Romi Satria Wahono
Di mana posisi Indonesia dalam industri peranti lunak dunia? Apa sebenarnya masalah yang membuat industri software kita tak berkembang dengan baik? Dua pertanyaan ini sering dilontarkan oleh peserta ketika saya mengisi seminar atau konferensi bertema industri software lokal.
Saya ingin menggarisbawahi bahwa Indonesia bukan tak memiliki peluang sama sekali dalam pengembangan industri peranti lunak. Ungkapan Thomas Friedman dalam buku The World is Flat bahwa telah terjadi proses pendataran dunia oleh Internet menunjukkan tiap-tiap individu atau komunitas kecil bisa membuat perubahan penting di dunia. Perubahan bukan lagi monopoli negara atau konglomerasi besar.
Di dunia teknologi informasi, Indonesia terhitung telah membuat perubahan itu dengan beberapa lompatan, kendati persentasenya masih terbilang kecil untuk ukuran dunia. Menurut International Data Corporation (IDC) Professional Developer Model, misalnya, jumlah software house di Indonesia mencapai 250 buah pada 2004 dan meningkat dua kali lipat tahun ini. Jumlah pengembang profesional mencapai 56.500 orang dan telah meningkat sampai 71.600 orang pada 2008.
Dari total pengembang profesional di dunia yang mencapai 13,5 juta orang, Indonesia memang baru menyumbangkan setengah persen. Bandingkan dengan India, yang menyumbangkan lebih dari 10 persen, dan Amerika, yang hampir 20 persen. Namun laporan IDC juga menyebutkan, dalam lima tahun ke depan, sektor teknologi informasi di Indonesia akan menumbuhkan 81 ribu lapangan pekerjaan dan 1.100 perusahaan teknologi informasi baru.
Angka-angka itu memperlihatkan bahwa Indonesia bukanlah negara yang tidur dalam pengembangan software. Kita dapat melihat bahwa lebih dari 200 komunitas, forum, dan milis pengembang Indonesia, baik yang berkumpul karena kesamaan bahasa pemrograman yang digunakan maupun bidang software yang digarap, bermunculan. Kita juga menemukan banyaknya proyek besar yang dibantu oleh komunitas dan perusahaan pengembang level kecil.
Hanya, masalahnya, sekarang banyak perusahaan pengembang yang bergerak sendiri-sendiri dan tak terkoordinasi. Banyak software house yang menggunakan gaya pengembangan yang sering kita sebut metode hajar-bleh: asal software jadi dan bisa jalan dengan baik, lalu jual-tanpa standar manajemen yang profesional. Mereka masih menggunakan model perajin atau pedagang buah di pinggir jalan yang berjualan karena ada panen atau mood.
Kedua, sering kali produk yang ditawarkan lemah dalam inovasi. Kelemahan ini diperparah dengan kurangnya sarana penghubung dengan pihak yang membutuhkan software. Pemerintah pun tak cukup melindungi pengembang software lokal.
Ketiga, jamak ditemukan pengembang yang cekak dalam modal usaha. Di Indonesia, industri peranti lunak dianggap tidak bankable. Berikutnya, dan ini paling sering dikeluhkan, infrastruktur informasi dan Internet di Indonesia belum memadai. Bandwidth masih mahal, bahkan jauh lebih mahal daripada di negara tetangga kita (Singapura dan Malaysia).
Saya melihat pelbagai kendala itu tak menyurutkan gairah pengembangan software dan konten di Indonesia. Ini menggembirakan. Kita menyaksikan bertebarannya software lokal untuk sistem informasi pendidikan, e-government, perbankan, game, dan sebagainya. Bisnis di Internet juga tumbuh, baik dari sisi menjual barang di Internet maupun menjadi publisher iklan (lewat Google Adsense, Amazon Affiliate Program, Adbrite, dan lain-lain).
Dalam hal konten multimedia dan edutainment, diam-diam Indonesia termasuk jagonya. Produk buatan IlmuKomputer.Com (Brainmatics), misalnya, sudah masuk bank-bank asing, perusahaan asing, perusahaan penerbangan, perusahaan perkebunan, universitas, sekolah menengah atas/kejuruan, dan juga televisi edukasi. Perusahaan lain yang cukup unggul dan kita kenal karena produk massalnya di antaranya Bamboo Media, Pesona Edukasi, Ganesa Exact, dan Elex Media Komputindo. Karakter kartun Jepang juga banyak yang di-outsource ke pengembang di Indonesia.
Melihat data itu, saya yakin industri peranti lunak dan konten kita akan semakin menggeliat tahun ini.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
