• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Pulang Retret di Tirtodipuran

    Seorang lelaki separuh baya duduk menghadap meja tulis. Ia mengenakan jas abu-abu gelap. Tangan kanannya memegang pulpen di atas kertas berkop surat. Dasinya biru. Di depannya berdiri seorang perempuan berambut kuning kecokelatan. Lelaki itu berbicara dengan sebatang rokok mengepulkan asap di tangannya. Yang perempuan berdiri mendengarkan, sebelah tangan menutupi mulut dan hidungnya.

    "Bau rokok!" kata Sascha Niestad, si perempuan, tentunya saat itu. Isi pembicaraan itu tak penting lagi. Tapi, yang utama, inilah persepsi seorang seniman Belanda saat baru menjejakkan kaki di bandar udara negeri ini.

    Sascha, alias Ingrid Mol, menjadi bagian dari program perdana residensi seniman Indonesia dan Belanda bertajuk Landing Soon. Selama tiga bulan mereka mondok di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta, atas sponsor Heden (dulu bernama Artoteek Den Haag) dan Kedutaan Besar Belanda. Sejak dimulai pada November 2006, Landing Soon telah melahirkan lima kelas pertukaran. Gambar perempuan dan lelaki tadi adalah sekuen pertama dari karya Ingrid yang dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta, mulai 31 Juli lalu.

    Ingrid bukan komikus. Ia lebih tepat disebut sebagai pematung lulusan Royal Academy for Visual Arts. Namun, dalam prakteknya, Ingrid berkarya melalui rangkaian gambar, patung, dan instalasi yang menghadirkan situasi tiga dimensi yang kaya ragam. Karyanya menghiasi taman-taman kota di Den Haag. Di Indonesia, Ingrid menaruh perhatian besar pada patung ciptaan Orde Baru: patung polisi di tengah kota atau monumen bapak bersafari dan ibu berkebaya dalam tema keluarga berencana.

    Dari hasil mondok-nya, Ingrid menghasilkan The Great Unknown: sebuah karya dengan setting suasana pos keamanan lingkungan, lengkap dengan empat patung manusia, narasi, dan lukisan-lukisan yang diangkat dari serial gambarnya. Semuanya dipajang di pos keamanan lingkungan sesungguhnya di sekitar Jalan Tirtodipuran, tempat para seniman itu bekerja dan berinteraksi di Yogya.

    Menurut pengamat seni Farah Wardani, gambar-gambar Ingrid mengingatkannya akan tradisi komik Eropa abad ke-20 yang diterbitkan Casterman atau Methuen di majalah Eppo (Belgia). "Dan tentu saja Tintin, karya Herge, dengan tarikan garis yang jelas dan warna-warna opaque yang sangat familiar," Farah menulis.

    Dari komik Ingrid, kita bisa melihat apa yang kemudian menarik perhatiannya: Percakapan dengan lelaki berpeci tadi. Seorang pesuruh yang digambarkan lebih mirip Abu Nawas daripada orang Indonesia. Lautan sepeda motor yang dikendarai laki-laki dan perempuan. Kaki bersandal jepit. Sawah dan ladang. Satu tandan buah pisang. Kentungan. Namun bintangnya adalah gardu pos keamanan lingkungan.

    Empat patung Ingrid itu terbuat dari kayu jati yang diukir perajin lokal. Farah menyebut keempatnya seperti merefleksikan kebiasaan orang Indonesia nongkrong di gardu pos; di satu sisi kelihatan santai, tapi tegang menunggu sesuatu yang bakal terjadi. Entah apa. "Ikon karakter pasif masyarakat Indonesia," ia menulis.

    Menurut penyelenggara pameran, Nindityo Adipurnomo, ya, itulah persepsi Ingrid yang ia dapat dari hasilnya berdiam di lingkungan yang sama selama tiga bulan penuh di Yogya. "Dia belum melihat seluruhnya, belum melihat sisi pesisir yang sama sekali berbeda," katanya. Dengan kata lain, gambaran Ingrid tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar juga. Persis seperti kiasan tentang gajah yang bisa dirasakan eksistensinya dari ekor, belalai, atau kaki. Semuanya toh tetap gajah.

    Menurut Nindityo, meski pandangan Ingrid punya bau eksotisme-laiknya penggambaran masyarakat Timur di era kolonial abad ke-19 dan ke-20 sebagai masyarakat yang cantik dan eksotis tapi malas dan tak berdikari-orang Indonesia justru bisa belajar banyak dari karya itu. "Kita bisa melihat kepincangan sosial yang selama ini tidak kita sadari," katanya.

    Karya Sara Nuytemans, seniman Belanda lainnya, menampilkan keterpesonaannya terhadap budaya lokal dengan cara berbeda. Sara, yang terkenal dengan video instalasi interaktifnya, mewujudkan karya berjudul Unfolding Perspectives, yang mengulang ketakutan akan jatuhnya langit di atas kepala kita (gempa Yogya 2006), dan Conducted Prayers dari suara azan yang bertalu-talu lima kali sehari di sekeliling tempatnya menginap.

    Salah satu yang paling intim adalah rangkaian foto dan instalasi milik seniman lokal Angki Purbandono. Dari hasil mondar-mandir ke Pasar Beringhardjo dan pasar loak lain, Angki mengumpulkan foto-foto tua yang ia deretkan hingga rapi. Semua foto hitam-putih itu sudah kekuning-kuningan, sebagian bahkan sudah buram. Dilihat satu per satu, tak ada yang istimewa. Namun, ketika Angki meletakkannya di dalam bidang luas berjejer rapi, tiba-tiba ada rasa "kenal" merasuk dalam hati. Orang-orang asing itu mendadak tampak seperti kakek, nenek, ayah, ibu, atau foto kita sendiri. "Ada sejarah dan cinta yang tercecer di pasar loak dan di rumah-rumah," peneliti sosial Nuraini Juliastuti menulis.

    l l l

    Tak semua dari ke-13 seniman yang terlibat "berbau" Yogya atau Indonesia dalam karyanya. Tapi, lokal atau tidak lokal, terbukti ada banyak yang dihasilkan dari percengkeramaan mereka itu. Seperti disebut dalam kata sambutan pameran, di situlah fungsi residensi yang disebut Nindityo dalam istilah "retret" itu. Landing Soon ingin menjadi wadah dengan lokalitas, sebagaimana halnya dengan globalitas, dipertanyakan dan diteliti ulang. "Para seniman diberi kesempatan untuk sepenuhnya konsentrasi bekerja dan melakukan uji coba dan interaksi dengan sesama seniman, profesional, maupun komunitas tertentu," kata pengantar pameran tertulis.

    Lihat karya Handy Hermansyah: seorang pematung yang mengolah sayur dan buah menjadi obyek hidup. Yang menarik, karena karyanya itu "punya kesementaraan yang mutlak", tak bisa lain Handy mengabadikannya dalam bentuk fotografi, yang ia pahami sebelumnya dari pelajarannya berinteraksi dengan rekan "retret"-nya, Quinten Smith.

    Atau karya Tintin Wulia yang mengeksplorasi persoalan identitas dan batas. Seniman medium video digital ini mengolah kepedihan identitas mereka yang terbuang. Termasuk kepedihan yang dialami warga keturunan Tionghoa, seperti diri Tintin sendiri-kakeknya diculik dan tak pulang lagi sejak huru-hara pascapenculikan enam jenderal pada 1965.

    Dalam instalasi berjudul Pulang-draft 3, Tintin mengabadikan kegelisahan Sobron Aidit, adik bekas pemimpin komunis Indonesia, D.N. Aidit, dalam film dokumenter sebelum warga negara Prancis ini wafat pada Februari 2007. "Sobron berkisah, bersiul, berkaca-kaca, mengenang, menunggu, melangkah terseok," aktor teater Landung Simatupang menulis. Tak ada yang berbau Yogya di situ. Namun, menurut Nindityo, Tintin memantapkan idenya dari hasil interaksi selama di sana.

    Akhirnya, ada perluasan wawasan dan daya pikir yang telah terjadi bolak-balik antara mereka yang mondok itu. Bagi yang lokal, "Setidaknya mereka sekarang bisa bahasa Inggris," ujarnya, tertawa. Karena itu, katanya, janganlah hasil "retret" ke-13 seniman itu dinilai dari karya semata. Namun lihatlah dari ruang-ruang interaksi yang terjadi antara Yogyakarta dan Den Haag itu. Ada tinta yang selamanya tertoreh dalam cakrawala mereka. Manusiawi, tentu saja.

    "Ada tiga kisah cinta yang berangkat dari sini," kata Nindityo.

    Kurie Suditomo


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Internasional

Korban Cuaca Ekstrem Eropa Tembus 550 Orang

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif