• Home
  • 19 Januari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Januari 2009

    Membuka Jendela Pejambon

    DIPLOMASI DALAM AKSI
    Pengarang: Nugroho Wisnumurti
    Tebal: 191 halaman
    Penerbit: Angkasa, Bandung, 2008

    SEJARAH Indonesia mengakui perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dijalankan dengan dua jurus: melalui perjuangan fisik dan diplomasi. Namun selama ini perjuangan melalui diplomasi itu kurang ditonjolkan. Pemerintah Orde Baru gemar menampilkan "keberhasilan" perjuangan fisik, seperti monumen Palagan Ambarawa atau Monumen Yogya Kembali.

    Satu-satunya "monumen" terhadap keberhasilan perjuangan lewat diplomasi dalam sejarah kita mungkin hanya Museum Asia-Afrika di Bandung-museum untuk memperingati Konferensi Asia-Afrika 1955, yang memang merupakan sukses gemilang diplomasi Indonesia.

    Selama puluhan tahun terakhir ini bisa dikatakan diplomasi kita lebih banyak bungkam. Dari Pejambon, tempat Departemen Luar Negeri berada, tak banyak berita tentang yang dilakukan para diplomat Indonesia kecuali membuat pernyataan-pernyataan standar. Karena itu, terbitnya buku ini, yang diprakarsai oleh Kerukunan Purnakaryawan Departemen Luar Negeri, patut dihargai. Buku ini telah membuka jendela yang selama ini terkesan tertutup.

    Lewat buku ini, publik baru mengetahui bagaimana kisah staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing sewaktu terjadi Revolusi Kebudayaan di Cina dan hubungan Indonesia-Cina memanas. Duta Besar Darwoto, yang pada 1967 itu menjabat sebagai Kuasa Usaha Sementara, berkisah bagaimana selama lima hari Kedutaan Besar Indonesia di Beijing dikepung, diserbu, dan para diplomat Indonesia dipukuli oleh para demonstran. Bahwa kejadian ini baru diungkapkan ke publik 40-an tahun kemudian, itu juga menunjukkan bagaimana tertutupnya diplomasi kita selama ini.

    Untuk pertama kalinya kita juga tahu bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ternyata tidak mempunyai peraturan prosedur pemilihan sekretaris jenderalnya. Adalah Duta Besar Nugroho Wisnumurti yang pada 1996 menjabat Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Presiden Dewan Keamanan yang pertama kali menyusun semacam guidelines untuk pemilihan sekretaris jenderal. Tata cara ini disetujui Dewan Keamanan dan dipakai untuk pemilihan yang dimenangi Kofi Annan pada 1996. Tata cara ini kemudian disebut The Wisnumurti Guidelines for Selecting a Candidate for Secretary General. Ternyata guidelines ini pada 2007 masih dipakai untuk memilih Ban Ki-moon sebagai sekretaris jenderal.

    Masih banyak cerita menarik di balik "aksi" para diplomat kita dalam buku ini. Kisah-kisah itu membenarkan bahwa diplomasi merupakan the art and practice of conducting negotiations between representatives of groups or states. Ya, para diplomat sangat memanfaatkan kearifan dan kematangan pengalaman mereka.

    Yang disayangkan, tapi bisa dimengerti, tiadanya cerita tentang kegagalan diplomasi kita. Bila buku ini dimaksudkan untuk pembelajaran dan berbagi pengalaman, mestinya juga diungkapkan kenapa diplomasi kita gagal di sana-sini. Publik pasti ingin tahu secara lebih jelas, misalnya, mengapa beberapa tahun lalu Sipadan dan Ligitan bisa lepas ke tangan Malaysia karena kesalahan strategi diplomasi kita.

    Di masa depan, diplomasi sebagai bentuk pelaksanaan soft power pasti akan berperan lebih penting. Kegagalan penggunaan hard power mestinya menjadi pelajaran bahwa penggunaan kekerasan tidak selalu menghasilkan solusi. Aceh menjadi contoh yang paling tepat bagi kita. Setelah 30 tahun kekuatan militer digunakan dan gagal, ternyata diplomasi bisa menghasilkan solusi dan perdamaian.

    Buku ini diharapkan akan menjadi awal dari upaya pembelajaran publik terhadap prestasi diplomat kita, sekaligus untuk menyeimbangkan persepsi masyarakat tentang pentingnya peran diplomasi.

    Susanto Pudjomartono, mantan Duta Besar RI untuk Rusia


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Membuka Jendela Pejambon

Fotografi

Malam Purnama di Tutup Ngisor

Seni Rupa

Barang-barang Wiyoga

Album

PELANTIKAN
Benny Pasaribu dan Didik Akhmadi

Catatan Pinggir

Pohon

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif