• Home
  • 02 Februari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Tata Kota
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Kuliner
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Februari 2009

    STIMULUS FISKAL
    Sinterklas Segelintir Orang

    TAK sampai dua bulan, anggaran stimulus fiskal membengkak hampir 600 persen. Akhir tahun lalu, pemerintah masih mematok besaran stimulus fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rp 12,5 triliun. Pekan lalu, jumlahnya sudah diubah menjadi Rp 71,3 triliun.

    Perubahan fantastis ini diharapkan menciptakan 150 ribu lapangan kerja baru. Angka pengangguran pun bakal susut dari 8,87 persen pada 2008 menjadi 8,34 persen akhir tahun ini. "Stimulus fiskal ini untuk meningkatkan daya beli masyarakat, daya saing usaha, serta belanja infrastruktur padat karya," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat dengan Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa pekan lalu.

    Porsi terbesar stimulus fiskal (Rp 43 triliun) berupa penghematan pajak sebagai dampak amendemen Undang-Undang Pajak Penghasilan yang meliputi pengurangan pajak badan dan perorangan serta kenaikan pendapatan tidak kena pajak. Stimulus fiskal bagi sektor riil antara lain pemerintah akan menanggung pajak pertambahan nilai untuk minyak goreng serta eksplorasi minyak dan gas bumi. Bea masuk bahan baku dan barang modal serta subsidi pajak penghasilan karyawan dan industri panas bumi juga ditanggung pemerintah (lihat "Siapa Dapat Apa").

    Stimulus ini berisiko karena defisit anggaran membengkak dari 1 menjadi 2,5 persen dari produk domestik bruto, sebesar Rp 132 triliun. Tapi pemerintah pede karena ada sisa anggaran tahun lalu Rp 51 triliun plus standby loan dari bilateral dan multilateral. Masih lebih kecil, dibanding Malaysia yang defisitnya 4,4 persen dari produk domestik bruto akibat stimulus fiskal.

    Wakil Ketua Panitia Anggaran Dewan, Harry Azhar Azis, mempertanyakan kenaikan stimulus. "Dampak terhadap pemutusan hubungan kerja, penyerapan tenaga kerja, tingkat kemiskinan, dan kinerja industri belum jelas," katanya. Dan penanggungan bea masuk malah menggenjot impor. Efektivitas insentif harus dijaga, "Jangan seolah-olah jadi Sinterklas tapi menyenangkan segelintir orang saja."

    Insentif ini, menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Fiskal dan Moneter Hariyadi Sukamdani, juga tak efektif menahan laju pemutusan hubungan kerja di industri padat karya. Selain nilainya mini, insentif pajak penghasilan 21 sebesar Rp 5,5 triliun hanya dirasakan industri nonpadat karya yang penghasilan karyawannya melebihi angka penghasilan tidak kena pajak.

    Ia menghitung, nilai efektif stimulus ke sektor riil hanya Rp 11,7 triliun, masing-masing Rp 9,5 triliun dan Rp 2,4 triliun untuk menanggung pajak pertambahan nilai dan bea masuk. Dana Rp 9,5 triliun itu pun dibatasi: untuk minyak goreng serta eksplorasi minyak dan gas bumi dan bahan bakar nabati menjadi Rp 3,5 triliun. Sisa dana stimulus fiskal ditujukan bagi trade financing dan infrastruktur.

    Problem lain, tingginya suku bunga perbankan. Karena masih terlalu tinggi, daya beli masyarakat pun belum akan terkerek secara signifikan. Mau tak mau, pengusaha harus menurunkan kapasitas produksi industri 30-40 persen. Akibatnya, gelombang pemutusan hubungan kerja tidak terhindarkan. "Insentif yang paling ditunggu sebetulnya penghapusan tarif dayamax."

    Selain itu, Hariyadi menduga realisasi target penghematan pajak akan meleset. Sebab, dasar perhitungan pajak tahun 2008 dan 2009 berbeda karena pertumbuhan ekonomi anjlok. "Pengorbanan yang tidak besar-besar amat bagi pemerintah dengan mengeluarkan Rp 43 triliun untuk sektor riil," ucapnya.

    Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady memahami, tidak semua pihak happy dengan usul ini. Tapi ia yakin insentif pajak penghasilan akan membantu perusahaan yang beban pajaknya besar. Dan akhirnya mereka bakal tertolong. Dan ancaman pemutusan hubungan kerja pun bisa dikurangi besarannya.

    R.R. Ariyani

    Siapa Dapat Apa

    Rp 43 Triliun
    Penghematan Pembayaran Pajak

  • Tarif PPh badan, perorangan, penghasilan tidak kena pajak

    Rp 15 Triliun
    Subsidi dan Belanja Negara pada Dunia Usaha

  • Penurunan harga solar: Rp 2,8 T
  • Diskon dayamax listrik industri : Rp 1,4 T
  • Tambahan belanja infrastruktur: Rp 10,2 T
  • Perluasan PNPM: Rp 0,6 T

    Rp 13,3 Triliun
    Pajak dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah

  • PPN eksplorasi migas, minyak goreng: Rp 3,5 T
  • Bea masuk bahan baku dan barang modal: Rp 2,5 T
    (14 sektor: alat berat, otomotif, elektronik, listrik, telematika, dll)
  • PPh karyawan: Rp 6,5 T
    PPh panas bumi: Rp 0,8 T

    Indikator Ekonomi Makro

     20082009
    TargetRealisasiSasaranOutlook Januari
    Pertumbuhan Ekonomi (%) 6,46,26 4,5-5,5
    Inflasi (%)6,5116.2 6.2
    Suku Bunga SBI 3 Bulan (%)7,59,37,57,5
    Harga Minyak ICP (US$/barel)9596,88045
    Nilai Tukar (Rp/US$)9.1009.6929.40011.000

    SUMBER: BAHAN RAPAT KERJA DENGAN DPR


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Memamerkan Isi Kamar

Buku

Misteri Lelaki Setengah Dewa

Album

MENINGGAL
Johny Herman Nasution

Kuliner

Bahan Baik, Produk Buruk

Catatan Pinggir

Potret

TEMPO|interaktif

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

Olahraga

Main Lawan Inter, Bima Sakti Incar Jersey Zanetti  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif