• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Info Kesehatan

    Strategi Obat untuk Kardiovaskuler

    Hidup-mati penyandang penyakit kardiovaskuler rupanya bergantung betul pada obat. "Pada penderita kronis, efek obat itu seperti peredam kejut pada mobil. Kalau ditekan, turun; begitu dilepas, naik lagi," kata Dr Suhardjono, anggota staf Divisi Nefrologi Hipertensi, Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pekan lalu.

    Penyakit kardiovaskuler, yang didominasi jantung dan tekanan darah tinggi, menewaskan 17 juta orang tiap tahun, terutama akibat serangan jantung dan stroke. Kemajuan ekonomi dan gaya hidup membuat penyakit itu mulai mendatangi kaum muda.

    Sayangnya, sejumlah obat membawa efek samping, seperti batuk, pusing, dan jantung berdebar. Efek samping juga muncul pada pasien dengan bawaan penyakit lain. Pasien lalu berpikir obat itu tidak cocok dan mereka berhenti mengkonsumsi obat. Ini tidak benar. Suhardjono menyarankan mengganti obat.

    Di sisi lain, pasien yang sudah merasa nyaman karena meminum obat menganggap sudah cukup menelan obat. Padahal gaya hidup juga harus diubah. "Pada penderita kronis, pengobatan itu sifatnya mutlak seumur hidup," kata Suhardjono.

    Sekolah Ringankan Trauma

    Sekolah ternyata bisa menjadi tempat terapi stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder) pada anak-anak di daerah konflik. Kesimpulan ini didapat dari kajian atas program terapi kesehatan mental di sejumlah sekolah di Poso, Sulawesi Tengah, pada Maret-Desember 2006.

    Menurut The Journal of the American Medical Association pekan lalu, terapi tersebut mengurangi trauma pascakonflik dan menumbuhkan harapan pada anak-anak kelas menengah dan bawah yang terpapar konflik Poso (Desember 1998-Juni 2000). Meski begitu, terapi tidak menghilangkan trauma, depresi, dan kecemasan itu sendiri.

    Penelitian sejumlah psikiater dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, ini menunjukkan terapi kesehatan mental berguna mengurangi penyakit mental masyarakat, terutama anak-anak. "Hanya sedikit pengetahuan tentang efektivitas penanganan kesehatan mental anak kalangan menengah dan miskin yang hidup dalam konflik. Padahal problem mental masa kanak-kanak sulit dihilangkan," tulis Wietse A. Tol, MA, dari Vrije Universiteit Medical Center, mewakili tim.

    Kurang Vitamin D Picu Kematian

    Risiko kematian ternyata terkait dengan kadar vitamin D dalam tubuh. Demikian laporan terbaru Archives of Internal Medicine, pertengahan Agustus lalu.

    Vitamin D adalah salah satu kelompok prohormon yang berperan penting dalam metabolisme kalsium, pembentukan tulang, dan kekebalan tubuh. Komposisi ideal 25-hydroxyvitamin D (25[OH]D) yang disarankan adalah di atas 30 nanogram per millimeter darah. Kekurangan vitamin D akan menimbulkan efek tekanan darah, respons insulin, risiko kegemukan, dan diabetes.

    Bahaya kekurangan vitamin D tersebut disimpulkan dari penelitian atas sekitar 13 ribu orang yang dihimpun dari hasil Survei Kesehatan dan Pengobatan Makanan Nasional Ketiga (NHANES III) di Amerika. Tim yang dipimpin Dokter Michael L. Melamed dari Albert Einstein College of Medicine, Bronx, New York, memberikan terapi vitamin antara 1988 dan 1994. Pada tahun 2000, kesehatan mereka dilacak kembali.

    Hasilnya, selama periode tersebut, 1.806 orang partisipan meninggal. Pada mereka yang diberi vitamin D kurang dari 17,8 nanogram per millimeter, sebanyak 26 persen mengalami risiko kematian lebih tinggi ketimbang mereka yang cukup mendapat asupan vitamin D. "Jika dalam penelitian mendalam nanti ditemukan korelasi nyata, perlu program pengadaan suplemen vitamin D dosis tinggi untuk masyarakat," kata Melamed.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif