• Home
  • 17 November 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 November 2008

    Pathuk, Soeharto, Perkenalan Biasa

    MALAM semakin malam ketika dua-tiga pemuda kelompok Pathuk berjalan dalam diam, mengintai dari balik pepohonan dan bilik rumah. Mereka mencari lelaki bersuara asing yang biasanya berseragam tentara.

    Situasi seperti ini, menurut Suryoputro-nama samaran aktivis Pathuk-merupakan saat yang tepat untuk berburu tentara Jepang. Mereka, lazimnya, baru pulang dari pelesir syahwat di Kota Yogyakarta.

    Pencegatan biasanya dilakukan dua-tiga pemuda Pathuk-merujuk pada nama kawasan di Kota Gudeg itu. "Jika ketemu anak-anak Pathuk, hampir bisa dipastikan Jepang itu mati," kata Suryo, kini 81 tahun.

    Sjam Kamaruzaman, bekas Kepala Biro Chusus Partai Komunis Indonesia, dan beberapa pemuda Pathuk lainnya, menurut Suryoputro, gemar melakukan aksi ini. Mereka menggunakan pipa besi berisi timah cor-coran, mengendap dari belakang, lalu dhek-wasalam....

    Suryoputro ketika itu masih siswa Sekolah Taman Siswa kelas satu. Sjam tercatat sebagai siswa di sebuah sekolah dagang. Ayah Suryoputro adalah adik bungsu Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan Bapak Pendidikan Nasional.

    Kelompok Pathuk, menurut Suryoputro, berjumlah sekitar 50 orang, dan banyak di antaranya murid Taman Siswa. Salah satunya Isti Sudarsini, yang juga masih kerabat Tyasno Sudarso, bekas Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

    Aktivitas rutin para pemuda Pathuk adalah bersekolah. "Kebanyakan anggotanya siswa sekolah menengah." Mereka baru aktif menggalang kekuatan dan menyusun rencana pada malam hari, diam-diam, agar tak terendus intel Jepang.

    Menurut Oemiyah, istri almarhum Dajino-salah satu tokoh pemuda Pathuk-anggotanya berdiskusi tiap malam mengenai situasi politik dan keamanan. Oemiyah, 81 tahun, masih kerabat Faisal Abda'oe, bekas Direktur Utama Pertamina.

    Kelompok ini melakukan apa saja untuk mengganggu ketenangan serdadu Jepang. Misalnya mencopoti bola lampu di seputaran kawasan Kotabaru, Yogyakarta, hingga mendorong serdadu Jepang dari kereta api yang sedang melaju cepat.

    Baru berjalan setahun-dua, aksi kelompok ini tercium Ki Hajar, yang segera meminta mereka menghentikannya. Ki Hajar meminta para pemuda berlatih senjata secara benar, dengan menjadi anggota Pembela Tanah Air (Peta), bentukan Jepang.

    Ketika itu Soekarno dan beberapa pemimpin lain memang sedang berupaya menjalin kerja sama dengan Jepang untuk mencapai kemerdekaan. Sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, para pemuda dan masyarakat berunjuk rasa, berupaya menurunkan bendera Jepang di Gedung Agung, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan.

    Bersama Munir, yang kemudian menjadi Ketua Umum Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia-yang berafiliasi dengan PKI-Sjam ikut meminta mundur tentara Peta yang berjaga. Agar terlihat meyakinkan, mereka menunjukkan senapan yang mereka curi dari tangsi militer Jepang.

    Akhirnya tentara Peta mau menyingkir. Melihat orang yang jumlahnya ribuan dan terus bertambah, pasukan Jepang dan pejabatnya menyingkir keluar dari gedung. Sang Merah Putih berkibar di tiang bendera, menggantikan bendera Jepang.

    Karena banyaknya senjata yang dapat dirampas atau dicuri dari Jepang, menurut Suryoputro, para pemuda bekerja sama dengan Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Resimen di Yogyakarta. "Dari sinilah perkenalan teman-teman dengan Soeharto."

    Demikian pula Sjam Kamaruzaman berkenalan dengan Soeharto. Tapi, menurut Suryoputro, perkenalan itu tidak intensif, cuma sebatas perkenalan biasa.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Biografi Sambil Lalu

Seni Rupa

Dari Dunia Sirkus

Tari

Kerudung, Sepatu Bot, dan Sapi

Tambang-tambang Androgini

Album

MENINGGAL
Andjar Any

TEMPO|interaktif

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston Tutup Usia  

Whitney Houston Tutup Usia

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir  

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut  

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI  

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah  

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif