Seperti kupu meluruhkan kepompong, mereka mencopot seragam kantor, melepas emblem dan topi dinas, meminggirkan meja kerja, lalu melanglang lepas bersama adrenalin yang dipacu kamera para fotografer. Di pantai-pantai Tarakan nan hening, di pojok pasar Kota Blitar, dan pada sebatang sungai Gorontalo yang ramah, kita menemukan kehadiran mereka.
Wajah mereka terpantul di tengah sawah daerah Badung yang hijau royo-royo, dari bale-bale tua di Kota Jombang. Kita bersukacita bersama anak-anak sekolah di Luwu Timur oleh impian yang lahir dari sebuah kepala seputih asap. Dan di sudut-sudut jalanan Solo, kita mendengar kisah persahabatan seorang pemimpin muda dengan para pedagang kaki lima.
Kita menemukan mereka di taman-taman rindang Yogyakarta, dalam lalu lintas Internet di Sragen, dan derai tawa di Lapangan Karebosi, Makassar. Nama mereka tak selalu berhiaskan salam dan puji. Kritik, amarah, dan hujatan juga melintasi kanal hidup mereka.
Tapi, dari keluasan Tanah Air, mereka telah mengurun sumbangan untuk Indonesia yang lebih baik.
Bismo Agung, HYK
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
