaimana wayang itu "bermain" di layar.

    Ini terjadi justru ketika Heri Dono sudah sangat menyatu dengan keseniannya. Apa pun yang ia coretkan di kanvas, jadilah. Sudah terlalu "mudah" baginya untuk hanya melukis. Mungkin ia perlu bertualang lagi, nonton wayang kulit sampai menemukan sesuatu, atau pergi ke dunia lain.

    Bambang Bujono, pengamat seni rupa


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu

Seni Rupa

Dongeng Masa Kini Heri Dono

Tentang Sejumlah Kisah Pribadi

Album

SAKIT
Irwandi Yusuf

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif