DIPLOMASI DALAM AKSI
Pengarang: Nugroho Wisnumurti
Tebal: 191 halaman
Penerbit: Angkasa, Bandung, 2008
SEJARAH Indonesia mengakui perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dijalankan dengan dua jurus: melalui perjuangan fisik dan diplomasi. Namun selama ini perjuangan melalui diplomasi itu kurang ditonjolkan. Pemerintah Orde Baru gemar menampilkan "keberhasilan" perjuangan fisik, seperti monumen Palagan Ambarawa atau Monumen Yogya Kembali.
Satu-satunya "monumen" terhadap keberhasilan perjuangan lewat diplomasi dalam sejarah kita mungkin hanya Museum Asia-Afrika di Bandung-museum untuk memperingati Konferensi Asia-Afrika 1955, yang memang merupakan sukses gemilang diplomasi Indonesia.
Selama puluhan tahun terakhir ini bisa dikatakan diplomasi kita lebih banyak bungkam. Dari Pejambon, tempat Departemen Luar Negeri berada, tak banyak berita tentang yang dilakukan para diplomat Indonesia kecuali membuat pernyataan-pernyataan standar. Karena itu, terbitnya buku ini, yang diprakarsai oleh Kerukunan Purnakaryawan Departemen Luar Negeri, patut dihargai. Buku ini telah membuka jendela yang selama ini terkesan tertutup.
Lewat buku ini, publik baru mengetahui bagaimana kisah staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing sewaktu terjadi Revolusi Kebudayaan di Cina dan hubungan Indonesia-Cina memanas. Duta Besar Darwoto, yang pada 1967 itu menjabat sebagai Kuasa Usaha Sementara, berkisah bagaimana selama lima hari Kedutaan Besar Indonesia di Beijing dikepung, diserbu, dan para diplomat Indonesia dipukuli oleh para demonstran. Bahwa kejadian ini baru diungkapkan ke publik 40-an tahun kemudian, itu juga menunjukkan bagaimana tertutupnya diplomasi kita selama ini.
Untuk pertama kalinya kita juga tahu bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ternyata tidak mempunyai peraturan prosedur pemilihan sekretaris jenderalnya. Adalah Duta Besar Nugroho Wisnumurti yang pada 1996 menjabat Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Presiden Dewan Keamanan yang pertama kali menyusun semacam guidelines untuk pemilihan sekretaris jenderal. Tata cara ini disetujui Dewan Keamanan dan dipakai untuk pemilihan yang dimenangi Kofi Annan pada 1996. Tata cara ini kemudian disebut The Wisnumurti Guidelines for Selecting a Candidate for Secretary General. Ternyata guidelines ini pada 2007 masih dipakai untuk memilih Ban Ki-moon sebagai sekretaris jenderal.
Masih banyak cerita menarik di balik "aksi" para diplomat kita dalam buku ini. Kisah-kisah itu membenarkan bahwa diplomasi merupakan the art and practice of conducting negotiations between representatives of groups or states. Ya, para diplomat sangat memanfaatkan kearifan dan kematangan pengalaman mereka.
Yang disayangkan, tapi bisa dimengerti, tiadanya cerita tentang kegagalan diplomasi kita. Bila buku ini dimaksudkan untuk pembelajaran dan berbagi pengalaman, mestinya juga diungkapkan kenapa diplomasi kita gagal di sana-sini. Publik pasti ingin tahu secara lebih jelas, misalnya, mengapa beberapa tahun lalu Sipadan dan Ligitan bisa lepas ke tangan Malaysia karena kesalahan strategi diplomasi kita.
Di masa depan, diplomasi sebagai bentuk pelaksanaan soft power pasti akan berperan lebih penting. Kegagalan penggunaan hard power mestinya menjadi pelajaran bahwa penggunaan kekerasan tidak selalu menghasilkan solusi. Aceh menjadi contoh yang paling tepat bagi kita. Setelah 30 tahun kekuatan militer digunakan dan gagal, ternyata diplomasi bisa menghasilkan solusi dan perdamaian.
Buku ini diharapkan akan menjadi awal dari upaya pembelajaran publik terhadap prestasi diplomat kita, sekaligus untuk menyeimbangkan persepsi masyarakat tentang pentingnya peran diplomasi.
Susanto Pudjomartono, mantan Duta Besar RI untuk Rusia
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
