Pada tahun-tahun itu, Amir Pasaribu dikenal sebagai komponis modern sekaligus pendidik dan pemikir musik terkemuka. Ia pernah mengajar di Suriname. Ia gencar mengkritik menggejalanya band hawaian dan budaya musik pop Amerika di Indonesia. Amir berpendapat, itu membuat orkestra-orkestra serius dan musik seni hancur dan kehilangan peminat. Tulisan-tulisannya masih relevan bila dibaca sampai kini.
Ikuti reportase Tempo yang mengunjungi Amir di Medan untuk menuliskan kembali riwayat hidupnya. Layar kali ini dilengkapi sebuah tulisan bagaimana pianis Ananda Sukarlan menemukan serta memainkan kembali partitur-partitur Amir Pasaribu yang berserakan di majalah tahun 1950-an, seperti Zenith, dan memperdengarkan rekamannya di depan Amir.
