• Home
  • 02 Februari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Tata Kota
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Kuliner
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Februari 2009

    Misteri Lelaki Setengah Dewa


    Jenghis Khan, Legenda Sang Penakluk dari Mongolia
    Penulis: John Man
    Penerbit: Alvabet, cetakan 1, November 2008
    Tebal: 453 halaman

    Seekor kuda tangguh dan sebatang busur panah, di tangan bangsa Mongol, menjadi senjata ampuh untuk meraih keja-yaan. Perpaduan tanduk hewan, kayu, dan otot binatang ini senantiasa menemani orang Mongol mengarungi lautan rerumputan yang membentang beratus kilometer. Ke tempat-tempat yang begitu menggi-git di saat musim dingin inilah John Man mengajak kita bertamasya: historis dan -faktual.

    Bagai pembukaan sebuah film epik besar, Man memulai tamasya ini dengan bertutur perihal lanskap tanah bangsa Mongol dan misteri yang dikisahkan kitab Sejarah Rahasia Bangsa Mongol-yang menjadi titik berangkat Man dalam menyusun buku ini. Sebuah pembukaan yang mengesankan tentang resep masakan kaserol marmut dan shamanisme-kepercayaan kuno terhadap kesucian berbagai peristiwa dan benda alam.

    Sejak halaman awal, Man mengerjakan tugas amat sulit dan kemudian menghadiahkan cerita yang memikat kepada kita. Ia mengunjungi Merv kuno, kota kaum muslim masa lampau yang ditaklukkan Jenghis Khan. Ia menyusuri Gurun Gobi yang teramat luas, yang di-lintasi pasukan Jenghis dalam ekspedisi penaklukannya. Ia mendaki Gunung Jantung Hitam dan mendatangi Danau Biru, tempat Temujin mungkin dinobatkan menjadi Jenghis Khan.

    Perjalanan menapaki jejak-jejak Jenghis Khan membuat kita seakan menyaksikan kehadiran kembali "sang penguasa pilihan langit" itu dari masanya delapan abad yang silam. Se-pertinya tidak ada yang berubah. Dan, se-sungguhnyalah, sejauh penuturan Man, Jenghis Khan memang masih hidup di hati bangsa Mongol hingga kini. "Jenghis Khan adalah roh bagi kita semua," kata Sharaldai, seorang teolog yang tinggal di Mongolia Dalam.

    Di tanah airnya, nama -Jenghis terdengar keras dan jelas. Kekejamannya terlupakan dalam -ingar--bingar pemujaan. Di Mongolia, setelah 70 tahun penindasan yang diilhami Soviet, orang bebas meng-arak gambarnya, mera-yakan kelahirannya, dan menamai segala macam hal dengan memakai namanya: kelompok musik pop, minuman bir, tim olahraga, ataupun nama lembaga, dan ratusan bayi-suatu ketika Mongolia akan dipimpin seorang Jenghis yang lain. Bagi bangsa Mongol, Jenghis adalah lelaki -setengah dewa.

    Begitu membujuk ketika Man mengisahkan bagaimana seorang pelarian muda-yang beberapa kali bercumbu dengan maut-di suatu masa yang anarkis tumbuh menjadi penguasa imperial. Jenghis menghabiskan 10 tahun untuk menyatukan bangsa Mongol, menghapus afiliasi kesukuan, dan menerapkan hukum yang tegas berbekal kuda serta busur, keyakinan shamanistik-nya, dan kesetiaan pasukannya.

    Setelah suku-suku tertaklukkan, tiba-lah saatnya kematian menjemput kaum muslim yang menghuni Urgench, Merv, Samarkand, Bukhara, dan lainnya. Jumlah muslim di Merv yang dibantai diperkirakan mencapai 1,3 juta orang, dan lebih dari 1 juta orang di Urgench. Meng-ingat sikap bangsa Mongol terhadap -non-Mongol, kepatuhan, dan kete-rampilan membunuh mereka, -tulis Man, secara teknis mereka mungkin mem-bu-nuh tiga juta orang, atau lebih, sela-ma rentang dua tahun penyerangan -ter-hadap muslim. Tak ada alasan ras, ideo-logis, ambisi yang berlatar agama, kata Man. Satu-satunya pertimbangan ialah bahwa penak-lukan itu merupakan takdir yang dibebankan Langit kepada Jenghis, dengan suatu alasan yang tidak jelas.

    Tahun 1224, Jenghis akhirnya bebas untuk memalingkan perhatiannya pada Xi Xia, gerbang menuju Asia Dalam, kunci bagi perluasan lebih lanjut ke Cina. Tapi ini tidak mudah. Perang yang terus-menerus akhirnya menguras kesehatan Jeng-his. Demam tinggi membuatnya mengungsi, hingga maut menjemputnya, tahun 1227. Berita kematian dan penyebabnya dirahasiakan, seperti yang ia inginkan: agar tak memompakan semangat baru ke dalam jiwa musuhnya dan memadamkan dengan cepat mimpi -pe-naklukannya.

    Jejak-jejak genetis pasukan Jenghis pun memperkuat cerita kehebatan lelaki ini. Sebuah artikel luar biasa muncul, Maret 2003, dalam Ameri-can Journal of Human Genetics. Dalam studi DNA terhadap sekitar 2.000 orang di penjuru Eurasia, para ahli genetika menemukan pola yang sama pada beberapa lusin pria yang mereka teliti-sebuah pola yang terdapat pada 16 kelompok populasi yang tersebar dari Laut Kaspia hingga Samudra Pasifik. Mereka sampai pada kesimpulan mengejutkan: mungkin seorang lelaki, yang hidup di abad ke-12, menebarkan material genetikanya di separuh Eurasia. Dan, lelaki itu adalah Jenghis Khan.

    Dian R. Basuki, pencinta buku, tinggal di Bandung


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Memamerkan Isi Kamar

Buku

Misteri Lelaki Setengah Dewa

Album

MENINGGAL
Johny Herman Nasution

Kuliner

Bahan Baik, Produk Buruk

Catatan Pinggir

Potret

TEMPO|interaktif

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif