• Home
  • 13 Oktober 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Digital
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 Oktober 2008

    9 TAHUN LALU

    TEMPO edisi 11 Januari 1999

    MENJINAKKAN krisis ekonomi sangat tidak mudah, apalagi mengatasinya. Pengalaman sepanjang 1998 membuktikan hal itu. Dampak tular depresiasi baht telah mengguncang ekonomi negara Asia Tenggara dan Asia Timur sejak Juli 1997 serta untuk pertama kali seluruh dunia menyaksikan betapa berbahayanya arus modal yang besar dan bersifat spekulatif. Arus ini berpotensi meruntuhkan stabilitas ekonomi lalu menjadikannya bulan-bulanan para spekulan. Indonesia menjadi korban empuk karena fundamental ekonominya ternyata rapuh. Tentang ini, Bank Dunia dalam laporan tahunan 1998 menyebutkan, "... dalam sejarah mutakhir tidak ada negara yang mengalami malapetaka keuangan paling dramatik seperti Indonesia." Bahkan Bank Dunia memperkirakan berbagai kesulitan dan ketidakpastian masih harus dihadapi Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

    Indonesia paling terpukul-dibandingkan dengan Thailand dan Korea Selatan-mungkin sekali karena di negeri ini ekonomi yang sudah terpuruk masih diobrak-abrik oleh real politic. Berbeda dengan upaya pemulihan ekonomi di Thailand yang menjadi lebih lancar, ketika Chuan Leekpai, yang dijuluki Mr Clean, terpilih sebagai perdana menteri. Hal yang sama terjadi di Korea Selatan, begitu politikus idealis Kim Dae-jung terpilih sebagai presiden.

    Di negeri ini sulit mencari politikus idealis, apalagi Mr Clean. Itulah real politic. Jadi, pada pengujung 1998, ekonomi Indonesia harus menelan kepahitan yang luar biasa: inflasi 77,63 persen, produk domestik bruto minus 13,68 persen, nilai ekspor US$ 50,05 miliar (turun 6,34 persen dari 1997), impor anjlok 34,18 persen; dengan demikian terjadi surplus neraca perdagangan, tapi di sisi lain mencerminkan penurunan besar pada kegiatan sektor riil. Selain itu, jumlah penduduk miskin diperkirakan membengkak sampai 80 juta, sedangkan pengangguran terbuka mencapai 20 juta. Defisit pada anggaran 1998 masih akan terulang untuk 1999, sedangkan kontraksi ekonomi diperkirakan 1 hingga 3 persen.

    Krisis ekonomi kembali mengancam Indonesia. Kali ini gara-gara kehancuran ekonomi Amerika Serikat, yang bibitnya sudah terlihat sejak pertengahan tahun lalu. Bisakah Indonesia mengusir ancaman itu?


    CATATAN

    13 Oktober 1792
    Istana Presiden Amerika, Gedung Putih, mulai dibangun. Dihuni mulai 1800, presiden pertama yang menempati istana itu adalah John Adams.

    14 Oktober 1911
    Revolusi Cina dimulai, mengakibatkan kaisar terakhir wangsa Ching, Henry PuYi, kehilangan takhta.

    15 Oktober 1970
    Anwar Sadat dilantik sebagai Presiden Mesir.

    16 Oktober 1905
    Sarekat Dagang Is-lamiyah didirikan Kiai Haji Samanhudi, mula-mula untuk melindungi kepentingan para pedagang batik Islam di Surakarta.

    17 Oktober 1952
    Demonstran yang didukung sejumlah tentara yang membawa tank mengepung Istana dan mendesak Presiden Soekarno membubarkan parlemen.

    18 Oktober 1931
    Thomas Alva Edison meninggal. Lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat, pada 1847, ia adalah pencipta bola lampu listrik, mesin fonograf, telegraf, dan puluhan temuan besar lainnya.

    19 Oktober 1987
    Tabrakan kereta api di Bintaro. Sebanyak 129 orang tewas dan ratusan luka-luka.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Vakansi Murah Keliling Eropa

Seni Rupa

Tentang Dolo, Plastik, dan Intimasi

Layar

Seratus Tahun Bersama Soledad

Salim, Sjahrir, dan Héléna

Catatan Pinggir

Pleonoxia

Album

MENINGGAL
Profesor Dr Retno Sri Ningsih Satmoko

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar  

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

Olahraga

Bielsa: Kekalahan Bilbao Tanggung Jawab Saya

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif