• Home
  • 17 November 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 November 2008

    Surat Pembaca

    Tunjangan Guru Macet

    SAYA seorang guru sekolah swasta di Pematangsiantar yang belum kebagian uang tunjangan fungsional Rp 200 ribu per bulan dari Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Utara. Padahal saya dan beberapa rekan guru di sekolah menengah atas saya sudah memenuhi persyaratan: mengajar 24 jam seminggu dan membuka tabungan di BRI Pematangsiantar. Untuk diketahui, bagi guru seperti saya, uang Rp 300 ribu yang harus disetor saat membuka rekening di BRI itu sudah kelewat besar.

    Sejauh ini dinas pendidikan belum menjelaskan kenapa kami tak kunjung mendapat uang tunjangan itu, sedangkan guru-guru sekolah swasta lain sudah mendapatkannya sejak dua bulan lalu. Apakah dinas pendidikan memang menerapkan kebijakan berbeda kepada sekolah kami dan beberapa sekolah swasta lainnya yang gurunya juga tak mendapat uang tunjangan ini?

    ZAINAL ABIDIN, SE
    Guru SMA Erlangga

    Susah Bayar Pajak

    SUDAH dua tahun ini saya tak bisa membayar pajak bumi dan bangunan. Biasanya ada petugas yang datang ke rumah saya tiap kali pajak bumi dan bangunan akan jatuh tempo, tapi kini petugas itu tak kunjung datang. Saya bertanya ke bank, mereka tak mengetahui nomor pajak saya. Saya bingung, ke mana mesti membayar pajak?

    M. TAUFIQURAHMAN
    Taman Kebalen, Bekasi

    Amrozi Cs Bukan Mujahid

    SALAH kaprah jika menyebut Amrozi cs mati syahid sebagai mujahid atau orang yang berjuang di jalan Allah. Islam tak mengajarkan kekerasan seperti kelakuan mereka mengebom Bali.

    Mujahid yang sesungguhnya menggunakan seluruh bakat, potensi, jiwa, harta, dan pikirannya untuk meninggikan kalimat Allah. Pelajar yang bertujuan meninggikan kalimat Allah adalah mujahid. Pengusaha yang menggunakan hartanya untuk meninggikan kalimat Allah adalah mujahid. Ilmuwan yang menyumbangkan ilmu dan kecerdasannya untuk meninggikan kalimat Allah adalah mujahid. Seorang dai yang berdakwah untuk mensyiarkan agama Allah adalah mujahid.

    Mari kita tegakkan ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Quran dan hadis, kita jauhi larangan Allah dan kita jalankan semua perintah-Nya dengan baik dan benar. Semoga kasus Amrozi cs menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam. Ya, Allah, tunjuki kami jalan yang lurus dan benar.

    Rifa Irtafa
    Bogor, Jawa Barat

    Umat Islam Jangan Terprovokasi

    UMAT Islam sebaiknya tidak terprovokasi pelbagai pemberitaan tentang Amrozi cs yang didengungkan sebagai orang yang mati syahid. Sebagai masyarakat muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia harus bisa memberikan contoh dalam kehidupan yang rukun dan damai di antara banyak keyakinan yang ada di Indonesia.

    Proses hukum yang dilalui Amrozi cs sudah benar, pidana yang diterapkan kepada mereka sudah diakui, upaya hukum pun sudah dilaksanakan, sehingga eksekusi mati Amrozi cs tidak perlu dipermasalahkan karena sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

    Pribadi Santoso
    Bogor, Jawa Barat

    Premanisme di Kampus

    DARI Jakarta hingga Makassar, tawuran telah menjadi penyakit mahasiswa. Padahal mereka ini calon intelektual. Sungguh memalukan. Apa jadinya bangsa ini jika calon-calon pemimpinnya suka tawuran?

    Pihak rektorat harus minta bantuan polisi agar ada razia rutin senjata tajam, bom molotov, dan narkotik di kampus. Semoga aksi premanisme di kampus ini segera reda.

    I MADE ADIYAKSA
    Jatiwaringin, Jakarta Timur

    Demokrasi dalam Kemenangan Obama

    Amerika Serikat telah memberikan contoh yang berharga bagi kita semua. Amerika adalah negara dengan penduduk beragam: multiras, multietnis, multiagama, dan multibudaya. Namun, pemilihan presiden lalu terlihat sangat elegan. Prinsip siap menang dan siap kalah patut ditiru. Siapa pun yang menang adalah kemenangan bersama, termasuk bagi yang kalah.

    Sikap seperti itulah yang kiranya masih sangat mahal bagi negeri tercinta, terutama dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah di beberapa daerah. Alangkah indahnya bila demokrasi tecermin dalam sikap legowo dan sikap berjiwa besar. Memang, umur Indonesia kalah jauh oleh Amerika yang kenyang pengalaman dalam hal berdemokrasi. Namun, di era modern, ketika rakyat semakin cerdas tanpa perlu digurui, Indonesia perlu sikap-sikap seperti itu.

    ARYO SETYAKI
    Pasar Minggu, Jakarta Selatan

    Tak Usahlah KPU ke Luar Negeri

    Komisi Pemilihan Umum tak perlu melakukan sosialisasi ke luar negeri. Ada banyak tugas yang lebih penting di dalam negeri agar Pemilihan Umum 2009 berjalan sukses. Lagi pula sosialisasi pemilihan di luar negeri hanya opsi.

    Tidak usahlah Komisi latah meniru pihak lain yang mengambil kesempatan dalam kesempitan agar bisa bepergian ke luar negeri. Tugas Komisi yang sangat mendesak adalah membangun sistem pemilihan yang komprehensif agar seluruh suara dan aspirasi masyarakat bisa tersalurkan. Jangan sampai pemenang pemilihan nanti adalah golongan putih.

    R. Satya Nugraha
    Bogor, Jawa Barat

    Mari Belajar Berdemokrasi

    BELUM semua elemen masyarakat Indonesia bisa menerima "kekalahan" sebagai konsekuensi dari sebuah mekanisme demokrasi. Tak mengherankan jika pemilihan kepala daerah selalu berakhir ricuh. Peran media juga besar dengan kian memanaskan situasi dengan berita sensasional.

    Para elite politik perlu belajar pada politik Amerika Serikat hari-hari ini. John McCain yang kalah oleh Barack Obama dengan ikhlas mengakui kekalahan dan menghormati hasil pemilihan tanpa melakukan protes, apalagi mengungkit perdebatan sebelumnya.

    Adi Prasetyo
    Kemanggisan, Jakarta Barat

    Dukung Razia Preman

    Polisi sedang giat melaksanakan operasi penangkapan preman. Kejahatan jalanan sudah menjadi budaya kota besar. Republik ini sebentar lagi menggelar pemilihan umum. Kalau kejahatan jalanan ini tidak segera kita atasi, pemilihan bisa terganggu.

    Upaya membasmi premanisme tidak cukup hanya dengan melakukan pemberantasan kejahatan jalanan, tapi juga harus dibarengi kebijakan membuka lapangan kerja. Seusai mereka menjalani sanksi hukum, mereka akan kembali ke tengah masyarakat. Mereka harus bekerja supaya bisa hidup. Tolong dipikirkan untuk segera membuka lapangan pekerjaan baru yang legal bagi para mantan preman tersebut.

    Anggi Astuti
    Parung, Bogor


    RALAT

    • Tempo edisi 10-16 November 2008 halaman 80 pada artikel "Agar Sehat di Tempat Kerja" tertulis kandidat doktor kesehatan kerja. Seharusnya, dr Suryo Wibowo, peserta Program Studi Pendidikan Magister Kedokteran Profesi Dokter Spesialis 1 Kedokteran Okupasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kami mohon maaf atas kekeliruan ini.

    • Pada rubrik Pokok dan Tokoh edisi yang sama, tertulis harga alat bor bermesin untuk membuat lubang biopori hasil modifikasi Imam Prasodjo Rp 400 ribu. Harga yang benar adalah Rp 2,5-3 juta. Kami mohon maaf atas kesalahan ini.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Biografi Sambil Lalu

Seni Rupa

Dari Dunia Sirkus

Tari

Kerudung, Sepatu Bot, dan Sapi

Tambang-tambang Androgini

Album

MENINGGAL
Andjar Any

TEMPO|interaktif

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang

Metro

Dua Pencurian Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak

Ribuan Ikan Kemabli Mati Mengambang di Kali Surabaya  

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

Olahraga

Bielsa: Kekalahan Bilbao Tanggung Jawab Saya

Nasional

Semua Siswa MAN di Halmahera Ini Tak Lulus UN  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif