• Home
  • 22 Desember 2008
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 22 Desember 2008

    Gombalnya Globalisasi

    INDONESIA DIKHIANATI
    Penulis: Elizabeth Fuller Collins
    Penerbit: Gramedia, Jakarta, 2008
    Tebal: xxiv + 350 halama

    HARI-HARI ini nama neolibera-lisme remuk redam. Ulah para manajer keuangan di puncak metropolitan dunia, yang rakus tak terkontrol, dipercaya menyebabkan krisis finansial paling akut sejak Depresi Besar. Dan semua orang di dunia kini menelan getahnya.

    Sebenarnya neoliberalisme, rezim pasar bebas yang makin mapan berkat globalisasi, banyak membawa mudarat. Korban terparahnya bukan para CEO perusahaan besar atau rakyat negara kaya, melainkan kaum lemah di berbagai pelosok negara berkembang yang tak bisa menahan masuknya mo-dal besar. Lewat aransemen ekonomi-politik yang didesakkan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, modal itu masuk melalui kebijakan segelintir elite politik di tingkat lokal dan nasional, yang korup dan berkuasa dengan topangan militer.

    Itulah pesan pokok Elizabeth Fuller Collins lewat buku ini. Bukan hal baru, tentu saja. Tapi buku ini kaya dengan detail tentang bagaimana perselingkuhan modal, jabatan, dan senjata itu memelaratkan hidup banyak orang. Juga merusak lingkungan, yang akan terus digerogoti polusi, pencemaran air, dan pengikisan keanekaragaman hayati. Diperkuat sejumlah foto, paparan Collins begitu hidup, mengajak kita seperti menyaksikannya dengan mata telanjang.

    Itu dimungkinkan karena Collins khusus meneropong bagaimana proses-proses itu berlangsung di Sumatera Selatan pada puncak kekuasaan Soeharto dan awal era reformasi. Dalam sembilan bab bukunya, Indonesianis dari Universitas Ohio, Amerika Serikat, itu memaparkan bagaimana neoliberalisme, lewat mekanisme utang yang dipinjamkan IMF dan Bank Dunia kepada Indonesia dan syarat-syaratnya yang mengikat, menyebabkan makin menganganya jurang kaya-miskin serta terpangkasnya anggaran untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, bahkan meningkatnya ketegangan etnis dan agama di provinsi yang sebenarnya amat kaya akan sumber alam itu.

    Collins mendasarkan diri pada wawancara dengan sumber-sumber utama dan laporan media massa. Paparannya tentang bagaimana para petani dan buruh kehilangan hak mereka atas tanah dan upah layak akibat kebijakan pemerintah, atau akibat pilih-kasih kapita-lisme-semu Indonesia yang menomorsatukan Keluarga Cendana dan kroni mereka, amat meyakinkan. Sekalipun upayanya mengaitkan neoliberalisme dan naiknya Islam garis keras dan sentimen anti-Cina di Palembang tak begitu berhasil, ia telah menawarkan satu tema menantang untuk penelitian lebih lanjut.

    Untungnya, Collins juga datang dengan kisah-kisah menggembirakan. Ini khususnya terkait dengan upaya para aktivis mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat tertentu yang sendiri atau bersama para korban menentang kebijakan pemerintah atau menyabotnya di berbagai level. Kadang mereka berhasil dan kadang tidak. Merekalah hero sesungguhnya Indonesia Dikhianati. Collins juga menunjukkan pentingnya dukungan, langsung dan tidak, yang mereka peroleh dari media massa serta LSM nasional dan internasional.

    Aktivitas Collins, yang sewaktu mahasiswa menjadi aktivis antiperang di Berkeley dan belakangan turut mengembangkan Yayasan Nurani Dunia, cukup terasa di sini. Tak aneh jika epigraf bukunya mengutip Margaret Mead: "Jangan pernah ragu bahwa sekelompok kecil orang yang punya kepedulian dan komitmen bisa meng-ubah dunia. Sungguh, inilah satu-satunya hal yang pasti." Juga bahwa bukunya didedikasikan kepada Munir, yang banyak meng-inspirasinya. Sejauh tidak mengganggu obyektivitasnya, ini tentu baik-baik saja.

    Tapi mungkin karena itulah ia, pada bagian-bagian tertentu, tampak terlalu romantis dengan peran mahasiswa dan LSM. Bukunya terutama kuat dalam memaparkan bagaimana mereka bekerja, bukan menjelaskan mengapa mereka berhasil atau gagal. Rasanya akan lebih bermanfaat jika Collins lebih mengambil jarak dari mereka dan menilai kekuatan mereka dari lanskap lebih makro.

    Tapi kita tak boleh berharap semuanya dari satu buku. Sekadar mengingatkan kita akan betapa berbahaya-nya kebijakan Soeharto, peran buku ini sudah cukup. Bukankah kita sering cepat lupa?

    Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Paramadina


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Mereka Pilihan Tempo

Album

PELANTIKAN
Awang Faroek Ishak dan Farid Wadjdy

Buku

Gombalnya Globalisasi

Tari

Antara Mati dan Hidup

Seni Rupa

Gerak Kinetik Penaklukan Jawa

Catatan Pinggir

Pizarro

Kaleidoskop

YANG 'TER' 2008

SRI MULYANI INDRAWATI
Perempuan Perkasa di Panggung Nasional

Tak Menabur Angin, tapi Menuai Badai

TEMPO|interaktif

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

Nasional

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Bima  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif