• Home
  • 11 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Agustus 2008

    Tentang Sejumlah Kisah Pribadi

    DUA sosok perempuan melayang di pojok ruangan. Keduanya bersayap, matanya sama-sama melirik. Namun hanya satu di antara mereka yang berbadan dua. Tubuh hamilnya penuh sketsa. Seluruh permukaannya ditempeli dilema: janin dalam perut dan potongan janin-janin lain yang menempel di tubuhnya.

    Yang tidak hamil pun melayang dengan kaki tertekuk. Tubuhnya diselimuti kain tipis putih. Meski demikian, kain transparan itu tak berhasil menutupi dilema serupa yang mengintip. Perupa Lie Fhung memberi judul dua perempuan karyanya itu To Breed or Not to Breed–Vis a Vis.

    Lie Fhung adalah satu dari empat perupa yang karyanya tampil di Sigiarts Gallery, Jakarta, hingga 16 Agustus mendatang. Dengan judul Sincere Subjects, di dalamnya ikut dipajang video dan foto-foto pertunjukan seniman Melati Suryodarmo serta sketsa gambar dari perupa Ugo Untoro dan seniman Jose Legaspi, asal Filipina.

    Dalam jalinan kawat tembaga, potongan-potongan cat akrilik di atas kanvas dan kain putih menyerupai sayap, karya Lie Fhung terasa halus dan cantik. Tapi janin dalam perut justru menimbulkan nyeri. Janin itu melayang-layang, dan dengan sayap-sayap putihnya itu kemudian terbang ke langit. Ini bak luka kehilangan seorang calon ibu yang janinnya keburu mati.

    Lie Fhung sudah pernah mengeksplorasi sayap sebagai simbol metafor dari karyanya tiga tahun lalu. Tapi, kurator Hendro Wiyanto menulis, kini perupa asal Institut Teknologi Bandung ini memperluasnya ke hal yang dilematis bagi perempuan: apakah mengikuti "determinasi biologis" untuk melahirkan atau menyalurkan energinya untuk ekspresi di hal lain?

    Ini pertanyaan retorikal yang tak mesti dijawab. Namun eksplorasi terhadap hal yang demikian intim dan personal itulah yang dirayakan Hendro terhadap karya-karya dari keempat seniman itu. "Mereka seakan hanya ingin jujur kepada dirinya sendiri," kurator Hendro Wiyanto menulis.

    Tangkaplah ekspresi jujur itu dari Melati Suryodarmo. Serial fotonya, karya Rama Surya, menggambarkan Melati yang dibalut kain hitam berdiri di tepi pantai memandang cakrawala. Di dadanya yang separuh terbuka, ia menggendong seekor ayam jago. Judulnya Memorabilia. Perempuan kelahiran Solo tahun 1969 ini juga menyumbangkan tiga video pertunjukannya di sekeliling Eropa. Pada saat pembukaan, Melati menyajikan pertunjukan tiga jam bertajuk I Love You. Dengan latar merah, Melati merangkak di atas dengkulnya dengan membawa sebidang besar kaca di punggungnya. Perlahan-lahan ia bergerak agar kacanya tidak pecah berhamburan. "Subyektivitas seakan ditekan, tapi itulah yang menjaga agar kaca tidak pecah," kata Hendro.

    Simak juga ekspresi Ugo Untoro, seniman asal Purbalingga, Jawa Tengah. Puluhan gambar Ugo dipajang mengisi satu sisi dinding. Dengan tarikan bolpoin yang ringan dan pulasan cat air, Ugo menampilkan dilemanya sendiri tentang rasa malas, waktu, dan yang utama, seks. Dinamai serial Javasutra, Ugo seolah-olah terinspirasi dengan kitab Kamasutra dari India. Lakon persetubuhan yang ia gambarkan dengan sangat grafis dan berwarna itu sesungguhnya klasik saja. Tak ada yang terlampau akrobatik. Yang istimewa, wajah sepasang laki-laki dan perempuan itu diambil dari lakon wayang.

    Menguasai dinding berikutnya, adalah jejeran gambar seniman asal Filipina, Jose Legaspi. Serial gambar berukuran 22,8 x 30,5 sentimeter berjudul Phlegm ini hanya sebagian dari ribuan gambar serupa ciri khas seniman kelahiran 1959 ini. Nuansa arang legam gambarnya sungguh kontras dengan putihnya galeri. Demikian pula isinya. Ada lelaki muntah. Perempuan bertanduk. Mulut berdarah. Peti mati. Cahaya sesekali, tapi selebihnya gelap. Dalam kata-katanya sendiri, Legaspi, yang seorang homoseksual, mengatakan ia "menyingkapkan sejarah personal dan jalan keluar yang tak kunjung henti antara ketakutan dan masa depan."

    Kesimpulannya, obyek karya mereka yang berkisar Rp 5 juta hingga Rp 80 juta itu bisa jadi serupa dengan yang terlintas dalam benak anak manusia. Tak perlu dicari hubungan antarobyek karena satu-satunya benang merahnya adalah narasi yang jujur itu sendiri.

    Kurie Suditomo


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu

Seni Rupa

Dongeng Masa Kini Heri Dono

Tentang Sejumlah Kisah Pribadi

Album

SAKIT
Irwandi Yusuf

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif