Meramal dari Tempat Nongkrong

Makin banyak anak muda serius berpraktek—dan tertarik belajar—sebagai peramal. Mereka punya komunitas serta memilih mengiklankan diri lewat Friendster, blog, atau layanan pesan pendek.

Penampilannya asyik punya. Berkupluk hitam, memakai baju dan celana jins yang juga hitam. Di tengah barang-barang dan poster dengan gambar unik yang terkesan mistis, dia duduk bersila. Perempuan di depannya takjub dan tekun menyimak semua ucapannya. Sekejap kemudian, telapak tangan perempuan itu digerayangi. Membaca garis tangan, katanya.

Begitulah gaya Ki Ngawur Noldy Permana, 30 tahun, bila sedang praktek. Tatapan mata dan gaya bicaranya berbeda dengan kebanyakan orang. Maklum, dia adalah peramal alias fortune teller. Bila kurang pas dalam berbicara, apalagi cengengesan, bisa-bisa orang akan hilang kepercayaan.

Sejauh ini, upaya itu terbilang berhasil. Biarpun namanya punya embel-embel Ngawur, ramalan dia rupanya tak dianggap ngawur–buktinya pelanggan tak pernah sepi. Apalagi di setiap akhir minggu—seperti disaksikan Tempo tiga pekan lalu. Buka praktek di selasar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Ngawur masih dirubungi calon klien menjelang tengah malam. Di antaranya, ada beberapa perempuan muda.

Tunggu dulu. Noldy tidak sendirian. Di sisi kiri dan kanannya tampak orang-orang ”sejenis” dia. Mereka duduk menghadap meja kecil penuh atribut seperti gambar tengkorak, kambing, dan perempuan telanjang. Semuanya sama-sama sibuk melayani klien. Seorang perempuan muda tampak tekun membuka kartu tarot di depan satu peramal. Dengan serius, si peramal kemudian membacakan hasil kartu pilihan kliennya.

Para peramal yang rata-rata muda usia itu memiliki komunitas. Nuzum namanya. Si Ngawur Noldy pemimpinnya. Mereka bertemu setiap Minggu sore di Taman Ismail Marzuki. Kebanyakan anggota komunitas itu sudah memiliki job di tempat lain, misalnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Noldy—dia lulusan Institut Kesenian Jakarta—adalah seorang penggambar komik underground, selain menekuni profesi peramal. Bila ingin tahu kebisaan dia yang lain, silakan kunjungi Friendster dia. Ya, para peramal muda ini memang jauh dari kesan misterius. Coba juga masuk ke Friendster Dewi Putri Amore. Di situ gadis 21 tahun ini menulis punya hobi meramal.

Dalam soal servis, para peramal yang funky ini tak kalah dengan para seniornya. Mulai dari membaca garis tangan, ramalan kartu tarot, terapi hipnotis, bahkan membuka aura yang dipercaya bisa meningkatkan daya tarik terhadap lawan jenis. Singkat kata, mereka menjadikan tempat prakteknya sebagai one stop fortune telling.

Inilah wajah dunia ramal-meramal terkini. Kaum muda tak lagi ragu menjamah profesi ini, yang tadinya lazim dikuasai orang berumur—Mama Laurent, misalnya, sudah berusia lebih dari 70 tahun. Soal tempat praktek juga makin beragam—jelas bukan di tempat seram—seperti mal, hotel, kafe, bahkan di tempat nongkrong seperti selasar Taman Ismail Marzuki pun oke.

Banyaknya peramal muda sebenarnya tak lepas dari kebiasaan masyarakat umum yang bisa dikatakan kurang percaya diri. Buktinya, penjual jasa pembaca nasib seperti tak ada habisnya. Lihat saja iklan-iklan yang menclok di koran dan televisi. Yang paling gres adalah layanan pesan singkat dari para peramal.

Menurut Deddy Corbuzier, seorang mentalist, secara kumulatif jumlah pelanggannya mencapai 100 ribu. Kalikan saja dengan harga per pesan pendek, yang bisa mencapai Rp 2.000 sekali kirim. Untungnya bisa luar biasa.

Noldy dan kawan-kawan memang belum setajir Deddy Corbuzier. Namun mereka makin menyemarakkan ceruk pasar peramal muda. Sasarannya kebanyakan kaum pekerja atau mahasiswa dengan sedikit uang namun butuh hiburan dan harapan. Tarif mereka relatif terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu per layanan. Untuk panggilan ke rumah, minimal Rp 300 ribu.

Arena ramal-meramal ini rupanya cukup memikat anak-anak muda untuk belajar. Nuzum, misalnya, selalu bertambah anggotanya. ”Ada saja yang mendaftar setiap minggu untuk menjadi anggota atau minta diajari teknik meramal,” kata Noldy. Deddy Corbuzier membenarkan hal itu. Menurut dia, kebanyakan yang ingin memperdalam ilmu meramal adalah yang merasa memiliki kemampuan meramal.

Soal belajar mudah dilakukan karena para peramal muda ternyata tidak pelit berbagi ilmu. Noldy dengan terbuka mau mengajarkan ilmunya. Deddy malah punya sekolah. Di sekolahnya seseorang diberi pemahaman bahwa fortune teller memiliki teori, dan bukan klenik. Materi bisa diberikan lebih fleksibel. ”Sama saja dengan belajar bernyanyi, ada yang tiga bulan, tiga tahun,” kata Deddy.

Percaya enggak percaya, bakat meramal memang ada. Ini penuturan Fitri, perempuan yang biasa meramal bersama Noldy. Kegiatan meramalnya berawal di Bandung. Ketika itu dia sudah sering didaulat memberikan ramalan untuk teman-teman sekantornya. Ternyata banyak yang benar.

Suatu ketika, dia ingin mencari kartu tarot dengan desain unik. Setelah mengubek-ubek di seputaran Bandung, hasilnya nihil. Fitri pun pergi ke Jakarta. Dia malah bertemu dengan Noldy, yang memiliki kartu tarot dengan desain buatan sendiri. Lama-lama kemampuan Fitri, yang punya nama lain Madam Vie ini, mulai terasah dan akhirnya ikut membuka praktek.

Beruntunglah Fitri, sebagai peramal perempuan dia justru banyak didatangi pelanggan. ”Banyak juga pejabat yang datang hanya dengan satu pertanyaan,” dia mengaku. Dompetnya pun langsung gendut. Mereka, para pejabat itu, memberikan uang hingga Rp 300 ribu per layanan.

Eh, siapa mereka? ”Biasanya orang partai,” kata Noldy. Mereka bertanya tentang kemungkinan terpilih atau tidak menjadi anggota badan legislatif. Maklum, di kubu partai mereka sendiri sudah bersaing. Datang pula kepada mereka para artis. Nama mereka hanya ada di kantong Noldy dan kawan-kawan. ”Enggak enak, ah. Ini kan etika,” katanya.

Para peramal muda ini sudah lumayan dipercaya orang, terutama wanita. Menurut Noldy, pelanggan peramal kebanyakan cewek, usia 20-27 tahun. Profesinya mahasiswi dan pekerja kantoran. Soal uang juga asyik. Dalam sehari mereka bisa mendapat Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Bila sedang ramai, Rp 700 ribu bisa masuk kantong.

Penghasilan mereka sebenarnya datang tidak hanya dari jasa meramal, tapi juga penjualan media ramal dan kursus meramal. Kartu tarot bikinan sendiri mereka jual Rp 250 ribu. Ada batu Mesir yang ditawarkan Rp 400 ribu. Noldy bahkan membuat kartu ramal sendiri. Namanya Vendera alias indra ketujuh. Kartu ini merupakan modifikasi dari kartu tarot yang menurut dia lebih ampuh dalam soal percintaan.

Hm…, penasaran juga. Tempo pun ingin mencoba diramal. Noldy langsung beraksi. ”Kamu akan mendapatkan masalah dengan pacar…,” ujarnya dengan tenang. Noldy berujar lagi. ”Gara-garanya, soal barang yang kamu miliki bersama, misalnya tabungan bersama, mobil bersama.”

Oh, tebakannya keliru. Karena tidak ada barang dan tabungan bersama.

Namun Noldy segera menukas, ”Nanti, nanti kamu akan memiliki itu.”

Berulang-ulang dia mengingatkan bahwa yang diucapkannya sekadar ramalan. Dia mempersilakan untuk mempercayai yang baik dan menolak yang buruk. ”Kalau selalu benar, saya pasang buntut saja, langsung menang,” katanya seraya tertawa. Namanya juga anak muda.

Irfan Budiman, Vennie Melyani, Iqbal Mohtarom

TempoInteraktif

Nusa
Gunung Talang Semburkan Asap 400 Meter
-----------------
Sepakbola
Chelsea Tolak Pinangan City Soal John Terry
-----------------
Uji_produk
Land Rover Luncurkan Telepon Genggam Terkuat di Dunia  
-----------------
Sepakbola
Barcelona Kembali Goda Fabregas  
-----------------
Sepakbola
Hamburg SV Boyong Ze Roberto  
-----------------
Sepakbola
UEFA Berlakukan Panduan Anti Rasisme Anyar
-----------------
Sepakbola
Chelsea Gaet Kiper Middlesbrough Turnbull
-----------------
Panggung
Tarian Terakhir Seniman Tanah Air
-----------------
Sepakbola
Platini: Rekor Pembelian Pemain Real Madrid 'Gila'  
-----------------
Sains
Lumpur Serang Pernah Menyembur Tahun 2007
-----------------