• Home
  • 18 Agustus 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Agustus 2008

    Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

    DIUKUR dari pencapaian seni rupa Indonesia yang telah menyajikan karya rupa berbagai bentuk, harus saya katakan bahwa pameran Jakarta Art Award 2008 ini berpihak. Maksud saya: pameran ini hanya membuka satu bentuk karya: seni lukis. Padahal seni rupa Indonesia begitu luas variasinya. Dari gambar sampai instalasi, dari patung sampai seni rupa video.

    Bisa juga dikatakan dewan juri begitu berdisiplin: dari 82 karya nomine yang dipamerkan di Galeri Pasar Seni, Ancol, Jakarta, hanya satu karya yang bukan bidang datar yang digambari. Itulah karya Hamzah berjudul Mantekno dan Manteknoman, sebuah kolase berbagai onderdil barang.

    Di masa ketika apa saja bisa disebut karya seni rupa, keberpihakan penyeenggara kompetisi-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Pembangunan Jaya Ancol-tampaknya disengaja untuk melihat seberapa kreatif para pelukis Indonesia.

    Ini berbeda dengan upaya Dewan Kesenian Jakarta setelah enam tahun berjalan, pada 1974, menyelenggarakan untuk pertama kalinya Pameran Besar Seni Lukis Indonesia. Di masa itu pembatasan pada seni lukis bisa dipahami: yang disebut karya seni rupa ketika itu "terbatas" pada lukisan, patung, dan karya grafis.

    Dan di antara ketiganya, seni lukislah yang paling produktif. Dari pameran 34 tahun lalu itu tergambar kurang-lebih perkembangan mutakhir seni lukis Indonesia ketika itu: yang bisa disertakan adalah karya baru dua tahun terakhir (1973-1974), dan tiap pelukis yang diundang menyertakan dua sampai tiga karya. Biar bukan kompetisi, Pameran Besar Seni Lukis Indonesia 1974 memilih karya terbaik.

    Dari pemilihan inilah muncul reaksi dari para pelukis muda yang menganggap pemilihan dewan juri mencerminkan status quo, tidak mengapresiasi perkembangan baru. Setahun kemudian di antara pelukis muda yang memprotes itu melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Yang pokok dari gerakan ini: karya seni rupa bukan hanya lukis, patung, dan grafis. Horizon penciptaan menjadi relatif tak terbatas.

    Ketika sebuah kompetisi seni rupa dibatasi hanya seni lukis di masa horizon penciptaan relatif tak terbatas itu, yang bisa diharapkan adalah munculnya karya lukis yang habis-habisan mengeksploitasi "keterbatasan" tersebut. Di dunia kesenian, penilaian bahwa "novel sudah mati" atau "kreativitas sudah mentok" justru merangsang lahirnya karya yang membuktikan kebalikannya.

    Lalu munculkah karya lukis yang "habis-habisan" itu pada Jakarta Art Awards 2008 ini? Menurut selera saya, belum. Bisa karena memang demikianlah seni lukis Indonesia sekarang ini; atau selera dewan juri memang tak ke arah itu. Juri dalam kompetisi ini adalah pelukis Sri Hadi Soedarsono, Gubernur Fauzi Bowo, pejabat bank Miranda Goeltom, pengusaha Ciputra, pelukis Nyoman Gunarsa, wartawan Efix Mulyadi, pendidik Suwarno Wisetrotomo, wartawan Malela Mahargasarie, dan pengamat seni Agus Dermawan. Atau penyebab lain: pelukis yang "habis-habisan" tak ikut serta.

    Kalau tak ada yang "habis-habisan" itu, lalu apa yang tersaji? Beberapa hal. Dari 82 karya yang masuk nominasi, segera terkesan adanya kegamangan untuk melangkah jauh-beberapa karya mengingatkan kita pada karya perupa yang sudah ternama.

    Kedua, ada ketidaktuntasan merepresentasikan gagasan: sebuah karya yang terhitung amat bagus dari semua sisi, tapi tema yang diminta kurang muncul. Antara lain Trendsetter, buah tangan Vani H.R. Sebuah pandangan dekat mesin ketik pada bagian logam yang berhuruf, pita pada posisinya, tentu saja lengkap dengan bagian-bagian mesin ketik kuno ini, serta selembar kertas yang siap diketik.

    Tema kompetisi ini "Warna-warna Jakarta". Jadi mana "Jakarta"-nya? Logam berhuruf yang dibuat berwarna-warni tentulah tidak cukup, bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan tema. Saya bayangkan, bila saja pada kertas terketik sesuatu yang bisa menghubungkan karya ini dengan Jakarta. Juga lukisan Agus Putu Suyadnya, Show Time Memoles Jakarta dengan Warna. Seekor gajah yang belalainya memegang kuas yang sudah dicelupkan ke dalam cat merah, lalu sekaleng cat merah tumpah. Dalam judul yang mengandung "Jakarta" itu justru "Jakarta" absen di kanvas.

    Ketiga, rata-rata karya secara teknis mumpuni tapi terasa sebagai pinjaman kreativitas seniman lain. Meminjam bermakna harus dikembalikan, karena itu pinjaman tersebut tak boleh diubah-ubah. Dalam lukisan, inilah yang kemudian dikatakan sebagai "tak ada yang baru". Kalau seorang pelukis mengambil jalan surealistis (artinya kesurealisme-realismean; bukan surealisme, karena ini nama gerakan yang sudah lampau), apa pun akan terasa sebagai "pinjaman" dari Salvador Dali atau Rene Magritte atau yang lain. Betapapun dalam lukisan itu ada bentuk masa kini yang dulu tak ada, misalnya hamburger sebagai ganti kepala sosok manusia. Dibutuhkan suatu guncangan, entah dengan cara apa dan bagaimana, sehingga lukisan surealistis itu tak terasa sebagai bahasa Dali atau Magritte atau yang lain.

    Guncangan, sehubungan dengan pameran karya Jakarta Art Awards 2008 ini, bisa bermakna banyak. Dari sekadar format (apakah sangat kecil atau sangat besar), media (secara kreatif menggunakan cat, tinta, pensil secara tidak biasa, misalnya), sampai ide (ini tentu saja tak terbatas, dari perbendaharaan pengalaman hidup hingga kekayaan pengetahuan). Itulah yang tak saya temukan dari 82 karya.

    Sekadar contoh, saya terkagum-kagum pada seorang pelukis yang hanya menggunakan media "kuno", tinta dan kertas, serta teknik yang kuno juga, garis arsir. Namun ia menyuguhkan satu-satu garis arsir yang membentuk dua sosok manusia di depan hutan bambu nan lebat pada kertas yang sungguh lebar. Tentu saja, bukan jerih payah mengarsir yang mungkin harus dilakukan berhari-hari itu yang membuat karya ini bermutu, juga karena sebagai karya lukisan itu sendiri lukisan tinta pada kertas ini memang mencerminkan otentisitas, tak terasa klise, segar.

    Kalau harus memilih, dengan dasar uraian yang telah terbeber itu, selera saya melekat pada Mimpi Mbok Yem karya Wasis Subroto. Metafora lukisan ini dengan rendah hati menyampaikan nasib sebagian besar urban yang terbentur kekerasan di Jakarta, terpaksa tidur di sembarang tempat, termasuk di pinggir kali atau di pojok trotoar. Bahasa bentuk tak memunculkan masalah besar, lalu daun-daun yang rontok dalam mimpi Mbok Yem itu berubah menjadi lembaran-lembaran uang. Kalau ada bahasa yang kurang menggambarkan kesengsaraan adalah pakaian dan sarung sebagai selimut yang terasa masih baru. Tapi ini bisa dimaafkan, logika berkata: siapa tahu pakaian baru itu berkat belas kasih orang lain.

    Yang kedua, Trendsetter, yang sudah disinggung. Kemudian Paru-paru Jakarta karya Andi Cakra Abbas. Lukisan akrilik di kanvas ini, dari cara melukis dan sudut pandang yang diambil serta komposisi obyek-obyek, mengingatkan kita pada fotografi masa kini atau sepotong shoot dari seni rupa video: apa adanya. Hanya segar ada "guncangan": Monumen Nasional di lapangan Monas itu ternyata tumbuh sebagai pohon yang rindang-emas di pucuk monumen lenyap, yang ada adalah daun-daun yang subur. Di bawahnya seseorang meringkuk tidur, nun di latar belakang adalah gedung-gedung. Kalau saja Monas itu lebih ditonjolkan, boleh jadi karya ini akan sangat berkesan.

    Juga karya Hardiyono yang surealistis, sebuah dunia yang kering dengan benda-benda aneh-seperti pohon tapi bukan, seperti daun-daun tapi juga bukan. Di antara benda-benda raksasa itu bermain anak-anak. Hardiyono tak meminjam surealisme Salvador Dali, melainkan "mencuri" suasana surealisme itu (seperti kata sebuah kutipan, seniman kecil "meminjam", seniman besar "mencuri").

    Lalu Monorel, lukisan cat minyak di kanvas Hono Sun. Ini parodi yang bagus; ternyata kereta satu rel di Jakarta bukan kereta berjalan di rel, melainkan sepeda di tali tambang. Dan monorel itu bukan meluncur di atas jalan raya, melainkan di atas atap-atap perumahan. Beberapa yang lain, Ancol 17 Agustus 2007, lukisan realis Afriani. Menurut saya, pelukis ini sangat menguasai bentuk. Yang diperlukan adalah suatu pemikiran atau perenungan atau semacamnya. Dan Rumah Susun Paikun yang bagaikan terbuat dari karton warna-warni serta terbang bak layang-layang. Sebenarnya ini lebih tepat disebut "perumahan susun" atau "kota yang melayang"-tak hanya rumah ia adakan di situ, juga pasar dan jembatan.

    Penyelenggara tentu saja hanya bisa merangsang. Barangkali, dengan pemilihan yang lebih ketat, bukan 82 misalnya, melainkan cukup 30 karya terpilih yang dipamerkan, keketatan itu bisa menantang para pelukis untuk itu tadi, "habis-habisan" mengeksploitasi medium kuno itu: cat, tinta, kertas, kanvas, pensil, arang akuarel, kuas, dan sebagainya.

    Bambang Bujono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Djoko Santoso dan Pungkas Tri Baruno (Almarhum)

Buku

Membaca Malaysia yang Lain

Seni Rupa

Pulang Retret di Tirtodipuran

Habis-habisanlah Menggarap Seni Lukis

Catatan Pinggir

Tahanan

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif