• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Berjaya Berkat Papan Iklan

    DOR, byur.... Begitu pistol menyalak, dia pun langsung terjun dan memburu waktu. Namun, hari itu, tangannya terasa berat untuk mengayuh dengan cepat di dalam air. Apalagi, di kiri-kanannya, lawannya seperti peluru yang melesat cepat. Sekuat tenaga Amanda Beard menambah kegesitannya, tapi tangannya tidak juga mampu menyaingi lawan-lawannya.

    Di Beijing, prestasi atlet andalan dari Amerika Serikat ini tak terlalu kinclong. Jangankan mengulang perolehannya dalam Olimpiade lalu, untuk lolos ke final saja dia gagal. Di nomor gaya dada 200 meter, yang jadi unggulannya, Amanda Beard gagal menembus babak semifinal. Dia hanya berada di urutan ke-18. Jauh.

    Inilah akhir perjuangannya. Menyebalkan memang. Padahal, di arena Olimpiade sebelumnya, dia pernah berjaya. Di Athena, Yunani, empat tahun lalu, dia beroleh emas di nomor andalannya itu. Sedihkah ia? Sudah pasti.

    Namun, biar minus medali, di Olimpiade kali ini dia tetap mencatat sejarah. Atlet 26 tahun yang bertubuh seksi luar biasa itu menjadi atlet pertama yang tampil bugil di ajang olahraga paling besar seantero jagat ini. Hal itulah yang membuatnya menjadi pusat perhatian selama beberapa pekan jauh sebelum pesta olahraga ini digelar, 8 Agustus lalu. Gembar-gembor media ikut menyemarakkannya.

    Amanda punya alasan. Perempuan aktivis ini punya misi yang dia bawa ke Beijing. Apatah gerangan? Dia melancarkan protes terhadap pemakaian bulu hewan sebagai busana di Olimpiade Beijing. "Melihat hewan dibantai dan dipakai sebagai busana di Olimpiade sangat mengerikan bagiku. Lebih baik telanjang daripada memakai bulu hewan di tubuh saya," tutur Beard. Nah, itulah alasannya. Kerennya disebut: naked for reason, bugil untuk perjuangan. "Amanda tidak ingin diam saja, itulah sebabnya dia melakukan sesuatu yang berbeda," kata juru bicara organisasi anti-kekejaman terhadap binatang, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

    Semula poster itu akan dipajang di kolam renang tempat Beard berlomba. Namun kemudian panitia mengambil jalan lain, yakni memindahkannya ke tempat lain-mungkin karena khawatir merusak konsentrasi. Toh, publik masih bisa melihat tubuhnya, meski tak secara keseluruhan.

    Pemilihan Amanda tentulah banyak sebabnya. Selain tubuhnya oke, perkara untuk sekadar mejeng di depan kamera bukanlah pekerjaan baru baginya. Sebelumnya dia sudah beberapa kali tampil polos di majalah seperti Playboy, FHM, dan Sports Illustrated. Kali ini dia ogah komersial. Baginya, ketelanjangannya ini semata untuk membela binatang. "Meski tampil di majalah-majalah itu sungguh sangat menyenangkan," katanya. Itulah sebabnya dia pun dijuluki atlet terseksi di dunia.

    Olimpiade memang menjadi ajang yang tepat untuk berpromosi. Sementara Beard melepas bajunya untuk kepentingan amal, lain lagi dengan tiga atlet Inggris, yakni Rebecca Romero, atlet dayung yang banting setir mengayuh sepeda, lalu Philips Idowu, atlet lompat jangkit, dan Gregor Tait, atlet renang. Ketiganya bukan sembarang atlet. Masing-masing adalah bintang di cabang olahraga yang ditekuninya.

    Rupanya mereka tak hanya pandai mengejar prestasi, ketiganya pun lihai berpose di depan Nadav Kander, sang fotografer. Hasilnya, sebuah karya fotografi yang sangat indah. Dalam warna hitam dan putih, lekuk tubuh mereka yang berotot mengiklankan sebuah produk minuman olahraga. Menjelang perhelatan Olimpiade, produsen minuman ini pun membuat iklan khusus.

    Soal pilihannya pada para atlet, Cathryn Sleight, direktur penjualan perusahaan minuman itu, punya dalih. "Orang biasanya hanya melihat atlet beraksi ketika mereka bertanding. Kami ingin sesekali penonton juga melihat atlet yang tampil dengan make up khusus agar terlihat kehebatan otot dan kekuatannya."

    Philips Idowu sendiri senang-senang saja. "Terus terang, ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Dan, ehm..., saya pun menikmatinya," kata Idowu sambil tersenyum penuh arti.

    Beginilah dunia olahraga zaman sekarang. Mereka tidak lagi menjadi atlet yang hanya bisa digenjot mendapat medali emas, tapi juga mendapatkan ketenaran di luar arena pertandingan. Apalagi momen Olimpiade seperti ini bak catwalk raksasa bagi para atlet. Mereka bisa bergaya dan berjaya di luar jalur olahraga.

    Harap maklum. Mereka memang memiliki kelebihan dibandingkan dengan pekerjaan lain. Punya tampang oke, apalagi bila berprestasi. Soal bodi, ah, dengan menjadi atlet, separuh syarat memiliki tubuh indah sudah dalam genggaman.

    Tubuh para atlet ini memang luar biasa. Beberapa media, termasuk The New York Times, menulis artikel tentang betapa bagusnya bentuk tubuh para atlet kini. "Sehingga bentuk tubuh pesenam perempuan yang lebih menonjol otot-ototnya dibandingkan dengan dadanya pun menarik," demikian tulis harian tersebut.

    Ini jelas berbeda dengan bentuk tubuh para atlet zaman baheula. Dalam buku Made in Beijing, yang mengulas Olimpiade masa silam, terdapat juga foto-foto atlet masa lalu. Bob Mathias, petinju yang ikut dalam Olimpiade 1920, misalnya, sungguh tampak ramping dan tak berotot. Kini petinju kelas bulu pun punya arsiran otot yang menonjol.

    Transformasi ke bentuk tubuh berotot ini memang terjadi sejalan dengan makin majunya teknologi pelatihan dan makanan-tentu juga kesadaran mempertahankan kesehatan atlet. Keadaan demikian-karena percaya diri memiliki tubuh indah-mendorong tak sedikit atlet yang menanggalkan busana demi hal tertentu. Satu di antaranya adalah Dennis Rodman, pebasket Amerika Serikat yang memang bengal luar biasa. Para pemain sepak bola pun ikut-ikutan. Gara-gara pose seksinya, Fabio Cannavaro digila-gilai kaum gay. Ada pula Gabrielle Reece, pemain bola voli yang memang tongkrongannya yahud punya.

    Nah, apakah penampilan mereka di papan iklan atau di media lain memberikan dampak di lapangan? Itu sih bergantung pada atletnya. Sementara Amanda Beard malah kedodoran, sebaliknya Rebecca Romero melaju ke babak final di arena balap sepeda.

    Ada juga atlet yang menyambi menjadi model ketika absen di lapangan. Itulah yang terjadi pada Ashley Harkleroad, petenis berusia 23 tahun asal Amerika Serikat. Kemolekan yang dimilikinya memang kerap menjadi titik perhatian ketimbang prestasinya.

    Tak beda dengan Anna Kournikova, Harkleroad kerap menjadi incaran fotografer yang selalu mencari celah paling seksi ketika berada di lapangan. Tak pelak, bujukan pun kerap datang. Salah satunya dari majalah Playboy, yang memintanya untuk tampil polos. Semula Harkleroad menghindar karena tak punya waktu. Eh, kesempatan itu datang juga. Terutama juga setelah Harkleroad terjungkal prestasinya gara-gara menjalani operasi pengangkatan kista.

    Nah, pada saat absen dalam pertandingan itulah, petenis peringkat ke-39 dunia tersebut menerima tawaran berpose di Playboy. "Kebetulan saya sedang berada dalam kondisi yang tidak bagus. Kenapa tidak saya terima tawaran itu?" kata petenis yang terjun ke tenis profesional delapan tahun silam itu. Ya, ketika tak bisa mencetak berita dari lapangan, ketenaran tetap bisa diperoleh dari jalan lain, dengan tampil sensual di depan kamera.

    Irfan Budiman


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

Olahraga

Lawan Inter, Indonesia Selection Main Bola Bawah  

Olahraga

Sean Gelael Siap Tampil di Formula Pilota  

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum  

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif