• Home
  • 17 November 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 November 2008

    Tambang-tambang Androgini

    PANGGUNG gelap. Namun suara percakapan dalam bahasa Prancis riuh-rendah membahana. Setelah hening sejenak, panggung pun mulai terang. Seutas tambang menjuntai dari atas. Seorang pemuda berkulit gelap masuk ke panggung. Ia meraih tambang itu dan berayun.

    Sejurus kemudian dua utas tambang lain terjatuh di panggung. Dua pria lain pun masuk. Dan mereka bertiga menari bersama tali. Mereka bukan penari trapis tentu. Tapi Anda bisa melihat mereka menguasai teknik akrobat. Musik disko berdentam-dentam. Seorang pemuda lain ikut bergabung di atas panggung. Keempat pemuda ini berbagi tali seperti berbagi kehidupan.

    Kamis dua pekan lalu, Gedung Kesenian Jakarta dipadati penonton. Pertunjukan yang menjadi magnet kali ini bertajuk Fiuk. Ini adalah karya Frenak, koreografer kelahiran Hungaria yang bermukim di Paris. Fiuk berasal dari bahasa Hungaria yang berarti: pemuda.

    Keempat pemuda itu tampil dalam kostum minimalis. Tiga di antaranya bertelanjang dada. Sikap-sikap tubuh penuh ekspresi maskulin mendominasi awal adegan. Namun Frenak bukan menyajikan sebuah ekshibisi binaragawan. Koreografinya justru ingin menampilkan paradoks-paradoks tubuh laki-laki. Tali pun dapat berubah fungsi menjadi tiang di panggung striptease. Pada saat itu para pemuda tersebut tampil bak full monty alias penari striptease laki-laki.

    Frenak pintar mempermainkan imaji kelelakian. Tiba-tiba seorang penari kemudian memperagakan lenggak-lenggok ala catwalk dalam balutan gaun putih. Sementara itu, penari lain memperagakan boneka balerina di atas kotak musik. Apa yang ingin disampaikan Frenak? "Tari ini berusaha bertutur mengenai perjuangan seorang pemuda yang akan tumbuh dewasa," ungkap Balasz Baranyai, salah satu penari, kepada Tempo. Dalam koreografi ini, Frenak berusaha merekonstruksi kembali konstruk sosial yang dibebankan kepada pemuda. Ia seolah ingin mengatakan bahwa di balik tubuh-tubuh berotot juga tersimpan gen-gen feminin. Ia seolah ingin menyatakan dalam diri setiap orang selalu ada momen-momen tubuh mengalami fase androgini-fase percampuran maskulin dan feminin.

    Frenak merupakan sosok unik. Lahir dari orang tua tunarungu di Hungaria, ia pun akrab dengan gerakan tubuh sebagai bahasa. Balet klasik sebagai dasar penciptaan tari ia pelajari dari Endre Jeszenszky. Ia pun belajar tarian folklorik Magyar serta tari kontemporer. Pada 1980 Frenak pindah ke Paris, Prancis. Setelah sembilan tahun malang-melintang dalam dunia tari Prancis, ia mendirikan kelompok tari.

    Ketelanjangan memang tampak menjadi obsesi Frenak. Ini mungkin karena pria berumur setengah abad itu sangat dipengaruhi butoh. Ia tampak ingin menampilkan anasir-anasir erotisme secara puitik. Maka, dalam sebuah adegan, penonton pun sempat terenyak. "Adegan ini bisa kena Undang-Undang Antipornografi," bisiknya, seraya tertawa kecil.

    Adegan itu adalah ketika di sudut panggung tampak kursi-kursi tertata rapi. Kemudian dalam temaram, muncul tiga penari laki-laki membelakangi penonton. Tubuh mereka telanjang bulat. Sorot lampu membuat tubuh mereka berbalur cahaya warna-warni yang syahdu. Dengan iringan musik lembut, tangan-tangan mereka membelai punggung dan bahu. Sebuah keintiman yang romantis.

    Namun, tatkala sensasi seksual itu lenyap, panggung seolah ingin berkata bahwa pencarian diri para pemuda itu telah berjalan ke fase lain. Tubuh-tubuh maskulin yang tegas muncul kembali. Begitulah pesan Frenak. Penari-penari itu memetaforakan transisi pubertas di masa remaja. Sayang, Frenak tak turut hadir di Jakarta menikmati antusiasme penonton yang tak mau beranjak dari bangku gedung.

    Sita Planasari Aquadini


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Biografi Sambil Lalu

Seni Rupa

Dari Dunia Sirkus

Tari

Kerudung, Sepatu Bot, dan Sapi

Tambang-tambang Androgini

Album

MENINGGAL
Andjar Any

TEMPO|interaktif

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif