• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    MOMEN

    Listrik
    PLN Bisnis Batu Bara

    PERUSAHAAN Listrik Negara akhirnya nyemplung ke bisnis batu bara melalui anak usahanya, PT PLN Batu Bara. Perusahaan baru itu resmi berdiri Senin pekan lalu, dengan akta notaris nomor 03 tertanggal 11 Agustus 2008. Indriartono diangkat sebagai direktur utama-sebelumnya menjabat General Manager PT PLN Jasa Pendidikan dan Pelatihan.

    Unit bisnis baru ini bertugas mengamankan pasokan batu bara ke pembangkit, agar perusahaan pelat merah ini tidak lagi bergantung pada swasta. Semester pertama ini, manajemen sempat puyeng oleh lonjakan harga komoditas itu. Suplai bahan bakar proyek pembangkit listrik tenaga uap 10 ribu megawatt sebesar 20 juta metrik ton per tahun juga diharapkan bisa terjaga.

    Juru bicara PLN, Ario Subijoko, mengatakan PLN Batu Bara nantinya bisa bekerja sama atau mengakuisisi perusahaan pemegang kuasa pertambangan. Saat ini telah ada 10 perusahaan tambang yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan yang menawarkan kerja sama. PLN juga berencana mengakuisisi perusahaan pelayaran PT Bahtera Adiguna untuk menjaga kelancaran pengangkutan batu bara ke pembangkit.

    Investasi
    Binladin Garap Papua

    KONGLOMERAT dunia asal Arab Saudi, Saudi Binladin Group, akan menanamkan US$ 4,3 miliar atau sekitar Rp 39 triliun di Indonesia. Binladin akan menggarap bisnis agroindustri, termasuk penanaman padi seluas 500 ribu hektare di Merauke, Papua. "Kami serius berinvestasi di Indonesia," ujar Direktur Pelaksana Saudi Binladin Group Abu Bakr al-Hamid setelah bertemu dengan Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta pekan lalu.

    Komoditas utama yang bakal dikembangkan adalah padi, khususnya padi jenis basmati yang biasa dipasarkan untuk kebutuhan Saudi. Ketua Dewan Adat Papua Forkorus Yoboisembut menyambut baik rencana Binladin berinvestasi di Fakfak dan Merauke. Sebelum membuka proyek, Forkorus mengajukan syarat, investor harus datang sendiri dan membuat nota kesepakatan langsung dengan pemilik tanah di bawah pengawasan Dewan Adat Papua.

    Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan rencana Binladin Group berinvestasi di Papua harus sesuai dengan peraturan kewenangan pemerintah pusat dan daerah. "Kita memiliki peraturan pemerintah turunan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang kewenangan pemerintah pusat dan daerah," katanya.

    Investasi
    Pabrik Bahan Peledak Terbesar

    PT Kaltim Nitrate Indonesia mulai membangun pabrik amonium nitrat skala dunia di Kawasan Industri Bontang, Kalimantan Timur. Perusahaan patungan antara Orica Limited asal Australia dan PT Armindo Prima itu merogoh US$ 550 juta atau sekitar Rp 5 triliun untuk pabrik bahan baku utama peledak ini.

    Investasi itu meningkat dari perkiraan yang disampaikan ke Badan Koordinasi dan Penanaman Modal pada 2003 senilai US$ 200 juta. Bontang dipilih sebagai lokasi pabrik untuk memudahkan produksi amonium nitrat. Alasannya, kata Direktur Utama Kaltim Nitrate Indonesia Antung Pandoyo, bahan baku utama amonium nitrat adalah amoniak, dan amoniak ialah hasil olahan gas alam.

    Rencananya, pabrik berkapasitas 300 ribu ton per tahun itu rampung pada 2011. Saat ini, hanya ada satu pabrik amonium nitrat di Indonesia, yakni PT Multi Nitrotama Kimia di Cikampek, Jawa Barat. Produksinya hanya 35 ribu ton, jauh dari kebutuhan domestik yang mencapai 350 ribu ton.

    Anggaran Negara
    Gaji Pegawai Naik

    ADA kabar gembira buat para pegawai negeri sipil. Dalam pidato di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jumat pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri dan pensiunan sekitar 15 persen tahun depan. Pemerintah juga tetap memberikan gaji ke-13. Untuk itu, pemerintah menambah alokasi anggaran belanja pegawai Rp 144 triliun, naik Rp 20 triliun dibanding tahun ini.

    Bila itu ditotal dengan seluruh anggaran pendidikan, tahun depan amanat konstitusi agar sektor ini mendapat jatah 20 persen terpenuhi. Ini memang membuat anggaran belanja negara membengkak. Sebab, anggaran pendidikan yang tahun ini hanya Rp 180 triliun menjadi Rp 224,4 triliun. "Saya pun terkaget-kaget dan hampir pingsan," kata Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, yang mengaku baru mendengar rencana kenaikan anggaran itu pada Rabu pekan lalu.

    Keputusan mendadak ini diambil Presiden Yudhoyono setelah keluar keputusan Mahkamah Konstitusi, Rabu pekan lalu, yang mengharuskan pemerintah memenuhi alokasi anggaran pendidikan 20 persen seperti diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945. "Kami belum menentukan penggunaan anggaran tambahan tersebut," kata Bambang.

    Untuk memenuhi tambahan bujet tersebut, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pemerintah tidak memangkas pos anggaran departemen lain. Akibatnya, defisit anggaran membengkak dari 1,5 persen menjadi 1,9 persen atau sekitar Rp 20 triliun. Kebutuhan ini, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, akan ditutup dengan hasil penjualan surat utang negara.

    Surat Utang
    Obligasi Syariah Terbit

    SETELAH penggodokan sekian lama, pemerintah akhirnya menerbitkan surat berharga syariah negara atau sukuk, Kamis pekan lalu. Penawarannya digelar hingga akhir minggu ini. Obligasi syariah pertama yang diterbitkan pemerintah tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 27 Agustus.

    Kendati baru, surat utang ini diperkirakan bisa meraup dana hingga Rp 5 triliun. Untuk itu, pemerintah membidik investor institusi, baik lokal maupun asing. "Saya sudah mendengar ada peminat besar," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto.

    Menurut dia, pemerintah tidak membuat batasan komposisi kepemilikan asing dan lokal. Namun pemerintah meminta agen penjualannya, Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Trimegah Securities, memprioritaskan institusi syariah lokal. Obligasi berjenis ijarah (penukaran manfaat) ini terdiri atas seri FR-0001 berjangka tujuh tahun dan seri FR-0002 berjangka 10 tahun.

    Ekspansi
    Salim Masuk Tol Filipina

    Bisnis Grup Salim makin mengembang di Filipina. Setelah bulan lalu merambah air bersih, pekan lalu Grup Salim masuk bisnis jalan tol. Metro Pacific Investment, anak usahanya, mengakuisisi 67 persen saham North Luzon Expressway milik Philippine Holdings Infrastructure dan Benpres Holdings Corporation.

    Untuk menjadi pemilik mayoritas di operator ruas tol 83,7 kilometer itu, Metro mengucurkan dana hingga US$ 278 juta. Perusahaan itu kini tengah menyiapkan penawaran tender (tender offer) atas saham publik senilai 2.467 peso per lembar.

    Menurut Vice President Corporate Communication First Pacific, Sara Cheung, dana pengambilalihan tersebut berasal dari kas internal perusahaan. First adalah induk usaha Metro yang berbasis di Hong Kong. Di perusahaan itu, Grup Salim menguasai saham 44 persen.

    Restrukturisasi Utang
    Bosowa Dapat Perpanjangan

    KELOMPOK Bosowa berhasil menunda pembayaran pokok utang senilai Rp 546 miliar ke PT Bank Negara Indonesia hingga 2013. Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo mengatakan nota kesepakatan restrukturisasi telah ditandatangani. Dampaknya, angka kredit seret di BNI turun di bawah dua persen. "Mereka membayar bunga 11-12 persen," kata Gatot, Kamis pekan lalu.

    Utang Bosowa itu kebanyakan mengalir ke anak usahanya, seperti Semen Bosowa, Bosowa Berlian Motor, dan Bosowa Multifinance. Di BNI, Bosowa menempati posisi teratas dari 10 debitor bermasalah. Sedangkan tingkat kolektibilitas kreditnya, lima alias macet. Kesepuluh debitor itu menyumbangkan Rp 2,097 triliun atau 27,3 persen dari total kredit BNI.

    Bosowa juga mempunyai kredit Rp 1,59 triliun di Bank Mandiri. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo, kasus kredit bermasalah segera diselesaikan, termasuk dengan Bosowa. Di bank terbesar itu setidaknya ada tujuh debitor besar bermasalah. "Ada yang mengalami perkembangan cukup baik," kata Agus.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

Olahraga

Lawan Inter, Indonesia Selection Main Bola Bawah  

Olahraga

Sean Gelael Siap Tampil di Formula Pilota  

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum  

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif