• Home
  • 22 September 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 22 September 2008

    Tafsir Liris dari Belitung

    BELITUNG, 1979. Kota ini "terbelah". Sebuah papan bercat kuning dalam tiga bahasa-Indonesia ejaan lama, Belanda, dan Mandarin-yang terpasang di pintu gerbang Perusahaan Negara Tambang Timah, yang berjarak tak jauh dari Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur, menunjukkan strata sosial yang terkerat itu. Papan itu bertulisan "Dilarang Masuk buat orang jang tida punja hak".

    "Orang-orang staf", begitulah julukan bagi pegawai perusahaan, lalu-lalang menggunakan mobil Datsun, skuter, atau motor Yamaha. Pegawai kecilnya berombongan mengayuh sepeda. Di dalam kompleks perusahaan berdiri rumah-rumah peninggalan Belanda dan Wisma Ria Lenggang yang dilengkapi air mancur. Wisma ini biasa dipakai untuk memutar film-film kungfu melalui layar proyektor.

    Sutradara Riri Riza kemudian membenturkannya dengan panorama masyarakat asli Gantong yang terdiri atas etnis Melayu, Tionghoa, dan suku Sawang. Mereka bekerja sebagai buruh timah atau nelayan. Anak-anak mereka terjun menjadi kuli. Dan lihatlah sekolah Muhammadiyah itu: beratap seng penuh lubang, berdinding kayu seadanya, dan harus disangga oleh batang pohon agar tak roboh. Di malam hari, sekolah ini beralih fungsi sebagai kandang kambing.

    Di menit-menit awal-juga hampir di sekujur film-Riri menyuguhkan gambar-gambar kontras yang mengentak itu. Dimulai dengan perjalanan pulang Ikal dewasa (dimainkan Lukman Sardi) ke Gantong, Riri segera meletakkan konteks sejarah masyarakat Belitung, sebelum masuk ke dalam cerita Laskar Pelangi. Ia menyelipkan foto dokumenter pemerintah kolonial Belanda saat mendirikan perusahaan Gemeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Billiton pada awal abad ke-20, yang menggambarkan sejarah panjang dan pahit daerah penghasil biji timah terbesar ketiga di dunia itu. Inilah asal mula tercerabutnya masyarakat asli Belitung dari tanahnya sendiri.

    Riri di film ini tampak jelas tak hendak menyajikan Laskar Pelangi yang dalam novel dikenal berkisah tentang kenakalan dan kejeniusan anak-anak sekolah Muhammadiyah belaka. Ia memberikan tafsir baru, bahkan memperkayanya dengan latar sosial dan politik. Riri pun kemudian "menggeser" fokus cerita lebih kepada perjuangan sekolah anak-anak Laskar Pelangi menghadapi hidupnya yang limbung-juga menghadapi sekolah mapan di balik gerbang perusahaan raksasa itu.

    Trio Ikal (Zulfany), Lintang (Ferdian), dan Mahar (Verrys Yamarno) memang tetap menjadi pusat cerita. Tapi porsi Bu Muslimah, juga Pak Harfan, guru dan kepala sekolah Muhammadiyah, jauh lebih besar dibanding cerita dalam novel. Dengan lebih berfokus pada Bu Muslimah, Ikal, Lintang, dan Mahar itu, para pembaca setia Laskar Pelangi pun kehilangan cerita kegilaan teman-teman Ikal yang lain.

    Kisah Borek alias Samson yang mempraktekkan "penyakit gila nomor 5" dengan membuka praktek sedot dada dengan bola tenis agar tampak kekar, misalnya, tak cukup dieksplorasi. Ia hanya muncul sambil lalu. Cerita Trapani yang berakhir dramatis, karena menderita mother complex, malah sama sekali tak muncul. Begitu pula kisah Mahar yang bak seorang dukun menyembuhkan Ikal yang sakit akibat dimabuk cinta.

    Namun Laskar Pelangi versi Riri sama sekali tak menebas seluruh kelucuan dan kenakalan anak-anak itu. Masih ada aksi tengil Mahar saat mempersiapkan karnaval, Ikal yang berdandan habis-habisan dan bergaya bak Rhoma Irama saat bertemu dengan A Ling yang ia cintai, dan Lintang yang harus menunggu buaya lewat untuk menuju sekolah yang berjarak 40 kilometer dari rumah gubuknya.

    Riri justru berhasil menjinakkan "keganjilan" pada beberapa bagian novel Andrea. Mahar yang mengagetkan Bu Mus dengan tiba-tiba menyanyikan Tennessee Waltz karya Anne Murray dan "si jenius" Lintang yang berdebat hebat tentang cincin Newton dalam lomba cerdas cermat "dibumikan" Riri menjadi adegan yang lebih wajar bagi seorang anak. Riri mengganti Tennessee Waltz dengan Bunga Seroja, yang justru memperkental roh Melayu ke dalam film. Dan untuk adegan lomba cerdas cermat itu, secara tak terduga Riri mengubahnya menjadi drama yang menggetarkan. Menonton film ini mengingatkan kita pada film Denias, Senandung di Atas Awan (2006), juga tentang anak di desa terpencil yang tak menyerah untuk bersekolah.

    Inilah metamorfosis Laskar Pelangi versi Riri. Ia bercikal bakal tubuh yang sama, tapi kemudian mengelupaskan kulitnya menjadi tubuh yang baru. Salah satu tokoh dalam novel, misalnya, kemudian meninggal dalam film. Dan ini menjadi adegan-yang tak ada dalam novel-yang sungguh menyentuh. Film Laskar Pelangi telah bertransformasi menjadi karya yang lebih realistis dan kaya akan konflik sosial.

    Yos Rizal Suriaji


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Layar

Melukis Pelangi di Layar Perak

Tafsir Liris dari Belitung

Para Pelukis Pelangi di Kanvas Riri

Seni Rupa

Menyiasati Keindahan Yaasiin

Buku

Sosialisme Sonder Gagasan Baru

Catatan Pinggir

Rakus

Album

Sakit
Muhammad Gunawan

TEMPO|interaktif

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif