• Home
  • 15 Desember 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Desember 2008

    Tiga Dekade Lakon Ketoprak

    JAVANESE PERFORMANCES ON AN INDONESIAN STAGE: CONTESTING CULTURE, EMBRACING CHANGE
    Penulis: Barbara Hatley
    Penerbit: ASAA Southeast Asian Publication Series, NUS Press, Singapore 2008

    MEMBACA buku ini, kita seolah melihat sebuah gulungan lukisan yang terbuka pelan-pelan. Satu per satu Barbara Hatley, penulis buku ini, menyingkap kekayaan cerita dan latar sejarah seni pertunjukan yang selama ini jarang diteliti: ketoprak.

    Guru besar yang kini mengepalai Studi Asia dan Indonesia di Universitas Tasmania, Australia, ini meneliti ketoprak untuk tesis doktornya. Selama 30 tahun ia tenggelam dalam penelitian teater rakyat. Dan untuk menuliskannya, dia menghabiskan waktu hampir 10 tahun.

    Hasilnya? Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change adalah perjalanan yang membawa kita ke jantung kebudayaan Jawa. Sepanjang buku terasa benar Hatley membuat pembacanya merasa nyaman oleh rasa percaya bahwa apa yang dia uraikan terjamin otentisitasnya.

    Hatley memulainya dengan perkenalan dia pada Yogyakarta, pada 1970-an. Saat itu ia terpikat pada ketoprak, jenis teater rakyat berbahasa Jawa, yang ceritanya digali dari kisah-kisah sejarah dan dongeng lokal.

    Menurut Hatley, ketoprak dan beberapa jenis teater lain yang dikenal sebagai kesenian tradisional Jawa tak pernah statis, tapi mengalami evolusi mengikuti dinamika kehidupan politik dan pergerakan zaman. Kesenian ini sempat menjauh, lalu mendekat kembali pada basis budaya dan komunitas penontonnya-yaitu rakyat dari kelas menengah ke bawah di Yogyakarta dan sekitarnya.

    Cerita ketoprak biasanya diangkat dari teks-teks sejarah legendaris. Namun wujudnya berubah-ubah, bergantung pada pengelola dan pembuat pertunjukannya.

    Ambillah contoh lakon Ki Ageng Mangir, pemimpin dari Dusun Mangir, yang menurut dongeng sejarah dipilih sendiri oleh rakyatnya. Konon, ia menolak mengakui kekuasaan Kerajaan Mataram. Alkisah sang Raja, Prabu Senopati, setelah mendengar kabar tak menyenangkan ini, mengirim delegasi kerajaannya ke Mangir untuk memastikan berita yang dia dengar. Utusan Raja malah diserang dan dipukul mundur. Kembalilah mereka melaporkan perlakuan ini kepada sang Prabu.

    Senopati pun meminta nasihat Patih Ki Ageng Mandaraka, yang mengusulkan kiat yang tak konvensional. Sang Prabu diminta mengirim putrinya, Pembayun, ke Mangir, dalam samaran sebagai penari. Pembayun menuruti perintah ayahnya. Dan dia berhasil mencuri hati sang pemimpin yang tak sudi tunduk kepada kekuasaan Prabu. Pendek cerita, mereka menikah. Setelah beberapa lama, Pembayun membuka identitas sesungguhnya. Dia meminta sang suami menjumpai Prabu Senopati dan mengakuinya sebagai raja.

    Karena cinta kepada Pembayun, Ki Ageng Mangir menyerah. Pergilah mereka ke Mataram. Namun, tatkala menantunya datang bersujud, Prabu Senopati, yang mengikuti petunjuk patihnya, membunuh sang menantu. Hati Pembayun yang sedang mengandung hancur luluh.

    Untuk memberikan pengakuan atas status Ki Ageng Mangir sebagai menantu, Senopati menguburnya di makam yang ditempatkan setengah di dalam dan setengah di luar dinding keraton. Makam itu menjadi tempat ziarah sampai sekarang.

    Sebagai sebuah pertunjukan, alur cerita ketoprak bergantung pada suasana politik pada waktu itu. Pada masa sesudah kemerdekaan-pengujung 1950-an dan awal 1960-an-sisi-sisi populis dari Ki Ageng Mangir amat ditonjolkan. Tapi, dalam era Orde Baru, terutama apabila pergelarannya disponsori penguasa, pribadi Mangir tampil kasar dan pemberang. Prabu Senopati justru digambarkan sabar dan pengayom.

    Buku ini memberikan gambaran jelas tentang situasi dan ciri-ciri teater kerakyatan yang tak ragu berinteraksi dengan penontonnya. Dalam masa krisis dan penuh trauma, teater semacam ini punya efek "menyembuhkan" masyarakat yang mendukung keberadaannya.

    Buku yang sangat layak dibaca.

    Dewi Anggraeni (Australia)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Tiga Dekade Lakon Ketoprak

Seni Rupa

Patung Baja Redy Rahadian

Tari

Menuju Akhir Abadi

Televisi

Komedi untuk Orang Sibuk

Album

DOKTOR
Syamsuddin Haris

Catatan Pinggir

Pelacur

TEMPO|interaktif

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

Metro

Satpam IPB yang Tewas Tertembak Sedang Menyamar

Polisi Kawal Kelulusan Siswa

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif