• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Belajar Mengingat Agar Tak Lupa

    BAPAK Endang-sebut saja begitu-suatu hari tersesat. Pria 60-an tahun yang bekerja di perusahaan swasta ini tak bisa menemukan jalan pulang ke rumahnya sendiri. Tingkah lakunya di rumah pun berubah. Ia sering mondar-mandir gelisah, marah tanpa sebab, dan berteriak-teriak di malam hari. Bahkan, suatu ketika, ia menolak memakai baju.

    Kasus ini diceritakan Suryo Dharmono, psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dalam seminar "No Time to Lose" untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu. Kisah ini menggambarkan perubahan perilaku yang kerap dialami penderita demensia alzheimer. Tak hanya penderita yang harus diobati, tapi juga keluarganya. Dalam banyak kasus yang ditangani Suryo, keluarga kerap datang dengan pertanyaan: "Bapak saya tidak gila kan, Dokter?"

    Demensia atau kepikunan adalah kerusakan otak yang menyebabkan hilangnya memori serta penurunan kemampuan intelektual dan mental untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Dari seluruh kasus demensia, sekitar 70 persennya berupa demensia alzheimer. Penyakit ini tak hanya menggerogoti daya pikir, tapi juga menimbulkan perubahan perilaku.

    Seperti anggota tubuh lain, kemampuan otak juga menurun seiring dengan waktu. Makin tua, makin pikun, itu wajar. Namun tak semua "lupa" bisa disebut gejala alamiah. Kehilangan memori, kesulitan mengkomunikasikan sesuatu, kehilangan konsep tentang suatu hal, sama sekali bukan sesuatu yang normal. Ini bisa jadi tanda-tanda alzheimer.

    Misalnya, seseorang kehilangan kunci, lalu masuk ke kamar untuk mencari-cari kunci. Itu namanya lupa. Tapi, bila orang masuk kamar, lalu tidak tahu apa yang dicari, berhati-hatilah. Bisa jadi, itu gejala awal alzheimer. Contoh ini dikemukakan Mehmet Oz, dokter tamu dalam Oprah Winfrey Show, beberapa waktu lalu.

    Demensia alzheimer memang merupakan kepikunan yang disebut sebagai The Disease of the Century (Penyakit Abad Ini). Di Amerika Serikat, alzheimer menjadi penyebab kematian nomor enam. Peningkatan jumlah penderita alzheimer sangat pesat, terutama di negara berkembang, yaitu empat kali lebih tinggi dibanding negara maju. Data Asosiasi Alzheimer Indonesia menyebutkan setiap tujuh detik terjadi kasus alzheimer baru di dunia. Diramalkan, pada 2025 penderita di Asia Pasifik akan meningkat dua kali lipat dibanding sekarang.

    Indonesia memang belum punya data pasti. Namun Ketua Asosiasi Alzheimer Indonesia Samino memprediksi terjadi peningkatan signifikan. Apalagi, di sini, kepedulian masyarakat terhadap demensia alzheimer masih rendah. Gejala awalnya sering terabaikan karena dianggap sebagai "lupa biasa" dan baru ketahuan setelah parah. Selain itu, pasien kerap menyangkal kondisinya. "Padahal kegagalan diagnosis dini mengakibatkan penanganan yang tidak tepat dan memberikan beban bagi pasien dan keluarganya," kata Samino.

    Beberapa gejala gangguan perilaku yang ditemukan pada penderita alzheimer adalah pasien menjadi galak, kasar, terkadang menyerang secara fisik, serta sering keluyuran tanpa tujuan dan tersesat. Si penderita juga sering gelisah, mondar-mandir, senang menimbun barang tidak pada tempatnya, cenderung mengulang-ulang pertanyaan, berpakaian sembarangan, kehilangan sopan santun (misalnya, meludah sembarangan), dan banyak lagi.

    Adapun gangguan psikologis yang sering dialami pasien alzheimer adalah depresi. Akibatnya, penderita sering menangis, tak mau makan, dan ingin bunuh diri serta ketakutan ditinggal keluarganya. Ada pula halusinasi penglihatan, misalnya pasien melihat anak kecil masuk kamar dan duduk di ranjangnya. Bisa juga terjadi salah identifikasi, seperti salah mengenali orang dan bahkan bayangannya sendiri di cermin.

    Selama ini demensia alzheimer memang kebanyakan menimpa kalangan lanjut usia. Namun, belakangan, muncul penderita dari usia lebih muda, di bawah 50 tahun. Samino menyatakan hal ini terkait dengan genetika, gaya hidup, dan faktor toksik atau racun yang masuk ke dalam tubuh. Mereka yang sering terpapar logam berat rentan mengalami kerusakan sistem saraf di otak. Jumlahnya mungkin tidak (atau belum) signifikan. Namun, seperti disarankan dokter ahli saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, banyak hal yang bisa dilakukan sejak muda agar terhindar dari demensia alzheimer di masa tua (lihat: "Mencegah Si Pikun Datang").

    Suryo Dharmono punya pengalaman lain. Dokter ahli jiwa ini sering miris lantaran banyak anggota keluarga pasien yang bertanya: bagaimana supaya si penderita tidak mengganggu orang lain. Ini pandangan salah dalam menangani penderita alzheimer. Memang tingkah laku penderita bisa dianggap mengganggu dan bahkan bisa membahayakan orang di sekitarnya. Namun itu terjadi karena mereka tak mampu mengungkapkan apa yang diinginkan. Walhasil, tindak-tanduknya salah ditafsirkan orang lain. Efeknya lebih buruk bagi si penderita.

    Karena itu, merawat penderita alzheimer, kata Suryo, bagaikan ibu menghadapi bayi. Semakin sering berinteraksi dengan anaknya, sang ibu lama-kelamaan akan hafal arti tangisan bayi. Kapan ia lapar, buang air, atau sekadar ingin bermain. Seperti dicontohkan Ibnu Abas, Wakil Kepala Pelayanan Medis, Sasana Tresna Wredha Karya Bhakti, Cibubur. Ada seorang oma yang kerap memekikkan kata-kata "jorok" yang tak sopan. Lama-kelamaan, para perawat belajar "membaca" apa makna di balik ucapan itu. Ternyata si nenek ingin buang air besar tapi tak bisa mengungkapkan.

    Pernah juga di Rumah Sakit Cipto, ada pasien yang setiap dipakaikan kaus, langsung menjerit-jerit. Tingkah lakunya pun jadi tak terkendali. Menangani penderita alzheimer tak bisa dengan obat penenang, tapi dengan mencari pemicunya. Belakangan terungkap, saat kaus melewati leher, si pasien "terjebak" gelap-walau hanya beberapa detik. Ia merasa tak aman, hingga bertindak agresif.

    Ada sejumlah petunjuk penting untuk mengetahui seseorang mungkin menderita alzheimer, seperti dia sulit mengingat percakapan yang baru saja dibicarakan, sering salah meletakkan barang, sulit menemukan jalan di lingkungan yang telah dikenal sebelumnya. Dia juga tak mampu mengerjakan pekerjaan sehari-hari di rumah, sering melupakan rutinitas (misalnya, sehabis mandi, lalu apa).

    Dalam hal berkomunikasi, penderita sulit menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu dan tak mampu mengikuti pembicaraan. Begitupun dalam perilaku. Ia menjadi lebih pasif dan tak menanggapi kejadian di sekelilingnya, mudah tersinggung, serta mudah curiga dan salah interpretasi terhadap orang lain.

    Nah, jika ada yang memiliki satu atau lebih tanda-tanda itu, dokter Samino menyarankan agar memeriksakan diri secepatnya. Ya, belum tentu alzheimer. Namun diagnosis dini bisa mencegah penyakit berkembang lebih parah. Satu kasus yang sangat parah di Panti Wredha di Cibubur adalah seorang nenek menyimpan kotorannya sendiri di dalam kulkas.

    Samino mengingatkan banyak cara yang bisa dilakukan sejak dini untuk mencegah kemunduran daya ingat. Mulai menyantap nutrisi yang sehat untuk otak hingga aktivitas mental dan fisik yang membuat sel-sel neuron dalam kepala kita aktif. Samino mengistilahkan: use it or lose it. Sebelum telanjur, "gunakan otak" sejak muda.

    Andari Karina Anom

    Mencegah Si Pikun Datang

  • Mengikuti kegiatan seni musik atau tari.
  • Melakukan kegiatan kreatif atau hobi.
  • Menyantap makanan yang bernutrisi untuk otak
  • Mengurangi paparan zat toksik, misalnya timbel dari asap kendaraan
  • Membuat catatan harian atau otobiografi
  • Menulis, membaca, atau mendongeng
  • Melakukan senam otak
  • Sering pergi ke tempat ramai, misalnya mal
  • Banyak bersosialisasi dengan orang lain

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif