• Home
  • 08 Desember 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Desember 2008

    Komik Lontar ala Subali

    INI cerita Tantri Kamandaka," kata Ida Bagus Gede Subali Jelantik Manuaba. Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia itu memamerkan lontar buatannya kepada Tempo. Dan kita melihat bukan lontar biasa yang penuh berisi aksara Bali kuno, tapi juga gambar binatang: bangau, kerbau, burung. Seperti fabel, hewan digambarkan tengah bercakap-cakap.

    Inilah terobosan yang dilakukan anak muda itu, hingga ia meraih Indonesia Berprestasi Award, penghargaan yang disponsori oleh perusahaan telekomunikasi.

    Subali mengangkat riwayat yang ada dalam kakawin lontar kuno ke dalam gambar sehari-hari. Dan memang menarik. Anak muda ini menyusunnya dalam bentuk komik strip. Meski tanpa gelembung percakapan, gambar itu mudah dipahami. Goresan pisau pangrupak pengukir daunnya terasa lugas dan tajam.

    Di tangannya, lontar yang sakral menjadi "berdimensi pop". Ilmu mengukir lontar diperoleh Subali Jelantik dari sang ayah, Ida Bagus Gede Jelantik Manuaba, dosen bahasa dan sastra daerah Bali di Universitas Hindu Indonesia. Sang ayah memang mengajari semua anaknya menulis di lontar.

    Subali anak nomor dua. Bersama kakaknya Yudha dan adiknya Apsari, sedari kecil mereka telah dilatih oleh ayahnya menyalin lontar-lontar tua milik keluarga. Meskipun pelajaran aksara kuno Bali diberikan di sekolah dasar, pendidikan langsung di keluarga membuat Subali amat jatuh cinta pada lontar kuno.

    Keluarga Subali keturunan Brahmana-yang memperlakukan lontar sebagai benda keramat. Daun lontar kuno mengajarkan berbagai rahasia yang ada di bumi, dari sastra, obat-obatan, hukum, arsitektur, silsilah keluarga, hingga pangiwa alias ilmu kiri. Dibutuhkan jiwa yang matang dan bijak untuk bisa mempelajari dan menguasai ilmu yang terkandung. Sang ayah sesekali mengajak Subali bersama adik dan kakaknya berkunjung ke Gedong Kirtya, museum penyimpanan lontar kuno di Buleleng, untuk melihat koleksi lontar kuno lainnya.

    Subali masih percaya, lontar menyimpan kekuatan yang misterius. Bila orang menyucikan diri dan merapal aksara-aksara di lontar tertentu, ia bisa memunculkan kekuatan tertentu. "Bisa untuk mencelakai orang, membuat gila orang, bisa berjalan di atas air, bisa membuat hujan, berdasarkan kalimat di kitab-kitab ini," kata Subali.

    Sebelum siap dipakai, daun lontar perlu diproses satu tahun. Makanya harganya mahal dan sulit pula diperoleh. Jelantik biasa membelinya di Karang Asem setahun sekali, setiap September. Harganya sesuai dengan ukuran. Yang 30 sentimeter dihargai Rp 3.000, 40 sentimeter Rp 4.000, dan 50 sentimeter Rp 5.000 per lembar. "Belinya antre, seperti beli es. Itu pun kalau tidak dijadikan makanan sapi. Biasanya diborong orang Belanda," katanya.

    Karena daun lontar yang asli makin langka, Subali bereksperimen membuat tiruan daun lontar. Untuk kertasnya, ia gunakan dua lapis fancy paper warna matte-sering disebut dengan istilah dof-dan disemprot pylox warna clear setelah itu. Hasilnya lumayan.

    Banyak kisah yang diketahuinya akan dijadikan komik. Meski demikian, ia berkonsultasi dengan ayahnya untuk memilih-milih cerita mana yang bisa diekspresikan dalam bentuk gambar. Tidak sembarang kisah tentunya. Sekarang ia mencoba menjajal Babad Catur Brahmana untuk dikomikkan. Babad mesti dibaca, dari aksara Bali, ditranslasi ke Latin, dipahami, disadur intinya, baru kemudian digambar.

    Kurie Suditomo, Rofiqi Hasan (Badung)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Warna Kesumba Seni Lekra

Fotografi

Ketika Cakil Mendekati Istana

Indonesiana

Baliho Anti-Orang Kidal

Televisi

Memburu Peringkat di Layar Kaca

Album

PENGHARGAAN
Bibit Waluyo

Catatan Pinggir

Fortinbras

TEMPO|interaktif

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif