Mike Leigh mempunyai beberapa warna ketika melukis di atas kanvas layar- le-bar miliknya. Kelabu kehi-taman seperti film Vera Drake; dan berwarna pelangi (merah,- kuning, hijau) seperti Life Is Sweet (1999), yang menggambarkan sebuah keluarga kelas pekerja di Inggris yang penuh persoalan dan meletakkan semua beban pada kemampuan sang ibu-yang selalu ceria dan penuh humor-un-tuk membersihkan -ke-rak rumah tangga.
Film Happy-Go-Lucky (2008) adalah- karya Mike Leigh berwarna merah jambon. Atau paling tidak, semula, kita menyangka film ini berwarna sirop merah jambon.
Film Happy-Go-Lucky sejak awal mengajak kita mengikuti langkah Poppy (Sally Hawkins) yang selalu tersenyum riang dalam segala cuaca. Ia kehilang-an sepedanya; dia tidak meradang dan memutuskan belajar menyetir mobil. Sebagai seorang guru sekolah yang menghadapi berbagai tingkah muridnya, termasuk yang gemar memukuli temannya, ia menghadapi itu semua dengan senyum dan memberikan tanggapan yang tepat dan penuh empati.
Bahkan, menghadapi kakak perempuannya yang gemar menyalah-nyalahkan orang, Poppy masih bisa me---nanggapi de-ngan penuh pemaham-an. Tapi yang paling tidak bisa "diterima" (oleh penonton), ba-gaimana instrukturnya, Scott (Eddie Marsan), menghamburkan kata-kata kasar (baca men-jerit-jerit) seraya meng-ajari Poppy bagaimana meng-in-jak gas, rem, dan berulang-ulang meng-ucapkan "enraha"; demikianlah dia -menamai tiga kaca spion-dari nama para malaikat. Scott, sang instruktur, hanya berisi kemarahan dan kebencian kepada dunia, hingga dari mulutnya berhamburan gerombolan kosakata yang tak mungkin bisa disangga oleh "manusia biasa" selain Poppy. Bagaimana bisa Poppy memperlakukan Scott tak lebih dari seorang "murid" yang tengah merajuk karena "dunia pendidikan" yang dianggapnya seperti tahi; itu dibutuhkan superwoman yang memiliki persediaan kesa-baran dan empati yang tak habis-habis. Sementara orang "normal" mencari guru lain setelah diperlakukan dengan kasar, Poppy tetap- bertahan meneruskan kursus itu di ba-wah instruksi Scott, lengkap dengan jerat-jerit yang membuat kupingnya pekak, hingga akhirnya suatu saat Scott menumpahkan rentetan isi hati-nya yang sungguh mengejutkan.
Sutradara Mike Leigh pernah menampilkan sosok serupa dalam Life Is Sweet: tokoh Wendy (Alison Steadman), seorang ibu yang selalu menertawai se-gala peristiwa seolah tak punya persediaan rasa sedih atau amarah. Sosok Poppy dalam film Happy- Go-Lucky adalah versi ekstrem dari tokoh Wendy. Hampir sukar dipercaya, di dunia yang penuh sesak dengan manusia yang sinis, bermulut bacin, dan berhati keji ini masih ada spesies seperti Poppy.
Mike Leigh melukis ini semua dengan warna-warna cerah; warna sirop merah jambon. Tapi sebetulnya, dengan me-nampilkan sosok happy-go-lucky se-perti Poppy, Leigh menunjukkan sebuah kontras. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang kalah melawan dirinya sendiri; orang-orang yang sukar menyangga gumpalan kepahitan di dalam dadanya, seperti kakak Poppy atau Scott atau gembel yang ditemuinya di sebuah malam. Orang-orang yang lebih merasa berharga jika mereka me-ngeluh, mengkritik, mencaci, atau menteror orang lain. Orang-orang yang merasa jauh lebih tinggi daripada orang lain hingga akhirnya tak mampu merasakan sekelumit kebahagiaan karena kanvas hidupnya hanya berwarna su-ram air got.
Sosok Poppy penting untuk la-hir- dan membuat hidup jadi se-imbang;- dia sese-orang yang se--nantiasa cerah dan penuh em-pati (hingga rasanya kita ingin menonjoknya, karena to-koh seperti ini makin membuat kita tampak sebagai manusia buruk hati dan buruk rupa).
Itulah sebabnya, apakah ini nyata- atau tidak, tokoh- semacam Poppy-yang bukan seorang malaikat, bukan seorang bidadari, tapi orang yang percaya kepada kemuliaan manusia-harus selalu- hi-dup dan bersinar da-lam- diri kita. Sally Hawkins? Sudahlah, tak perlu berdebat atau membahasnya. Dia memang layak mendapatkan piala Golden Globe itu.
Leila S. Chudori
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
