Qaris Tajudin
Enam puluh lima tahun lalu Chairil Anwar menulis puisi yang kemudian dikenang sepanjang masa: Aku. Ada keangkuhan pada kalimat "Aku ini binatang jalang". "Aku" dan bukannya "saya" yang dia pilih untuk kata ganti orang pertama, karena Chairil memang ingin menegaskan keangkuhan itu. "Saya" tidak dapat menjalankan tugas menepuk dada, seperti yang "aku" lakukan. "Aku" adalah "saya" dengan ego yang meluber.
Kata ganti orang pertama yang beragam ini memang keunikan bahasa Indonesia (atau Melayu) yang tidak dimiliki sebagian besar bahasa lain. Bahasa daerah yang bertingkat, seperti Jawa dan Sunda, memiliki beberapa kata ganti orang pertama. Bedanya, pemilihan kata tersebut tidak berdiri sendiri, tapi satu paket dengan pemilihan tingkat bahasa, seperti ngoko atau kromo inggil. Yang ada bukan perbedaan makna, melainkan perbedaan tingkat kehalusan bahasa.
Dalam bahasa Indonesia, selain "saya" yang netral dan "aku" yang angkuh, ada "hamba" yang dipakai untuk merendahkan diri. "Hamba" untuk menunjuk orang pertama sudah tak lagi digunakan seiring dengan hilangnya kerajaan dan pengaruh keraton. Tapi, di Kerajaan Malaysia, saat berbicara dengan Yang Dipertuan Agong, masih ada orang yang memakai kata "hamba" untuk menunjuk dirinya.
Di Indonesia, "hamba" memang tidak dipakai lagi untuk kata ganti orang pertama. Maknanya kembali menyempit menjadi budak. Sedangkan "aku" dan "saya" tetap bertahan. Masalahnya, meski masih bertahan, ada perubahan makna yang luar biasa. Terutama untuk "aku". "Aku" Chairil Anwar 65 tahun lalu jauh berbeda, bahkan benar-benar bertolak belakang, dengan "aku" milik generasi Cinta Laura.
Saat Chairil memilih "aku" untuk mewakili dirinya, kita tahu ada keangkuhan, ketegaran, dan ketidakinginan untuk dikalahkan di sana. Tapi, saat Cinta Laura mengatakan "aku" (Cinta memang selalu memakai "aku", bukan "saya"), yang tertangkap adalah kemanjaan remaja belasan tahun. Bukan keliaran, tapi kegemasan. Kesan ini tidak hanya dapat kita tangkap saat Cinta yang mengatakannya, tapi juga saat remaja perempuan lain mengatakan hal yang sama.
Bagi remaja perempuan masa kini, "aku" adalah kata yang tepat untuk menunjukkan diri mereka. "Saya" terlalu resmi. Sedangkan "gue", meski tetap dipakai dalam pembicaraan sehari-hari dengan teman mereka, terlalu datar. Kurang kenes. Itulah kenapa remaja pria kurang suka memakai "aku". Pemakaian kata "aku" dalam perbincangan sesama remaja pria sangat tidak lazim karena berkonotasi lembek dan manja. Remaja pria hanya memakai "aku" saat berbicara dengan pacarnya.
Ketika seorang cowok sudah mengganti "gue-lu" dengan "aku-kamu" sewaktu berbicara dengan seorang cewek, kita tahu, mereka bukan lagi berteman, tapi pacaran. Setidaknya memiliki kedekatan khusus. Itulah kenapa Aldi marah saat pacarnya, Nesta, mulai memakai "aku"-dan bukannya "gue"-saat berbicara dengan Key dalam film Coklat Stroberi. Aldi dapat mencium kedekatan Key dan Nesta karena pemakaian "aku".
Perubahan dan pergeseran makna seperti ini wajar saja terjadi, pada bahasa apa pun. Hanya, tak terbayangkan bagaimana guru bahasa Indonesia harus menerangkan kegarangan dan keangkuhan "aku" dalam puisi Chairil kepada murid SMP. Apalagi kalau ada murid yang membaca "aku" dalam puisi tersebut dengan kemanjaan khas "aku" anak sekarang: "Akyu ini binatang jalang...."
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

