SEBUAH kado tahun baru yang menggembirakan: Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Kado itu-ditambah tujuh agenda pemerintah di bidang ekonomi-diharapkan membuat Indonesia lebih siap menghadapi krisis ekonomi global. Dampak krisis memang sudah nyata. Ekspor mulai menurun. Penjualan mobil, barang elektronik, dan rumah terus merosot. Di sejumlah daerah, tak sedikit perusahaan mengajukan pemutusan hubungan kerja.
Keadaan jauh berbeda dibandingkan dengan semester kedua tahun lalu. Pada awal terjadinya skandal hipotek perumahan (subprime mortgage) itu, akibat yang terasa baru sebatas di ruang perdagangan Bursa Efek Indonesia. Harga saham rontok. Kekayaan perusahaan di bursa anjlok Rp 926 triliun sepanjang tahun lalu-angka itu hampir setara dengan anggaran republik ini setahun. Banyak perusahaan efek kelimpungan. Sejumlah perusahaan go public kerepotan membayar utang.
Tahun 2009 digambarkan lebih mendung. Dampak krisis bakal menyebar. Dunia usaha akan membayar lebih mahal biaya investasi dan modal kerja karena suku bunga yang tinggi dan likuiditas yang berkurang. Permintaan konsumen sudah pasti menurun, terutama di sektor-sektor yang mengandalkan pembelian pada dana perbankan dan lembaga pembiayaan, seperti otomotif dan properti. Pelaku usaha, pemerintah, dan Bank Indonesia mesti mengantisipasi kesulitan ini.
Penurunan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 basis point menjadi 8,75 persen merupakan langkah awal yang baik. Tidak seperti ramalan sebelumnya, Bank Indonesia ternyata tidak ngotot mempertahankan suku bunga tinggi, mengingat inflasi masih dua digit dan nilai tukar rupiah masih di atas 11 ribu per dolar Amerika. Dengan penurunan suku bunga ini, bank sentral berharap inflasi akan ikut menurun.
Meskipun penurunan suku bunga relatif kecil, kebijakan itu pasti membantu dunia usaha dan konsumen. Pelaku usaha akan mendapatkan biaya modal lebih murah. Kalangan bisnis juga mendapatkan berkah karena resesi telah menurunkan harga bahan bakar dan energi. Itu semua akan menurunkan biaya produksi. Harga barang diharapkan lebih murah. Dengan penurunan suku bunga, semestinya daya beli masyarakat meningkat. Dunia usaha pun diramalkan bangkit kembali.
Masih ada ganjalan berarti: nilai tukar rupiah yang naik-turun dengan tajam. Kondisi ini membuat dunia usaha tidak nyaman. Repotnya, sulit memprediksi kapan fluktuasi rupiah itu akan berakhir mengingat gejolak perekonomian dunia. Yang sudah bisa diketahui, selama tahun baru ini rupiah terdepresiasi 16 persen. Tanpa penanganan yang baik, bukan tak mungkin rupiah bisa terjungkal sampai 13 ribu per dolar Amerika. Kalau itu terjadi, biaya produksi akan meningkat dan utang valuta asing juga bengkak. Dalam keadaan terpuruk begitu, rupiah bisa-bisa menjadi penghalang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Maka Bank Indonesia perlu sekuat tenaga membuat rupiah tetap stabil.
Pemerintah juga punya pekerjaan rumah: mempercepat realisasi belanja yang selama ini sangat lamban. Anggaran belanja yang besar itu tidak ada gunanya jika menumpuk di ujung tahun. Belanja pemerintah-misalnya melalui proyek-proyek infrastruktur-selain menggerakkan ekonomi, juga meningkatkan daya beli dan menambah lapangan kerja. Konsumsi pemerintah dan masyarakat itulah yang bisa mendorong pertumbuhan sekaligus mengurangi dampak resesi. Itu juga alasan kita untuk menatap 2009 yang mendung dengan sedikit lebih optimistis.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
