• Home
  • 08 Desember 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Desember 2008

    Acin Kini Tak Licin

    DI kalangan pengusaha Pekanbaru, namanya sudah tak asing. Kendati demikian, tak mudah menemui pria ini. Candra Wijaya alias Acin, 47 tahun, selektif menerima tamu. Jika ia tak mengenal dengan baik tamunya, sang tamu hanya akan berhadapan dengan dua sekretarisnya di kantornya di Jalan Tanjung Datuk.

    Sepekan ini Acin memang jadi pembicaraan masyarakat Pekanbaru. Ini bukan hanya karena "ternyata" ia bisa ditangkap, tapi juga karena penangkapannya itu membawa akibat lain. Sejumlah polisi dicopot dari jabatannya dan sejumlah mantan kepala kepolisian yang pernah bertugas di daerah itu diperiksa.

    Perkenalan Acin dengan dunia judi terjadi sekitar 28 tahun silam. Saat itu, pada usia belasan tahun, ia meninggalkan kampung halamannya di Selat Panjang, Bengkalis, ke Pekanbaru untuk mencari pekerjaan. Tanpa punya modal sepeser pun, Acin yang tak lulus sekolah dasar itu diterima di sebuah rumah biliar milik bandar judi togel alias toto gelap. Tugasnya sederhana: mencatat skor para pemain biliar yang, biasanya, bermain sembari bertaruh.

    Rupanya, sang bos terpikat dengan keuletan Acin. Dari sinilah ia kemudian diizinkan ikut terjun ke bisnis remang-remang bosnya itu: judi. Acin dipercaya menjadi pengecer togel. Ini ternyata tak lama. Lantaran ia dinilai sukses, posisinya naik lagi, menjadi agen togel untuk sejumlah wilayah di Riau.

    Sampai pertengahan 1990-an, nama Acin belumlah terkenal. Kendati terhitung sudah jadi agen besar, namanya masih di bawah bayang-bayang dua gembong judi kakap bersaudara di Riau, Aeng dan Ahok. Belakangan, setelah Aeng ditangkap aparat, dan Ahok menjadi buron polisi, barulah secara perlahan-lahan sayap bisnis judi Acin menguasai Riau dan sekitarnya.

    Menurut polisi, bisnis judi Acin berkembang pesat sejak 2000-an. Untuk mengendalikan bisnisnya, pria berbadan tegap dan berkacamata ini melibatkan kerabatnya. Fokus bisnisnya pada judi togel. Dari kantornya di Pekanbaru itulah ia mengendalikan tak kurang dari 200 agen yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Singapura, Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Hampir setiap bulan Acin terbang ke luar negeri. Menurut Kepala Kepolisian Daerah Riau Brigadir Jenderal Hadiatmoko, omzet judi Acin per hari sekitar Rp 4 miliar.

    Acin tak terjamah oleh aparat hukum karena selama ini selalu berupaya menjaga hubungan baik dengan aparat keamanan. Menurut seorang sumber Tempo, Acin menggunakan kaki-tangannya untuk mendekati aparat keamanan yang dianggap bisa mengusik bisnisnya. Sebaliknya, aparat keamanan, jika memerlukan sesuatu, akan meminta bantuan dana kepada bapak lima anak itu.

    Tak hanya aparat keamanan yang diperhatikan Acin. Wartawan yang dianggap berpotensi mengganggu bisnisnya juga dipegangnya. Kepada majalah Tempo, Hadiatmoko menyebutkan, selain polisi, sejumlah wartawan di Riau menerima duit dari Acin. "Dia memberikan uangnya itu lewat humasnya," kata Hadiatmoko, yang menjadi Kepala Kepolisian Riau sejak Mei lalu.

    Keterangan Hadiatmoko ini mengejutkan sejumlah pemimpin organisasi wartawan. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Riau, Dheni Kurnia, misalnya, meminta Hadiatmoko menyebut nama-nama wartawan itu. "Akan kami pecat wartawan yang menerima dana judi itu," kata Dheni. Pengurus Aliansi Jurnalis Independen Riau, Ahmad Fitri, meminta Kepala Kepolisian Riau segera mengumumkan nama wartawan itu ke publik.

    Acin sendiri kini meringkuk di ruang tahanan Markas Kepolisian Daerah Riau. Pusat komando judinya di rumah toko di kawasan Tanjung Datuk kini sepi. Sejumlah peralatan di kantor itu diboyong polisi untuk barang bukti. Kini serangkaian tuduhan mengarah ke pria yang pendidikannya hanya sampai kelas lima sekolah dasar ini-dari memiliki senjata api ilegal, membuka praktek perjudian, hingga melakukan kejahatan pencucian uang.

    Pengacara Acin, Aswin Siregar, menolak memberikan komentar terhadap serangkaian tuduhan terhadap kliennya itu. Hanya, soal senjata, Aswin menegaskan, itu hanya senjata peluru karet yang izinnya sudah habis dan agennya belum memperpanjang masa berlakunya. "Yang lain nanti saja saya jelaskan di pengadilan," katanya.

    Martha W. Silaban, Jupernalis Samosir (Pekanbaru)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Warna Kesumba Seni Lekra

Fotografi

Ketika Cakil Mendekati Istana

Indonesiana

Baliho Anti-Orang Kidal

Televisi

Memburu Peringkat di Layar Kaca

Album

PENGHARGAAN
Bibit Waluyo

Catatan Pinggir

Fortinbras

TEMPO|interaktif

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif