• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Aku, Chairil Anwar, dan Cinta Laura

    Qaris Tajudin

  • Wartawan

    Enam puluh lima tahun lalu Chairil Anwar menulis puisi yang kemudian dikenang sepanjang masa: Aku. Ada keangkuhan pada kalimat "Aku ini binatang jalang". "Aku" dan bukannya "saya" yang dia pilih untuk kata ganti orang pertama, karena Chairil memang ingin menegaskan keangkuhan itu. "Saya" tidak dapat menjalankan tugas menepuk dada, seperti yang "aku" lakukan. "Aku" adalah "saya" dengan ego yang meluber.

    Kata ganti orang pertama yang beragam ini memang keunikan bahasa Indonesia (atau Melayu) yang tidak dimiliki sebagian besar bahasa lain. Bahasa daerah yang bertingkat, seperti Jawa dan Sunda, memiliki beberapa kata ganti orang pertama. Bedanya, pemilihan kata tersebut tidak berdiri sendiri, tapi satu paket dengan pemilihan tingkat bahasa, seperti ngoko atau kromo inggil. Yang ada bukan perbedaan makna, melainkan perbedaan tingkat kehalusan bahasa.

    Dalam bahasa Indonesia, selain "saya" yang netral dan "aku" yang angkuh, ada "hamba" yang dipakai untuk merendahkan diri. "Hamba" untuk menunjuk orang pertama sudah tak lagi digunakan seiring dengan hilangnya kerajaan dan pengaruh keraton. Tapi, di Kerajaan Malaysia, saat berbicara dengan Yang Dipertuan Agong, masih ada orang yang memakai kata "hamba" untuk menunjuk dirinya.

    Di Indonesia, "hamba" memang tidak dipakai lagi untuk kata ganti orang pertama. Maknanya kembali menyempit menjadi budak. Sedangkan "aku" dan "saya" tetap bertahan. Masalahnya, meski masih bertahan, ada perubahan makna yang luar biasa. Terutama untuk "aku". "Aku" Chairil Anwar 65 tahun lalu jauh berbeda, bahkan benar-benar bertolak belakang, dengan "aku" milik generasi Cinta Laura.

    Saat Chairil memilih "aku" untuk mewakili dirinya, kita tahu ada keangkuhan, ketegaran, dan ketidakinginan untuk dikalahkan di sana. Tapi, saat Cinta Laura mengatakan "aku" (Cinta memang selalu memakai "aku", bukan "saya"), yang tertangkap adalah kemanjaan remaja belasan tahun. Bukan keliaran, tapi kegemasan. Kesan ini tidak hanya dapat kita tangkap saat Cinta yang mengatakannya, tapi juga saat remaja perempuan lain mengatakan hal yang sama.

    Bagi remaja perempuan masa kini, "aku" adalah kata yang tepat untuk menunjukkan diri mereka. "Saya" terlalu resmi. Sedangkan "gue", meski tetap dipakai dalam pembicaraan sehari-hari dengan teman mereka, terlalu datar. Kurang kenes. Itulah kenapa remaja pria kurang suka memakai "aku". Pemakaian kata "aku" dalam perbincangan sesama remaja pria sangat tidak lazim karena berkonotasi lembek dan manja. Remaja pria hanya memakai "aku" saat berbicara dengan pacarnya.

    Ketika seorang cowok sudah mengganti "gue-lu" dengan "aku-kamu" sewaktu berbicara dengan seorang cewek, kita tahu, mereka bukan lagi berteman, tapi pacaran. Setidaknya memiliki kedekatan khusus. Itulah kenapa Aldi marah saat pacarnya, Nesta, mulai memakai "aku"-dan bukannya "gue"-saat berbicara dengan Key dalam film Coklat Stroberi. Aldi dapat mencium kedekatan Key dan Nesta karena pemakaian "aku".

    Perubahan dan pergeseran makna seperti ini wajar saja terjadi, pada bahasa apa pun. Hanya, tak terbayangkan bagaimana guru bahasa Indonesia harus menerangkan kegarangan dan keangkuhan "aku" dalam puisi Chairil kepada murid SMP. Apalagi kalau ada murid yang membaca "aku" dalam puisi tersebut dengan kemanjaan khas "aku" anak sekarang: "Akyu ini binatang jalang...."


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

Olahraga

Lawan Inter, Indonesia Selection Main Bola Bawah  

Olahraga

Sean Gelael Siap Tampil di Formula Pilota  

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum  

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif