• Home
  • 13 Oktober 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Digital
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 Oktober 2008

    Klinsi Mencari Titik Balik

    BIBIRNYA langsung terkatup. Wajahnya cemberut. Menjelang peluit berbunyi, dia pun lemas. Kepalanya geleng-geleng tak percaya dengan hasil pertandingan itu. Dua pekan silam itu, mereka gagal meraih angka penuh. Bayern Munich bermain imbang 3-3 melawan Bochum, meski sempat unggul 3-1.

    Stadion semegah Allianz itu tiba-tiba menjadi neraka jahanam. Teriakan pendukung Bayern Munich terdengar menyakitkan. Juregen Klinsmann hanya bisa diam.

    Inilah pengalaman pahit yang tidak pernah dibayangkan. Dalam tujuh game sampai pekan lalu, mereka hanya dua kali menang dan tiga kali draw. Dua kekalahan terasa menyakitkan. Salah satunya tatkala mereka ditekuk Werder Bremen 5-2 di kandang sendiri.

    Praktis, langkah awal pada musim kali ini merupakan yang terburuk dalam 40 tahun terakhir. Sampai pekan ketujuh, posisi Bayern nyungsep di urutan 10 klasemen sementara. Siapa pun, terutama fan alias pendukungnya, dengan mudah menunjuk penyebab: Juergen Klinsmann, sang manajer baru Bayern Munich. "Pergi saja kau," teriakan itu menjadi lazim mampir ke telinga sang manajer.

    Tentu saja ini berbeda dengan yang terjadi pada awal Juli lalu. Saat itu pendukung klub marun perak ini melambung keyakinannya. Prestasi Klinsi-panggilan sayang Klinsmann-pada saat memegang Der Panzer Jerman di Piala Dunia 2006 menjadi pangkal keyakinan itu.

    Ketika itu Klinsi memang istimewa. Tanpa pengalaman mengelola tim sebelumnya, dia dipercaya mengurus tim nasional Jerman. Dalam waktu dua tahun, Klinsi berhasil memermak tim Panser.

    Tim Jerman yang semula kaku, lambat panas, dan irit gol tiba-tiba berubah menjadi seperti seorang remaja akil balik yang tak pernah kehabisan napas dan tenaga plus nafsunya yang terus membara. Hasilnya, Jerman masuk semifinal, sebelum kandas oleh Italia.

    Klinsi pun manis namanya. Namun keputusan berikutnya sungguh me-ngagetkan. Berada di puncak ketenaran, dia malah mundur dari jabatan manajer tim nasional. Sempat pula beredar kabar tentang klub yang berniat memakai jasanya. Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, bahkan tim nasional Amerika Serikat dan Inggris dikabarkan juga tertarik merekrutnya. Semuanya seperti membentur tembok. Klinsi sama sekali tidak tertarik.

    Dia memilih kembali mudik ke kampung halamannya di California, Amerika Serikat, untuk berkumpul dengan istri dan dua anaknya. Di sana, dia menikmati hidupnya dari hasil mengurus tim sepak bola sambil menekuni ajar-an Timur, termasuk cara pengobatan alternatif. "Saya benar-benar mening-galkan sepak bola. Sehari-hari pun saya tidak pernah menendang bola. Kalaulah berolahraga, saya lebih suka jogging," katanya.

    Ternyata itu tak bertahan lama. Peng-urus Bayern Munich jenuh dengan hasil kerja Ottmar Hitzfeld, yang membawa Bayern menjadi juara tapi tidak memuaskan. Mereka ingin klub merah marun itu menjelma menjadi seperti tim nasional Jerman yang atraktif dan tampil menyerang. Persis seperti saat digarap Klinsmann.

    Februari tahun ini, mereka mulai membuka negosiasi dengan si rambut pirang. Ternyata Klinsi tak kuasa menampik tawaran ini. Sret, sret ..., tanda tangan digoreskan di surat kontrak. Mulai 1 Juli, Klinsmann resmi menjadi bos di Munich. Klinsmann langsung gembar-gembor akan membawa dua piala: juara Bundesliga dan nomor wahid di Liga Champions. Bekalnya dia punya, membawa Jerman menjadi nomor tiga dalam perhelatan Piala Dunia 2006 di negerinya sendiri.

    Ternyata ajang liga teramat berbeda dengan ajang kompetisi layaknya Piala Dunia-turnamen pendek yang memudahkan pelatih mengelola emosi para pemainnya. Liga tentu saja berbeda. Mereka harus tetap bersama-sama selama satu musim dengan segala suasana dan ketegangan yang tidak pernah sama. Sampai pekan lalu, Bayern Munich masih terpuruk. Semua sedih. Padahal FC Hollywood-julukan klub ini, gara-gara para pemainnya lebih sering tampil di media gosip ketimbang media olahraga-adalah juara Bundesliga musim lalu.

    Sebenarnya Klinsi tidak sendirian. Ada juga yang nasibnya kurang lebih sama. Dia adalah Joseph Guardiola, 37 tahun, Manajer Barcelona. Publik terperangah ketika Guardiola ditunjuk sebagai pengganti Frank Rijkaard asal Belanda. Dia lebih dikenal sebagai bintang Barca-sebutan klub Barcelona dalam bahasa Spanyol-semasa dilatih Johan Cruyff. Tapi, setelah bintangnya redup, si berewok ini mondar-mandir ke berbagai klub. Bahkan sempat terdampar di Qatar. Belakangan, dia pun terkena kasus obat terlarang.

    Tekanan terhadap Pep-panggilan Guardiola-justru lebih berat. -Minim pengalaman, kecuali berhasil membawa klub Barcelona B naik ke divisi dua. Namun nasib orang siapa yang menduga. Semusim berlalu, dia langsung diberi kepercayaan menangani klub sebesar Barcelona. "Ini merupakan penghargaan yang luar biasa," katanya.

    Guardiola punya langkah taktis. Dua bintangnya, Ronaldinho dan Deco, dipecat. Katanya, merekalah yang menjadi biang keladi kemandulan Barca. Meski sempat guncang di awal, sempat terseok-seok di awal musim, toh mereka mampu bangkit. Kemenangan terakhir mereka atas Atletico Madrid, dengan hujan gol 6-1, adalah bukti pulihnya keadaan tim.

    Nah, lalu apa yang keliru dengan Klinsi? Dengarkan komentar Mario Bassler, bekas pemain Bayern Munich. Bassler, yang bersama Stefan Effenberg merupakan pilar dari klub ini, melihat ada sesuatu yang diusung Klinsmann ke dalam klub tersebut. Klinsmann diketahui memiliki ketertarikan pada ajaran dari Timur.

    Itu pula yang membuatnya membawa patung ke tempat mereka berlatih. Tujuannya? Agar pemain dapat menyerap energi positif. "Waktu kami bermain, kami tidak memerlukan hal-hal seperti itu. Kami berlatih, bertanding, dan menikmati hidup," kata Bassler ceplas-ceplos.

    Tentu saja, bukan patung itu yang menjadi sumber masalah sebenarnya. Namun cara Klinsi yang mencoba aura baru dalam timnya yang dianggap masih belum bisa diterima timnya. Bagaimanapun, FC Hollywood adalah tim bertabur bintang. Antara lain ada Miroslav Klose, Lukas Podolski, Franck Ribery. "Klinsi membawa sesuatu yang abstrak dan sulit dipahami para pemain," kata Bassler. Hal senada dirasakan pemain lain. Salah satunya adalah Ze Roberto, pemain asal Brasil. Mereka lebih ingin yang simpel saja.

    Kini nasib Klinsi memang sedang tidak bagus. Sekarang saatnya bagi dia untuk menemukan titik balik bagi dirinya dan juga tim. Namun, dia masih beruntung. Setidaknya para petinggi di klub itu masih memberikan dukungan. Franz Beckenbauer dalam kolomnya di surat kabar Bild menyarankan agar Klinsi menanggapi semua kritik dari siapa pun, baik dari media, pendukung, maupun pengurus klub, dengan kepala dingin.

    Apakah itu artinya? Beckenbauer ingin agar Klinsi lebih mementingkan soal suasana dan hubungan antarpemain di dalam klub. "Klinsmann membutuhkan waktu agar para pemain bisa berasimilasi dengan filosofi latihannya. Kami butuh bersabar," kata Beckenbauer, yang juga pemimpin Bayern Munich.

    Toh, Klinsmann tak bisa lega hati. Sebab, kata sang Kaisar-sebutan Beckenbauer-para petinggi klub itu hanya memberi waktu hingga akhir tahun. Bahkan, bisa jadi lebih singkat dari itu. Mungkin Klinsmann perlu meditasi agar mendapat pencerahan.

    Irfan Budiman


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Vakansi Murah Keliling Eropa

Seni Rupa

Tentang Dolo, Plastik, dan Intimasi

Layar

Seratus Tahun Bersama Soledad

Salim, Sjahrir, dan Héléna

Catatan Pinggir

Pleonoxia

Album

MENINGGAL
Profesor Dr Retno Sri Ningsih Satmoko

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar  

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

Olahraga

Bielsa: Kekalahan Bilbao Tanggung Jawab Saya

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

Olahraga

Perkuat Timnas Lawan Inter, Apa Kata Senior?

Nasional

SBY Minta Demokrat Shopping Capres  

Nasional

Syukuri Kelulusan, Siswa di Lumajang Bagi Sembako

Olahraga

Suatu Kehormatan Melatih Messi, Kata Guardiola  

SBY Jalan Cepat Bersama Ribuan Hasher di Borobudur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif