"PENULIS besar dunia telah lahir dari Timur," puji harian Jerman Die Welt kepada penulis asal Turki, Orhan Pamuk, 56 tahun. Karya peraih Nobel 2006 bidang literatur ini memang layak dipuji. Bukan saja karena Pamuk adalah peraih penghargaan Nobel termuda sepanjang sejarah, tapi juga karena sederetan bukunya terjual lebih dari 7 juta eksemplar. Sejak 1982 ia telah menerbitkan 13 buku, 9 di antaranya mendapat penghargaan multi-internasional.
Buku-bukunya telah diterjemahkan ke 50 bahasa. My Name is Red bahkan menyabet Impact Prize, yang menghadiahkan US$ 100.000 buat penulisnya-penghargaan tertinggi novel fiksi. Ia terpilih sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time.
Berikut ini wawancara Orhan Pamuk dengan Sri Pudyastuti Baumeister dari Tempo di sela-sela kesibukannya di pameran buku terbesar dunia Frankfurt Book Fair, yang berlangsung pada pertengahan Oktober lalu, tempat ia meluncurkan karya terbarunya, The Museum of Innocence. Wawancara ini dilakukan terputus-putus di antara rapat-rapat bisnis, diskusi buku, dan adu sikut dengan pengawal bayaran yang ia sewa sejak dihujani ancaman pembunuhan.
Buku-buku Anda menyiratkan realitas kultur Turki yang terbelah: Islam dan sekularisasi. Sepertinya tembok yang membelah wajah Turki ini selalu menjadi inspirasi Anda?
Ya, energi saya justru timbul dari tembok yang sampai hari ini masih eksis di Turki. Para seniman dan intelektual dari generasi lama cenderung terlalu Barat atau bahkan terlalu Timur. Terlampau tradisional atau sebaliknya terlalu modern. Saya mengkombinasikan kedua arah ini agar Turki lebih bisa dipahami eksistensinya.
Anda sukses disebut sebagai pengarang Turki modern. Buku-buku Anda menjadi bahan diskusi, bahan perdebatan, dan disebut-sebut memiliki pandangan baru yang segar dan cinta perdamaian....
Reformasi yang dilakukan Mustafa Kemal Atatürk (pendiri Turki dan presiden pertama Turki) dengan "melupakan banyak hal". Bagi Atatürk, sebuah bangsa dibentuk dari "apa yang dilupakan", bukan dari "apa yang diingat". Jadilah kultur, seperti bahasa dan pakaian tradisional, dilupakan. Bahkan literatur tradisional pun dilupakan. Namun apa pun yang tertindas akan muncul kembali. Dan inilah saya sekarang, yang kembali menjadi seseorang dalam era posmodern. Bukan seseorang dengan tradisi literatur sufi, melainkan seseorang yang amat tahu bagaimana kiat sebuah buku berperan di dunia Barat. Saya mengkombinasikan yang Barat dan yang Timur.
Dalam Snow, Anda mengangkat keinginan wanita untuk berjilbab ke sekolah. Bagaimana Anda memahami persoalan kewajiban beragama seperti ini?
Jangan lupa, saya adalah penulis. Saya memfokuskan persoalan tidak dari pandangan sebuah pernyataan, melainkan dari pandangan seorang yang memahami penderitaan orang lain. Saya kira literatur bisa mendekat ke soal di mana tidak seorang pun berhak mengatakan apa yang benar. Itu yang bikin tulisan novel politik jadi menarik.
Bagaimana ceritanya Anda bisa menulis novel politik?
Saya tidak tertarik politik ketika saya mulai menulis lebih dari 20 tahun lalu. Penulis Turki terdahulu malah secara moral banyak terlibat politik. Mereka menulis seperti apa yang ditulis Nabokov (Vladimir Vladimirovich Nabokov, penulis Rusia) sebagai "komentar sosial". Menurut saya, politik semacam itu hanya akan merusak seni.
Tapi saya melihat banyak orang mempertanyakan politik, sementara pemerintah telah merusak demokrasi dan melakukan pelanggaran hak asasi. Lalu saya mulai melakukan sesuatu di luar menulis buku, seperti membuat petisi dan menghadiri berbagai pertemuan politik. Inilah yang membuat saya terlibat perang politik melawan pemerintah dan kemapanan. Sampai kemudian saya berpikir, kenapa tidak sekalian membuat novel politik, dan mengungkapkan apa yang terpendam di benak saya selama ini.
Kini Anda lebih sedikit bicara tentang politik. Padahal novel-novel Anda amat keras membicarakan politik.
Ada satu alasan penting ketika Anda harus berpolitik, yakni ketika Anda melihat perkembangan satu hal saja, tidak jalan. Contohnya saja, jangan ada sensor lagi, dong. Nah, untuk ini perlu ada yang ngomong. Tapi, bagaimanapun, dalam dua tahun terakhir saya banyak terlibat kegiatan politik. Saya tetap percaya penulis punya kewajiban moral, yakni menulis buku. Itu prioritas utama!
Anda banyak mendapat pengaruh Barat, tapi berusaha mempertahankan identitas Turki dalam keseimbangan Barat dan Timur. Sudahkah tercapai?
Saya membenci pemisahan Barat dan Timur: antara Turki modern dan tradisional. Saya berupaya mempertahankan identitas nasional, tapi melakukan eksperimen dalam penyusunan sebuah buku juga penting. Sebuah buku harus bisa mengangkat sisi rumit dan gelap kehidupan. Turki tidak bersinar seperti di Barat. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk merasakan kesedihan yang nyata ada di mana-mana. Namun di atas semua itu, yang terpenting adalah berbicara tentang kebenaran: hak-hak manusia dan kebebasan berpikir misalnya-sebuah peradaban yang, diakui atau tidak, bermuasal dari Barat. Saya ingin hidup di lingkungan yang tak akan menjebloskan seseorang ke penjara karena pemikirannya.
Bagaimana kehidupan sosial Anda?
Saya tidak punya kehidupan sosial. Saya amat jarang keluar untuk minum-minum-kehidupan lumrah orang-orang di sini. Saya bukan pemuja kesenangan. Saya lebih suka tinggal dan bekerja di kantor. Bukan berarti saya anti-pesta dan wanita. Cuma saja efeknya terlalu besar bagi saya. Setelah pesta, biasanya saya tidak bisa bekerja selama dua minggu. Ini membunuh imajinasi. Sepertinya saya membuktikan ucapan Flaubert (Gustave Flaubert, novelis Prancis yang terkenal lewat bukunya Madame Bovary). Katanya, "Semakin sedikit ereksi, semakin baik Anda menulis."
Bagaimana Anda menilai buku Anda?
Buku saya sederhana tapi kaya kata-kata dan terus terang. Selain itu, buku saya juga misterius dan sedikit gelap.
Anda sengaja membuat provokasi dalam tulisan Anda?
Saya mengikuti apa kata naluri saya. Naluri saya mengatakan, pergilah ke suatu tempat yang tidak ada seorang pun di sana. Jika Anda berbuat sesuatu yang fenomenal, orang akan terpana. Saya dibesarkan keluarga sekuler elite Turki yang berpandangan positif. Lantas naluri saya berbicara lagi. Saya harus berpindah ke tempat lain. Tempat di mana saya bisa menghubungkan dua kutub yang diduga orang tak bisa dihubungkan, seperti mengaitkan politik Islam dengan buku-buku posmodern dan komik. Jika saya menulis, saya lepas kacamata saya, sehingga saya tidak bisa melihat (tekanan penguasa). Namun satu hal harus diingat: menjaga diri jangan sampai jatuh. Sebab, satu kali jatuh, seluruh eksperimen (dalam penulisan buku) yang pernah dibuat akan dilupakan orang.
Apa yang menarik dari buku Anda yang terbaru?
Museum of Innocence bercerita tentang kisah cinta pria kaya dan perempuan miskin di kota besar Istanbul sekitar tahun 1975 sampai sekarang. Jangan lupa, percintaan di Turki berbeda dengan di Barat. Di Turki ada keterbatasan society: perbedaan laki-laki dan perempuan. Ada garis yang nyata antara sex and love. Di sinilah cerita itu dikemas dengan pertanyaan besar: apa sih cinta itu sebenarnya? Kisah cinta yang sesungguhnya bukan seperti yang digambarkan bergaya melodrama di film-film. Cinta muncul dari berbagai faktor, dari penampilan, kepribadian, ketenangan. Cinta bahkan bisa melahirkan pesimisme.
Kabarnya, The Museum of Innocence bukan sekadar novel biasa? Di mana keistimewaannya?
Museum of Innocence adalah juga nama museum yang akan saya buka di Cukucurma, Istanbul. Museum ini menampilkan bermacam obyek yang muncul di novel saya. Dari barang seni sampai sepatu, dari perhiasan sampai pensil. Bahkan ada gelas yang masih ada lipstiknya. Tapi, sekali lagi, ini bukan novel tentang museum, tetapi novel tentang kisah percintaan berikut polemiknya, walaupun di situ saya banyak menampilkan benda museum. Teman saya sampai bilang, "Sinting kamu, ya, bikin kisah percintaan model begitu ?"
Jika Turki menjadi anggota Uni Eropa, sejauh mana identitas Turki akan berubah?
Saya berharap Turki segera menjadi anggota Uni Eropa, kendati pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki hak asasi manusia di sana. Tidak ada kebebasan berbicara dan berpikir. Jika ini terus terjadi, bisa-bisa Turki tidak akan masuk kandidat anggota Uni Eropa, sehingga membuat kondisi politik Turki semakin buruk. Lebih parah lagi, Turki akan menjadi negeri yang chauvinist, nasionalis, dan bahkan anti-Barat. Kenyataannya dari hari ke hari keterlibatan pemerintah lewat politik brutalnya telah perlahan-lahan membunuh kreativitas para seniman dan intelektual. Namun saya kira tetap ada jalan untuk menjadi anggota Uni Eropa, sehingga Turki bisa punya andil dalam menciptakan masa depan dunia yang ideal.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

