• Home
  • 11 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Agustus 2008

    Bandung Creative City Forum:
    Kami Capek Mendengar Janji Pemerintah

    MEREKA muda dan kreatif. Umur di bawah 35 tahun, dengan tampilan khas-celana jins berlubang-lubang plus kaus oblong. Tapi jangan sembarangan: diam-diam isi dompet mereka mulai berjubel. Begitulah, mereka pintar membisniskan hobi.

    Anak-anak muda itu pula yang membuat Bandung jadi hidup dan dinamis. Kota ini memang seperti selalu jadi markas orang kreatif: musik eksperimental, atau busana khas anak muda yang lazim disebut clothing. Semua "kegatalan" itu membuat ekonomi Bandung bergolak dan menyerap banyak tenaga kerja.

    Sejak pertengahan Juli sampai akhir bulan ini, anak-anak muda yang tergabung dalam Bandung Creative City Forum itu menggelar Helarfest. Festival ini mirip keramaian rakyat. Berbagai atraksi seni, tradisional sampai eksperimental, dijajal. Ada pemutaran film, pameran arsitektur, sampai festival jazz. Semua komunitas kreatif Bandung seperti tak mau ketinggalan unjuk kebolehan.

    Rabu pekan lalu, Nugroho Dewanto, Widiarsi Agustina, dan Ahmad Taufik dari Tempo berbincang dengan para penggiat Bandung Creative City Forum. Tempo bertandang ke "sarang" mereka di Common Room, rumah mungil di tengah Kota Bandung.

    Ridwan Kamil-akrabnya Emil-pemenang International Young Creative Entrepreneur dari British Council pada 2006. Gustaff Harriman Iskandar pemenang pada 2007. Tubagus Fiki Chikara Satari finalis pada tahun yang sama. Mereka bergantian menjawab Tempo perihal Helarfest dan ekonomi kreatif di Bandung.

    Apa jenis ekonomi kreatif andalan Bandung?

    Emil: Clothing dan musik. Dulu, zaman krisis moneter, ada tujuh merek. Sekarang 400. Mereknya unik-unik. Isu kontemporer bahkan bisa dijadikan inspirasi bisnis.

    Kuliner bagaimana?

    Emil: Masih diperdebatkan. Ekonomi kreatif itu kan barang baru?

    Yang disepakati adalah kegiatan yang bisa dipatenkan. Siapa saja yang berpikir, menghasilkan sesuatu, apakah jasa atau barang, dan bisa dihakciptakan, itu menjadi ekonomi kreatif.

    Semua produk Anda sudah dipatenkan?

    Emil: Itu bagian yang sedang dikampanyekan juga. Dot bdg hendak dipatenkan.

    Fiki: Sebenarnya sudah bosan membahas ini. Semua, dari pemerintah kota hingga provinsi, ngomongin paten. Tapi semua punya keterbatasan. Berapa cost per bulan yang harus kami tanggung? Mengurus sertifikat paten saja paling cepat dua tahun baru selesai.

    Jadi, musuh ekonomi kreatif itu pembajakan?

    Emil: Kami punya strategi melawan pembajakan lewat media dan pendidikan. Jika fight dengan hukum enggak bisa, minimal kami pakai cara kreatif untuk melawan. Mengimbau, melawan, atau membikin malu. Kami juga bisa terlibat sampai jaringan penjualan.

    Fiki: Memang harus dilawan, karena grup ini sangat besar. Mereka bahkan mengakui, hidup untuk membajak. Untuk pembajak kelas teri, kami berusaha membantu mereka. Cuma, problemnya, ternyata banyak juga pembajak kakap. Mainnya sampai kontaineran. Barang saya dibajak sampai Batam dan Mojokerto.

    Berapa besar potensi ekonomi kreatif di Bandung?

    Fiki: Dari segi value, setidaknya tahun 2006 ada Rp 25 miliar per bulan dari clothing saja. Itu angka konservatif. Masalahnya, susah menghitung, karena kondisinya berbeda. Ada clothing baru, ada yang sudah besar. Bila melihat saat Kickfest kemarin, sepertinya enggak ada krisis ekonomi di Indonesia. Belum lagi puluhan ribu tenaga kerja yang terserap.

    Apa yang membuat ekonomi kreatif ini tumbuh?

    Gustaff: Saya membacanya sebagai cultural movement. Mereka ini generasi baru yang tidak saja lihai penetrasi pasar, tapi juga menciptakan pasar. Mereka mengkonstruksi sendiri identitas, gaya hidup, produk, dan jaringan. Begitu pula strategi. Ada insting untuk bertahan hidup.

    Apa branding yang hendak dilekatkan buat Bandung?

    Fiki: Emerging Creative City. Ini sebenarnya mengarah ke karakter Bandung. Kami semua sepakat potensinya di situ. Organisasi ini bukan sekadar kumpul-kumpul.

    Emil: Yang jelas, lokalitas tidak pernah kami lupakan. Kami suntikkan ide kreatif, bagaimana menghasilkan nilai ekonomi. Saat kami meluncurkan dot bdg, itu kan harus diisi secara individualitas? Tapi komunitas juga harus hadir. Terbukti, dalam acara Helarfest, kaus dot bdg paling diminati, sampai kehabisan. Pada dasarnya turis ingin kenangan. Nostalgia "I was here"-nya paling disukai.

    Apa yang membedakan kreativitas Bandung dengan kota lain di Indonesia?

    Emil: Ketika bertemu Wali Kota, saya katakan, "Pak, salah kalau menyebut Bandung kota seni budaya. Kita kalah dengan Bali dan Yogya." Bandung menonjol dengan kreativitas. Seni budayanya sangat eksperimental. Sejak 1920-an, Bandung di-set up oleh Belanda sebagai kota pelesir. Nilai asing mudah bercampur dan diadaptasi. Itu yang menyebabkan produknya lebih variatif, eksperimental. Bandung sangat kosmopolitan.

    Apa pula kelebihan Bandung dibanding kota kreatif lain?

    Emil: Di Bandung, komunitasnya sangat kuat. Kegiatan mereka tidak didikte oleh pemerintah. Kalau di negara maju, bujetnya triliunan.

    Fiki: Di kota negara maju, pemerintahnya mendorong grass root supaya kreatif. Di Bandung kebalikannya. Kita yang kreatif, supaya pemerintahnya ikutan.

    Apa hambatan pengembangan ekonomi kreatif di Bandung?

    Emil: Selain paten, kepercayaan dari perbankan yang amat rendah. Ekonomi kreatif itu tergolong baru, bukan sektor yang dipahami bank di Indonesia. Mereka lebih mudah memberikan pinjaman ke petani, karena ada tanah, ada agunan, sementara kami menjual ide. Buat mereka, mungkin menghitungnya susah. Makanya Silicon Valley dan Google sukses bukan karena perbankan, melainkan venture capital. Mereka private sector yang percaya ide itu dan mau menanam saham.

    Fiki: Ada beberapa teman yang mulai ke perbankan. Namun hasilnya sama. Kami capek mendengar janji-janji pemerintah akan menjamin, atau departemen sebagai penjamin kredit. Realisasinya enggak ada. Kami ngomong di Jakarta, di Bandung lain. Mereka selalu bertanya: apa jaminannya?

    Di Bandung belum ada venture capital?

    Fiki: Belum ada.

    Kecuali venture capital yang betul-betul private?

    Fiki: Ya, pinjaman orang tua. Soalnya, kami juga hati-hati. Ada yang punya modal besar, ingin bikin BDC, Bandung Distro Center. Mereka akan bangun gedung tiga lantai, semua distro masuk. Kami cek dulu siapa di belakangnya. Soalnya, sudah sering banget, setelah diajak ngobrol, mereka ternyata enggak ngerti kami.

    Kalian khawatir tawaran itu malah untuk memangsa?

    Emil: Terus terang juga, yang mau menunggangi kami itu banyak. Mereka mengklaim bahwa kami adalah hasil bimbingan mereka, baik organisasi dari luar maupun aparat lokal. Itu sebabnya kami tak mau naif.

    Apakah sudah berusaha mencari venture capital?

    Emil: Kami akan minta bantuan beberapa pengusaha yang masih terbilang warga Bandung, misalnya Arifin Panigoro. Apa definisinya? Pernah tinggal, sekolah, atau orang asli Bandung. Pokoknya irisannya di situ. Kami akan mencoba mereka yang punya akses kapital untuk menampung keluhan itu.

    Bandung terkenal sebagai gudang pemusik berbakat, tapi mengapa untuk jadi populer mereka harus pergi ke Jakarta?

    Fiki: Paling basic, kami enggak punya tempat yang representatif.

    Emil: Selain tempat, juga tidak ada yang mengambil peran sebagai produser. Band berlimpah, tapi yang mau jadi produser dan mempromosikan belum banyak.

    Gustaff: Garis ruang dan waktu sekarang tak bisa menjadi batas perubahan. Ini contoh saja, banyak band Bandung yang sudah me-release musiknya di Australia, Singapura, Thailand, hingga tampil di sebuah festival di Jepang. Mereka berkomunikasi dan menjual musik lewat Internet.

    Apa mimpi Bandung Creative City Forum?

    Emil: Mimpi kami adalah partisipasi meningkat, ekonomi membaik, kotanya berubah menjadi kota internasional.

    Apa sarana yang dibutuhkan untuk menciptakan iklim kreatif?

    Emil: Para birokrat memperlakukan Bandung sebagai business as usual saja. Enggak ada benchmark untuk pembangunan Bandung, seperti Singapura. Sejauh ini, kami sudah memberi ide membuat gedung parkir di pintu tol, sehingga masyarakat bisa menikmati Bandung dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda, sepeda motor, atau kendaraan umum. Menikmati Bandung dengan cara baru. Kami juga melobi agar di masa depan dibentuk creative council. Tapi pemerintah itu hanya pingin duitnya, enggak mau mengeluarkan modal.

    Seperti apa ide creative council?

    Emil: Ya... menanamkan virus kreatif dan mengkreatifkan birokrasi. Tapi creative council bukan Bandung Creative City Forum. Forum tidak akan pernah menjadi bagian dari pemerintah. Hanya individu yang dikirim organisasi untuk masuk ke creative council.

    Fiki: Sebenarnya momen pemilihan kepala daerah sekarang ini bagus buat kami, karena punya posisi tawar konkret. Sudah kami sampaikan ide ini ke semua calon.

    Mengapa Anda sendiri tidak mencalonkan diri lewat jalur nonpartai?

    Fiki: (Tertawa.) Kemarin saya maju lewat jalur nonpartai. Hanya salah pasangan, jadi gagal. Memang, kalau mau mengubah pemerintah, ya, harus dari dalam.

    Apa reaksi para kandidat wali kota tentang ekonomi kreatif dan creative council?

    Emil: Reaksi mereka baik, wacana juga berkembang. Hanya, mereka masih mencerna apa itu binatang creative council dan masih terbengong-bengong. Tak tahu mau diapain.

    Saat ini ada gejala pasang naik fundamentalisme. Bagaimana dengan ekonomi kreatif yang bermodal toleransi bila modal itu terkikis?

    Fiki: Hal ini pernah terjadi di Bandung. Band-band metal dilarang pentas oleh satu kelompok keagamaan. Tapi, semakin ditekan, semakin kami mencari jalan keluar.

    Emil: Access to power membuat kami punya bargaining position lebih tinggi. Terjadi penguatan masyarakat madani, seolah kami setara dengan pemerintah ketika membahas isu. Kalau kelompok metal itu bergerak sendiri, habislah. Tapi, bersama kami, mereka menjadi lebih kuat. Selama kami kompak dan bargaining position besar, segala masalah bisa dinetralisasi.

    Fiki: Dalam masa kampanye pemilihan kepala daerah ini, misalnya, tadinya polisi melarang Helarfest. Selama masa kampanye, tidak ada event. Izin yang sudah keluar dibatalkan. Tapi kami berhasil meyakinkan agar event ini tetap terlaksana.

    Bisakah kota-kota lain meniru Bandung?

    Emil: Sebenarnya mereka sudah diajak. Modalnya sama, orang kreatif di tiap kota mungkin jumlahnya sama. Tapi komunitasnya tidak ada. Memang ada sebuah barrier sosial. Individunya banyak, tapi bukan sebuah rombongan besar.

    Apakah Anda tak bermimpi energi kreatif Bandung ditularkan ke seluruh Indonesia?

    Emil: Saya memang bermimpi begitu. Di saat tidak ada lagi sumber daya energi, harusnya semua berinvestasi ke sumber daya manusia. Memang itu jangka panjang. Tapi Inggris bisa melakukannya. Di sana, industri berat sudah lewat dan mereka enggak punya apa-apa lagi. Sekarang, Glasgow jorjoran menggelontorkan puluhan triliun untuk membuat Inggris menjadi pusat musik dan desain dunia.

    Anda pernah diminta pemerintah menularkan ekonomi kreatif ke kota lain?

    Emil: Pernah diminta, tapi enggak mau. Capek. Banyak wacananya. Saya lebih berfokus di kota saja. Sebab, persaingan global mendatang itu bukan antarnegara, tapi antarkota.

    Bukankah nilai positif mestinya disebarkan?

    Emil: Ya, saya memotivasi via pertemanan saja. Toh, sudah ada kerja sama dengan kota-kota lain, dan kami membuka networking. Potensi bisa dibangun asalkan tiap daerah punya komunitas. Sebab, komunitas merupakan doping yang paling kuat.

    Fiki: Biasanya begitu dilegitimasi secara formal, hasilnya enggak maksimal. Jadi, biarlah tumbuh dari bawah.

    Emil: Pemerintah sebaiknya jangan bikin program, tapi memfasilitasi dan memberi infrastruktur.

    Mungkinkah cetak biru Bandung dipaksakan ke kota lain?

    Emil: Enggak bisa. Bandung bergerak karena kebutuhannya sendiri. Di Australia, ada satu kota yang mengklaim: kota anggur dunia.

    Fiki: Boleh juga Tasikmalaya mengklaim sebagai kota bordir atau embroideries city. Enggak apa-apa bombastis.

    Apa sebenarnya arti Helar?

    Fiki: Helar itu dari bahasa Sunda, artinya menampilkan beragam potensi untuk mendapat perhatian dari sekeliling.

    Gustaff: Di Sunda ada tradisi, kalau habis panen, biasanya ada syukuran. Kayak pesta panenlah. Di situ ditampilkan beragam hasil bumi, bikin pertunjukan. Ada upaya membangun spirit lebih produktif, bersyukur.

    M. Ridwan Kamil Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 4 Oktober 1971 Pendidikan: Master of Urban Design, College of Environmental Design, University of California-Berkeley, Amerika Pekerjaan: Arsitek/dosen Institut Teknologi Bandung

    Gustaff Harriman Iskandar Tempat dan tanggal lahir: Sukabumi, 16 Agustus 1974 Pendidikan: Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung Pekerjaan: Seniman media/peneliti

    Tubagus Fiki Chikara Satari Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 3 Februari 1976 Pendidikan: Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, 2005 Pekerjaan: Chairman Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Indonesia


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu

Seni Rupa

Dongeng Masa Kini Heri Dono

Tentang Sejumlah Kisah Pribadi

Album

SAKIT
Irwandi Yusuf

TEMPO|interaktif

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

Olahraga

Lawan Inter, Indonesia Selection Main Bola Bawah  

Olahraga

Sean Gelael Siap Tampil di Formula Pilota  

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum  

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif