Gambar bayi yang muncul dari telur itu cukup memancing tawa semua murid di kelas. Rabu pagi pekan lalu itu, siswa kelas II Sekolah Dasar Islam Binakheir Depok, Jawa Barat, sedang mengikuti mata pelajaran sains. Materinya adalah mengenal jenis makanan dan kandungannya. "Masa, bayi keluar dari telur?" teriak salah seorang murid.
Guru Dinda Nauli Nasution, 27 tahun, turut tertawa. Setelah suasana mulai tenang, dia lalu menerangkan gambar itu. Lalu, klik. Dinda memencet tetikus laptopnya, sehingga muncul keterangan protein untuk pertumbuhan dalam bahasa Inggris. "Anak-anak jauh lebih cepat mengerti bila dengan gambar," ujar Dinda.
Dinda memanfaatkan perangkat multimedia untuk mempermudah pemahaman pelajaran sains. Lulusan Sekolah Tinggi Manajemen Industri ini juga memanfaatkan teknologi buat pelajaran lainnya seperti bahasa Inggris. Metode belajar plus multimedia pelajaran bahasa Inggris itulah yang menjadikan Dinda juara Lomba Guru Inovatif Nasional di Yogyakarta, 23-25 Juli lalu.
Dalam kompetisi itu, Dinda menyisihkan 300 peserta lainnya dan melewati tiga saringan. Pada Maret tahun depan, Dinda dan sembilan peserta terbaik akan mewakili Indonesia dalam Regional Innovative Teacher Conference se-Asia Pasifik di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sembilan guru pemenang lainnya adalah Herfen Suryani dari SMA YPVDP Bontang, Kalimantan Timur, Sesmon Toberius Butarbutar (SMKN I Balige, Sumatera Utara), Setiyana (SMA 1 Bandongan, Magelang, Jawa Tengah), Priyono Hadisaputra (SD YPJ Kula Kencana, Papua), Made Nuryadi (SD YPS Singkole, Sulawesi Selatan), Arief Wahyu Purwito (SMKN 1 Bangil, Jawa Timur), Syahriyati (SMAN 1 Kalabahi, Nusa Tenggara Timur), Yusbiyanti Susiharyani (SMKN 2 Pangkal Pinang, Bangka Belitung), dan Reni Juwita (SD Muhammadiyah GKB Gresik, Jawa Timur).
Lomba itu bertema upaya para guru memanfaatkan teknologi dan perangkat multimedia dalam pembelajaran tingkat SD, SMP, SMA, dan yang sederajat. Penilaian berdasarkan produk multimedia dan laporan penelitian tindakan kelas. Laporan ini harus membuktikan keunggulan dan kelemahan metode berbasis teknologi informasi itu.
Dinda merancang bahan ajar bahasa Inggris bersama rekannya Anik Sri Mulyani dan Maya Yuliantini. Targetnya adalah memudahkan anak memahami pola kalimat pronomina posesif (possessive pronouns)-my, mine, your, yours, their, theirs, dan lain-lain. "Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pola dalam bahasa Inggris," ujarnya.
Awalnya ia dan guru lainnya melakukan penelitian terhadap 25 siswa kelas I pada Maret sampai April lalu. Dalam satu sesi, Dinda mengajar bahasa Inggris tanpa presentasi multimedia. Dia hanya menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk kertas fotokopi.
Hasilnya, belajar konvensional itu menunjukkan banyak siswa bosan dan kesulitan mengerjakan soal. Ada beberapa yang tampak senang, tapi kurang bisa menyelesaikan tugasn mereka. Hanya sedikit yang terlihat senang, antusias, dan bisa mengerjakan. Jadi, dari semua siswa itu, hanya tiga orang yang mendapat nilai 100.
Setelah beberapa hari, Dinda mengajar bahasa Inggris dengan menggunakan presentasi multimedia. Hampir semua murid senang dan bisa mengerjakan soal sang guru. Dari semua siswa itu, ada 20 orang yang meraih nilai 100. Nilai rata-rata siswa naik 67,5 persen. "Metode ini lebih menekankan unsur audio visual," ucapnya.
Ia membuat metode pembelajaran itu dengan program sederhana, seperti Microsoft Power Point yang biasa dipakai presentasi. Dinda menyusun gambar lucu, misalnya gambar bocah perempuan dengan sweater untuk mengganti kata her.
Cara lainnya adalah menggunakan perangkat lunak pendidikan, Jump Start Grade I. Di sini semua murid membuat maket kota beserta isinya, seperti gedung, mobil, atau orang. Setelah itu, mereka membuat dan menuliskan kalimat pronomina posesif berdasarkan maket yang dibuat.
Murid-murid bisa melakukannya sendiri dengan memilih gambar orang atau benda dari Internet. Mereka lalu memindahkan gambar atau kartun kesukaannya ke program Word, lalu mengetik kalimat possessive pronoun.
Menurut Dinda anak-anak biasanya gampang menyerap pelajaran tapi sering lupa seminggu kemudian. Siswa juga biasanya hanya fokus belajar paling lama 15 menit dalam satu jam pelajaran. "Untuk itulah saya ingin memanfaatkan 15 menit itu," katanya.
Dinda mengatakan, daya serap anak-anak akan jauh lebih besar melalui media audio visual ketimbang hanya membaca. Sejumlah penelitian menunjukkan siswa bisa menyerap pengetahuan lebih banyak dengan media audio visual ketimbang hanya membaca. Setelah tiga hari, murid juga bisa mengungkapkan sekitar 65 persen pengetahuannya.
Di kelas, Dinda hanya menggunakan satu laptop dan proyektor. Biasanya Dinda membuat satu bahan materi pelajaran dalam bentuk multimedia selama tiga hari. "Kalau tak memakai multimedia, biasanya anak-anak minta keluar sebelum pelajaran selesai," katanya.
Sarana mengajar Dinda tak hanya mengandalkan perangkat multimedia. Menurut dia, alat audiovisual tetap harus dibarengi perlengkapan lainnya. Murid tetap membutuhkan papan tulis, pensil, bolpoin, gunting, atau karton.
Kepala Sekolah Dasar Binakheir, Ali Badrudin, mengatakan bahwa sekolahnya mengupayakan metode belajar dengan memanfaatkan perangkat multimedia. Sekolah yang baru berdiri tiga tahun lalu itu menyediakan proyektor dan laptop dalam satu kelas. Fasilitas ini terpisah dengan laboratorium komputer sekolah. "Di sini guru memang dituntut lebih kreatif," ujar Ali.
Pakar komputer Romi Satria Wahono mengatakan materi pembelajaran multimedia bisa disusun dengan menggunakan perangkat lunak yang paling mudah. Mereka yang sudah biasa menggunakan Microsoft bisa memasang Power Point. Sedangkan pemakai komputer dengan sistem operasi Linux, misalnya, bisa menggunakan OpenOffice Impressa.
Dalam lomba yang diadakan Microsoft itu, Romi mengatakan hampir semua peserta menggunakan Power Point. Ada juga yang menggunakan program Flash. Romi mengatakan tampilan presentasi itu bukan penentu lolosnya kompetisi. "Kami melihat apakah aplikasi itu benar-benar memecahkan masalah," kata Romi yang juga sebagai juri.
Bagi sebagian sekolah menengah atas di Jakarta, metode pembelajaran dengan multimedia memang bukan sesuatu yang baru. Tapi, bagi siswa sekolah dasar di Indonesia, metode ini terbilang inovasi baru. Apalagi metode ini terbukti memberikan manfaat meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Romi, lomba pembuatan pembelajaran berbasis multimedia lebih menekankan pada praktek di kelas. Dan yang penting: kreatif, orisinal, dan disampaikan dengan cara menarik.
Kreatif dan orisinal itulah yang ditunjukkan Dinda di ruang kelas sains. Anak-anak sangat bersemangat mengikuti pelajaran itu dan langsung merangkai kalimat. "Telur adalah vitamin buat pertumbuhan," kata muridnya, Ahmad Satrio Prodjo Waskito, dalam bahasa Inggris.
Yandi M.R.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

