• Home
  • 05 Januari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Digital
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2009

    Iblis di Atas Panggung

    Nama: Iblis. Alamat: Jalan Iman Gang Barokah No. 666. Agama: Rahasia. Nasionalisme: Malaikat. Gender: Non-gender."

    Joko Kamto, berperan sebagai iblis, dengan kocak memperkenalkan dirinya. Stamina dan keluwesan aktingnya mampu menghidupkan lakon Emha Ainun Nadjib: Tikungan Iblis, yang berlapis-lapis, penuh ceramah, dan melelahkan. Inilah pentas reuni Teater Dinasti asal Yogyakarta, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, awal pekan lalu.

    Teater Dinasti pernah menjadi fenomena pada masanya. Berdiri pada 1977, ia menjadi perintis teater realis politik terkemuka dari Yogyakarta. Lakonnya Patung Kekasih dan Sepatu Nomer Satu pernah dilarang dipentaskan. Sayang, menjelang akhir 1980-an, Dinasti mati suri. "Problem organisasi dan masalah personal anggota menjadi penyebab," ungkap Indra Trenggono, pengamat teater.

    Bermula dari diskusi di tengah pengajian Emha Ainun Nadjib dan putranya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), awak Dinasti berkeinginan berkumpul kembali. Emha ketiban pulung membuat naskah. Tikungan Iblis menurut Indra tidak menempuh proses yang normal. Biasanya ada naskah kemudian dibahas oleh grup dan dipentaskan. Namun kali ini naskah dibuat adegan per adegan. "Ini mirip dengan proses kreatif Shakespeare saat membuat pementasan, dibuat dengan bagian per bagian," ungkapnya.

    Penyutradaraan pun dilakukan oleh duet Jujuk Prabowo dan Fajar Suharno. Dinasti berupaya modern dalam pentas reuni ini. Mereka memasukkan unsur multimedia. Dan kita melihat aktor senior dan pendiri teater Dinasti yang telah tua-tua, seperti Fajar Suharno, Tertib Suratmo, dan Bambang Sosiawan, yang boleh dikatakan vakum selama 20 tahun itu, olah aktingnya cukup terjaga.

    Cerita bermula dari kedatangan iblis ke RT 3 RW 5. Tamu tak diundang itu meresahkan tetua RT, Prawito (Novi Budianto), karena latihan sandiwara warga RT untuk hari Kebangkitan diganggunya. Tamu itu pun membuat geram Prawito gara-gara burung Garuda yang dijanjikan berubah wujud menjadi emprit! Terjadilah dialog-dialog panjang antara tetua RT, warga RT, dan iblis membicarakan esensi keberadaan iblis sampai soal Republik Indonesia yang kehilangan harga diri.

    Pola pemanggungan Teater Dinasti segera dapat kita kenali. Amat dimengerti jika orang mengatakan gaya pemanggungan Dinasti amat mempengaruhi gaya teater Yogya lain pasca-Dinasti, seperti Teater Gandrik. Kita melihat tiga malaikat yang mengomentari ulah tingkah manusia berdiri di level lebih tinggi daripada para aktor lain atau pergantian terang-gelap lampu saat menyorot dua kelompok yang tengah berdialog di panggung. Semua itu cara pengadeganan yang biasa kita temui di pertunjukan Gandrik. Jujuk Prabowo, sutradara pertunjukan ini, misalnya, kini dikenal sebagai sutradara Gandrik. Novi Budianto juga eks Gandrik. Selanjutnya tak ada bentuk-bentuk baru.

    Teater Dinasti pernah menyatakan diri bahwa pementasan teater mereka lebih menekankan penyadaran sosial dan tidak sekadar mengejar bentuk-bentuk estetis panggung. Maka tidak mengherankan jika dari mulut iblis dan malaikat keluar diskusi-diskusi pintar dan cerdas mengenai harkat manusia dan identitas bangsa. Kadang banyak sindiran yang sudah stereotipe dan klise. Betapapun demikian, ceramah-ceramah iblis itu tergolong sukses. Graha Bhakti Budaya penuh dipadati penonton bukan hanya dari kalangan teater.

    Sita Planasari Aquadini


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

MENINGGAL
Soegih Arto

Catatan Pinggir

Diburu

Fotografi

Ketika Unggas Menjadi Dilema

TEMPO|interaktif

Nasional

Perayakan Kelulusan dari Longmarch Hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

Seni & Hiburan

Bagaimana Nasib Konser Lady Gaga?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif