• Home
  • 19 Januari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Januari 2009

    Trauma Perang pada Anak

    SALMA Musleh belum lancar berbicara karena bocah itu masih berusia dua tahun. Namun putri Yasmin Musleh, penduduk Beit Lahiya, kota di bagian utara Jalur Gaza, belakangan sudah fasih menirukan suara "booom... booom...". Menurut Yasmin, si kecil sedang menirukan suara pesawat tempur F-16 yang menyerang kawasan Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu.

    "Dia sangat ketakutan mendengar suara yang sangat keras, terutama ledakan," kata Yasmin, yang kini mengungsi ke Nasser, kawasan di bagian utara Kota Gaza. Untuk mengurangi rasa takut Salma, si ibu memperdengarkan suara game yang mirip. Ini agar Salma mengira suara yang diakibatkan serangan militer Israel hanya permainan semata. "Setelah mendengar suara keras dan ledakan, kami membiarkannya untuk menirukan, booooom...booooom," tutur Yasmin.

    Anak kecil memang korban yang paling fatal dalam agresi Israel di Jalur Gaza. Sekitar 40 persen dari total korban meninggal adalah anak-anak dan perempuan. Korban melayang hingga Selasa pekan lalu sudah mencapai di atas 1.000 jiwa. Sebagian besar dari yang meninggal berusia di bawah 18 tahun.

    Yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya adalah anak-anak yang tetap bertahan hidup seperti Salma. Menurut Iyad al-Sarraj, psikolog di Gaza, cara "menyelamatkan" anak kecil dari ketakutan seperti yang dilakukan orang tua Salma itu disebut acting out. Dalam hal ini, Salma diajari menerjemahkan suara keras pesawat tempur dan bom menjadi permainan.

    Dampak jangka panjang trauma akibat perang dan kekerasan di masa anak-anak juga mengerikan. Menurut penelitian terbaru dari Center for Mind-Body Medicine, Washington, trauma di masa anak-anak bisa berakibat menjadi sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome) ketika dewasa. Artinya, si penderita didera rasa sakit dan lelah berkelanjutan tanpa tahu penyebabnya.

    Selanjutnya, menurut penelitian yang ditulis dalam artikel di Archives of General Psychiatry pada 5 Januari lalu itu, sindrom kelelahan kronis bisa mengakibatkan gangguan tidur dan daya ingat, serta efek patogen stres lainnya. "Jadi, yang terpenting adalah mengetahui akar penyebab stres," kata Christine Heim, doktor dari Emory University School of Medicine, Atlanta.

    Memang belum ada penelitian baru tentang dampak trauma anak-anak akibat pendudukan dan tekanan Israel di Gaza. Namun, menurut penelitian pada 1995, oleh Abdel Aziz Mousa Thabet dari Gaza Community Mental Health Programme, dan dosen senior khusus kejiwaan anak-anak dan remaja Universitas Birmingham, Panos Vostanis, sudah membuktikan adanya dampak tersebut.

    Mereka meneliti 239 anak berusia enam sampai 11 tahun di lima distrik di Jalur Gaza. Dalam penelitian itu, 50 persen lebih warga berusia di bawah 15 tahun terkena dampak penyakit psikologis. Tanda-tandanya antara lain terjadi ketegangan, jantung berdegup lebih kencang, keluar keringat dingin, dan panik jika teringat peristiwa yang pernah dialaminya. Penderita juga mengalami mimpi buruk, gangguan tidur, kewaspadaan tinggi, dan tak dapat menikmati hidup tenang. Pencernaan mereka pun terganggu, hingga mual dan muntah. Mereka juga merasa takut, sedih, dan sulit mengendalikan emosi.

    Kesimpulan penelitian 14 tahun lalu di jalur Gaza sepertinya tetap relevan hingga sekarang. Mereka yang ketika itu masih anak-anak kini sudah dewasa. Dan yang terjadi sekarang mirip dengan pendapat Sarraj.

    Menurut Sarraj, yang paling mengkhawatirkan, trauma masa kecil bisa mengakibatkan perilaku kekerasan ketika dewasa. "Anak-anak melihat ayah mereka tidak bisa melindungi mereka dari perang dan memberi makan karena kehilangan pekerjaan. Lalu mereka mulai mencari alternatif, yaitu bergabung dengan kelompok bersenjata," tuturnya.

    Ahmad Taufik


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Membuka Jendela Pejambon

Fotografi

Malam Purnama di Tutup Ngisor

Seni Rupa

Barang-barang Wiyoga

Album

PELANTIKAN
Benny Pasaribu dan Didik Akhmadi

Catatan Pinggir

Pohon

TEMPO|interaktif

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif